Langsung ke konten utama

Pendapat para ahli tentang soal UTS Mtk tanggal 5 Selasa Oktober 2010!

Ahli Biologi:

ternyata sebuah soal ilmu eksakta bisa merangsang saraf simpatik untuk mempercepat denyut jantung, menegangkan urat leher, juga merangsang kelenjar keringat dari dalam dermis untuk memproduksi keringat dingin. Bahkan cerrebelum mendadak terganggu saat mengkoordinasikan gerak kaki dan tangan karena efek menyeramkan dari sulitnya soal tersebut



Ahli Ekonomi:

Nampak sekali mayoritas siswa tidak menerapkan kaidah pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Peluang yang ada malah dipakai untuk memuaskan kebutuhan rohani yang tidak penting, bukan untuk belajar. Inilah dampak dari mementingkan kebutuhan tersier dan mengenyampingkan kebutuhan primer serta tidak memakai skala prioritas. Akibatnya terjadilah kerugian besar pada nilai ulangan. Grafik permintaan tisu akan meningkat pesat karena mewabahnya banjir air mata dan kesedihan .



Ahli Bahasa Inggris:

Soal itu menggunakan 100% murni bahasa Indonesia,bukan bahasa Inggris yang menterjemahkannya cukup menghabiskan banyak waktu per soal. semestinya para siswa tidak terlalu kesulitan dalam mengerjakannya karena soalnya menggunakan bahasa Negara yang mudah dimengerti dan simpel sekali. Bagaimana seandainya soal itu menggunakan bahasa Inggris? No comment



Ahli Geografi:

Ditinjau dari sudut ruangan, jelas tidak ada faktor - faktor signifikan yang logis untuk menjadi alasan sulitnya otak siswa dalam menjawab pertanyaan di soal tersebut. Atmosfir kelas memang agak panas, Jarak satu siswa dengan siswa lain agak jauh sehingga tidak memungkinkan terjadi percontekan dan soal siswa yang sebangku penuh perbedaan lokasi namun ada persamaan isi soal.



Ahli Sosiologi:

rendahnya nilai agama menjadikan para siswa tidak yakin bisa menjawab soal MTK tersebut, padahal di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Jiwa siswa sudah teracuni oleh prasangka negatif akan susahnya soal itu. Hubungan sosial antar siswa tak jarang mendorong siswa untuk berperilaku negatif seperti mencontek atau mudah putus asa saat melihat temannya sudah selesai menjawab soal namun dirinya belum sama sekali.



Ahli Sejarah:

Perlu wawasan sejarah yang luas agar siswa itu mengerti betapa rendahnya semangat mereka bila menyerah saat menghadapi (soal) masalah sekecil itu. Padahal para pahlawan tidak pernah gentar dengan kekejaman penjajah dan maut yang menghadang. Para siswa harus menjadikan kegagalan mereka di masa lampau sebagai pelajaran untuk berhati2 lagi kala melangkah dalam hidup.



Ahli Sastra:

Perlu imajinasi dan pikiran yang panjang untuk mengetahui makna dan arah tujuan dari soal tersebut. Jelas pembuat soal tersebut mempunyai kreativitas tingkat tinggi dalam berdiksi sehingga soal itu terlihat sulit dan tiada berjawaban namun ternyata sarat akan cara untuk menggapai sarinya (?)



Ahli Seni:

Betapa indahnya ekspresi kepanikan siswa yang beraneka ragam meski tiada berirama. Rangkaian suara gaduh bak beraransemen menjadi sebuah komponen nada dari teknik improvisasi. Soal itu telah membangkitkan timbre berupa nada amarah, nada keluh, nada sendu dan sebagainya.Semua bersumber dari pikiran siswa nan kalut dan buntu, yg pada akhirnya dipilihlah jalur seni menggambar ataupun melukis pada kertas kotretan sebagai pengisi waktu



Ahli komputer: ram otak para siswa yang belum diupgrade dgn belajar ditambah lagi dengan OS yang sudah lama tidak di update dengan aplikasi kalkulator yg belum scientific menyebabkan para siswa kesulitan dalam matematika tadi. Fenomena jejaring Facebook kabarnya pula mengakibatkan kemalasan siswa untuk rutin belajar matematika sehingga berdampak kepada tumpulnya otak saat mengerjakan soal itu.



Ahli Fisika:

Adanya tekanan, gaung, dan hambatan dalam mengerjakan soal mengakibatkan nalar siswa yang bergerak lurus berubah beraturan menjadi kelajuan diperlambat. Getaran hebat melanda pikiran siswa - siswi dengan periode dan frekuensi melewati ambang batas. Soal itu memiliki angka - angka penting yang relatif banyak, mengerjakannya seharusnya dengan lengan yang kuasa dan jangan sedikitpun dibuat beban.



Ahli Agama:

Banyak yang mengerjakan soal dengan tidak ikhlas melainkan dengan mengharapkan agar nilainya bagus dan nanti dipuji orang. Mengerjakan soal itu harus dengan hati yang sabar, tidak tergesa-gesa, dan tawakal dahulu sebelum menghadapi UTS MTK tersebut, yakni dengan belajar secara rutin. Dan berdoa sebelum ujian.



Ahli Astronomi:

Para siswa banyak yang tidak bisa mengerjakannya dikarenakan kebiasaan mereka belajar Sistem Kebut Semalam alias instan. Padahal bumi saja diciptakan secara berangsur2 dan tidak secara spontan atau instan. Pantas saja mereka bingung mengerjakannya ibarat otak mereka telah terhisap lubang hitam.

Komentar

  1. "rendahnya nilai agama menjadikan para siswa tidak yakin bisa menjawab soal MTK tersebut, padahal di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan." <------------ realitas sosial

    "Hubungan sosial antar siswa tak jarang mendorong siswa untuk berperilaku negatif seperti mencontek atau mudah putus asa saat melihat temannya sudah selesai menjawab soal namun dirinya belum sama sekali" <-------------- masalah sosial

    BalasHapus
  2. Yap yap, Ulangan sosiologi Anda nampaknya bernilai bagus

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…