Langsung ke konten utama

Sudah 17

Hari itu sudah lewat, sudah 17 tahun.
Gua pribadi masih bingung dalam menentukan jati diri, ke mana gua akan menjadi, jalan apa yang akan dipilih. Padahal usia ini semakin lanjut, ambigu, semakin bertambah tetapi juga berarti semakin berkurang. Kesempatan gua meraih pahala dan memaksimalkan hidup ini sudah berkurang sebanyak 17 tahun. Namun, yang gua raih selama 17 tahun itu, sepertinya masih biasa-biasa saja.
Tak ada gebrakan baru, tak ada perubahan signifikan. Labelling mereka terhadap diri ini masih sama.
Sosok yang belum dewasa.

Ke depannya akan ditentukan oleh langkah gua sekarang ini,
jadi anak kecil bertampang tua,
atau jadi pribadi dewasa yang semangatnya setangguh anak kecil kemarin sore.
Namun, bagaimana seharusnya perubahan itu terjadi? Masih samar dan suram.




Komentar

  1. ciee mahen sering galau yeuh nyahaha~

    BalasHapus
  2. waktu kelas X betapa sombongnya gua yakin kalo Galau tuh ga mungkin bisa hinggap di diri gua
    tapi pas gua ngerasain sendiri dan mempunyai sebab untuk itu, Galau itu jadi makanan sehari-hari hoho

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…