Langsung ke konten utama

Brainstorming Judul Kartul

Pengaruh Pengajaran Bahasa Indonesia terhadap Gaya Bicara Siswa di Masyarakat

Dampak Penggunaan Situs Jejaring Sosial sebagai Tempat Curhat

Daya Tangkap Siswa dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

Penelitian mengenai Cara Meningkatkan Memori Jangka Panjang

Dampak Nilai Buruk Suatu Pelajaran terhadap Antusias Siswa di Pelajaran Tersebut

Dampak Ujian Nasional yang Dijadikan sebagai Parameter Seleksi Masuk PTN

Hubungan  Onani terhadap Daya Ingat dan Daya Serap Pelajar

Dampak Pacaran terhadap Prestasi Belajar Siswa

Pengaruh Intensitas Shalat Malam terhadap Prestasi Belajar Siswa

Perbandingan Prestasi Belajar Penghapal Al-Qur'an dengan yang Bukan

Penelitian mengenai Manajemen Emosi Ketika Menjalani Ujian

Air Putih dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Belajar

Pengaruh Gaya Mengajar terhadap Prestasi Belajar Siswa

Pengaruh Pola Makan terhadap Stamina










Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…