Langsung ke konten utama

Pertanyaan yang Terngiang Kala Ane Nonton Big Brother

  1. Mengapa orang-orang di sana ngomongnya lambat amat alias jedanya panjang, kayak ga normal gitu…? 
  2. TV di ruang tengah kok ga pernah disetel? Pajangan doang ya? 
  3. Kenapa orang di sana mau aja curhat sama Big Brother, udah tau bakal ditonton sama banyak pirsawan? Kok gada malu – malunya barang sedikit? 
  4. Shalat Jum’atnya kapan? Dan di mana? Apakah nonis semua? 
  5. Apakah persediaan makanan dan air di sana bisa bertahan sampai 100 hari dan tidak basi? Pakai pengawet macam apa? Jika diganti seminggu sekali, diganti sama siapa? Bukankah mereka ga boleh berinteraksi sama orang luar? 
  6. Lokasi rumah Big Brother terdapat di perumahan mana? Apa Cuma kamuflase di studio TransTV? 
  7. Apa perbedaannya sama acara “Penghuni Terakhir”? 
  8. Kenapa ane masih sering nonton acara ini?

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…