Langsung ke konten utama

Bogor Banjir, Jakarta....?


Tenggelam, yah hal itulah yang membuat ane bersyukur kota Bogor insyaAlloh ga akan kebanjiran (hmm mungkin untuk saat ini). Jangan berharap ada solusi yang akan terpancar ketika membaca postingan ini, ane hanya ingin meluapkan syukur tak berhingga karena sampai saat ini jalanan depan rumah cuma digenangi becekan lumpur, bukan luapan air dari Cidepit maupun  Cisadane.

Jakarta banjir, terlihat sangat mainstream memang, "Ah mereka kan sudah biasa kebanjiran."
Lebih dari itu gan, bayangkan gimana rasanya mereka tiap 5 tahun selalu dihampiri ketakutan dan prediksi ketidaknyamanan karena banjir yang selalu datang saat curah hujan di Indonesia sedang tinggi-tingginya. Coba ga usah jauh-jauh, bayangkan saja septik tank, got depan rumah yang penuh bakteri anaerob fakultatif atau obligatif berbahaya dan baunya cukup menusuk hidung, sama bak sampah yang ada tulang ikannya, pas banjir datang semua itu bercampur menjadi lautan air kotor yang menjijikan, dan masuk ke kamar tidurmu. Cukup miris, sudah begitu saat air sungai meresap ke ribuan stop kontak, otomatis pasti aliran listrik dimatikan, sudah barang tentu mereka tidak akan sempat membaca postingan blog ini saat banjir kecuali menggunakan laptop bermodem #naon

Belum lagi banjir yang datang di saat yang tidak tepat,  di saat liburan dan pergantian tahun! Ketika orang - orang seharusnya bisa istirahat sejenak dari kesibukan pekerjaan mereka, bisa membersihkan rumah dan seisinya untuk awal tahun baru yang lebih baik. Boro-boro melakukan itu semua kalo mereka harus mengungsi ke tenda - tenda di tempat yang lebih tinggi sementara pekarangan dan rumah mereka terendam oleh air banjir yang sekali lagi, menjijikan. O ya satu lagi kebutuhan yang sangat vital yang tidak bisa dihindari sebagai manusia pada umumnya, defekasi dan BAK, menjadi dua hal yang sangat terganggu ketika kloset di WC dengan berat hati harus kelelep juga,

Tidak hanya itu, pasca banjir pun mereka juga akhirnya memiliki 'PR Ekstra' untuk membersihkan rumah yang kotor, dan itu tadi, membersihkan sebersih-bersihnya WC yang entah sudah sekacau apa kondisinya.
Bahkan imajinasi penulis belumlah sampai untuk membayangkan dengan alat dan bahan apa mereka bisa membersihkan 'kekacauan' yang diakibatkan oleh genangan air sungai. Mungkin kapan-kapan bisa survei.

Semoga Pak Jokowi bisa secepatnya menemukan solusi atas masalah banjir yang dialami warga Jakarta.
Eh omong-omong tentang banjir kiriman itu, bukannya masyarakat Bogor juga bisa berkontribusi? Kalo tidak salah ada komunitas peduli Ciliwung yang sudah berkali-kali mengajak warga kota  untuk beramai-ramai membersihkan kali. Anda yang di Bogor mau ikut bantu?
















Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…