Langsung ke konten utama

Tidak Cepat Puas atau Sulit Bersyukur?


Anda – anda yang masih sekolah, dan juga saya pasti deh pernah sekali saja banding-bandingin  nilai sendiri sama orang lain. Habis liat , kadang nyengir karena nilai sendiri lebih gede, seringnya cemberut karena nilainya ternyata ga spektakuler amat, bahkan kalah jauh di bawah nilai si ‘itu’. 

 Terus sesekali mengumpat keras “Aduh nilai gua jelek, atau kecil amat ya, bete hasilnya ga memuaskan.” Ternyata ada seorang teman di samping Anda sedang berusaha menabahkan hati karena sadar nilai Anda, yang mengumpat,  lebih besar daripada nilai yang ia peroleh. Pernahkah Anda atau saya sendiri menyadari betapa sakitnya orang-orang di bawah kita?  Mendengar pengklaiman ‘jelek’ atau ‘ hina’ terhadap nilai kita sendiri yang ternyata belum seberapa buruk bila dibandingkan mereka yang lebih malang itu?

Memang tiap orang punya standar terhadap hasil terbaik yang bisa mereka peroleh,  akan tetapi waspadalah jika standar diri yang tinggi itu membuat kita menjadi orang yang kufur nikmat, lupa bahwa hasil kita yang ‘segitu’ tuh ternyata sudah merupakan nikmat, bagaimana kalau lebih buruk dari ‘segitu’ ? Tidak mencapai SKBM misalnya? Atau bahkan nol sama sekali. 

Boleh saja punya mental yang tidak cepat puas kepada potensi diri, sehingga kita akan selalu berusaha mengembangkannya. Namun, kurang pantas rasanya jika dampaknya kita malah sulit mensyukuri kelebihan diri, dan luput dari nikmat-nikmat yang senantiasa diberikan oleh-Nya

Jika sulit bernafas lega saat melihat mereka yang selalu ada di peringkat atas, mungkin alangkah baiknya jika kita bersyukur masih bisa berada di posisi  sekarang ini, yang tidak buruk – buruk amat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…