Langsung ke konten utama

Surat Untuk Kemendikbud (Program Sekolah Lima Hari)

Kepada Kemendikbud yang terhormat,

Jika boleh kita beradu argumen, inilah pendapat saya mengenai kebermanfaatan program sekolah lima hari, sekaligus kekhususan hari sabtu sebagai hari ekskul dan pengembangan  minat bakat.

Pertama, jika kami sebagai sekolah negeri diberi kebebasan memilih program lima hari. Insya Alloh gangguan terhadap kegiatan belajar mengajar akan terminimalisir, karena liburnya hari sabtu bisa dijadikan ‘wadah’ untuk acara khusus sekolah atau dari pihak luar yang akan memotong KBM jika diterapkan program enam hari.

Kedua, hari minggu adalah hari bagi pelajar untuk berbakti kepada orang tuanya setelah belajar dan berkegiatan full di sekolah selama enam hari, sehingga hari Minggu sangat kurang efektif untuk dijadikan hari pengembangan minat dan bakat siswa atau ekskul. Apalagi esok seninnya siswa sudah harus masuk sekolah sehingga akan mengurangi waktu intermesso siswa, dan bukan tidak mungkin budaya malas belajar dan mengharap libur akan menjamah pribadi siswa.

Ketiga, jika diterapkan program enam hari. Siswa sudah pulang jam 2, dan biasanya siswa malas langsung pulang ke rumah dan memilih keluyuran ke mana - mana menggunakan baju sekolah. Ujung-ujungnya siswa yang bosan hendak berbuat apa, di sisi lain enggan langsung pulang ke rumah, akan memilih untuk coba-coba melakukan kegiatan yang tidak baik atau bahkan mencoreng nama sekolah karena masih memakai seragam saat melakukan kegiatan buruk tersebut.

Keempat, Faktanya walaupun program enam hari memungkinkan siswa untuk pulang lebih awal, kebanyakan siswa tetap saja pulang ke rumahnya sore hari atau bahkan malam, dengan alasan:

•    ada les jam 5, sehingga siswa malas pulang ke rumah dulu dan memilih langsung ke tempat lesnya dan ‘nganggur’ di luar selama beberapa jam dari pulang sekolah sampai les.
•    Cuaca buruk atau atmosfer siang yg terlalu terik membuat siswa memilih menunggu di sekolah sampai sore
•    Orang tuanya pergi pagi pulang malam, jadi buat apa buru – buru pulang ke rumah? Di rumah juga sering tidak ada makanan. Sedangkan orang tuanya pas Sabtu libur, tetapi anaknya tidak bisa weekend dengan orang tuanya, karena sabtu masuk!

Kelima, waktu pagi sangat baik untuk kegiatan ekskul. Sinar matahari pagi masih bersahabat dan tidak berisiko menyebabkan kanker kulit, serta terbakar. Udara pagi juga belum tercemar polusi kendaraan sehingga baik untuk acara ekskul yang berbasis olahraga di luar ruangan. Oleh karena itu dibutuhkan satu hari khusus untuk ekskul, tetapi bukan hari Minggu berdasarkan poin ke-2. Selain itu apabila Sabtu sore dijadikan waktu untuk ekskul, kegiatan akan mengalami banyak gangguan karena orang tua mungkin punya acara keluarga dengan anaknya pada waktu – waktu tersebut.KBM Sabtu pagi juga sudah terlebih dahulu menguras energi dan pikiran siswa untuk melakukan kegiatan ekskul di sore hari.

Keenam, banyak instansi – instansi yang mengadakan acara positif seperti seminar, kajian, atau program ‘real action’ pada hari Sabtu pagi. Jika Sabtu bebas KBM, siswa yang notabene adalah generasi muda bisa berpartisipasi aktif dalam program  instansi itu, dan bisa membentuk karakter siswa serta membangun peran dan pengalaman siswa di masyarakat. Sayang sekali jika siswa hanya berkutat dalam teori saat KBM tanpa ada waktu untuk melakukan praktik NYATA, melalui program-program gratis maupun ber-biaya dari instansi tersebut.

Ketujuh, Banyak siswa mengeluhkan energi mereka terlalu diforsir untuk menjalani kegiatan KBM penuh selama enam hari. Mereka mengharapkan 1 hari untuk mengembangkan minat dan bakat mereka dalam ekskul dan ormas, dan 1 hari lagi untuk berkumpul bersama keluarga.

Kedelapan, Jika kita melihat sekolah – sekolah yang telah menerapkan program sekolah lima hari. Dapat dilihat bahwa siswa – siswanya mampu aktif dan berprestasi tidak hanya dalam akademik atau olahraga namun juga dalam berorganisasi di masyarakat, dan berpartisipasi dalam kegiatan positif untuk negeri ini yang diadakan oleh lembaga-lembaga . Walaupun KBM 5 hari cukup padat dari jam 7 sampai sore, prestasi akademik mereka tidak turun, hal itu membuktikan program 5 hari cukup efektif dan berhasil untuk dilakukan.

Komentar

  1. coba bener bener dibaca sana "kemendikbud"

    BalasHapus
  2. Apa daya, udah semester terakhir Gw di SMA, membuat Gw tertunduk, "Kenapa post ini ga nongol dari dulu biar bisa disebar di kaskus, lintas berita, dll. biar didengar..."

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…