Langsung ke konten utama

Ketakutan terhadap Hal yang Belum Pasti

Perubahan semestinya disikapi dengan sambutan gembira. Keberlanjutan seharusnya dipersiapkan dengan persiapan yang matang dan siap siaga.

Namun, akhir - akhir ini justru ane diliputi rasa takut kurang berdasar terhadap perubahan itu. Salah satunya adalah ketakutan akan kenaikan harga suatu produk yang selama ini jadi favorit Lihat saja, betapa tiap lebaran tiba harga-harga mendadak naik dan sangat jarang untuk turun kembali setelah melambung tinggi. Ketakutan terhadap kemungkinan terjadinya perubahan harga menyebabkan ane menjadi sangat freak terhadap produk tersebut, timbul rasa ingin mengkonsumsi produk itu sesering mungkin sepuas mungkin sampai pada akhirnya harga produk itu naik. Merugikan kocek  memang, juga menggeser skala prioritas pula.

Keberlanjutan, ini soal jenjang yang sama sekali berbeda dengan tingkat sekolah. PTN, mendengar orang lain berkata bahwa di jenjang ini pelajar kebanyakan akan bersifat dingin, individualistis, dan menurunnya tingkat empati serta simpati, non-proteksi, rasa takut jenis kedua muncul. Ketakutan tidak bisa beradaptasi, dan tergerus kuatnya arus perubahan sistem itu, membuat ane tidak ingin cepat-cepat menyongsong hari esok, dan mencoba memuaskan masa - masa terakhir putih abu dengan memperlambat waktu.

Bagaimana menyikapi ketakutan terhadap hal yang belum pasti itu? Yakni dengan menyibukkan diri dalam kesenangan dan kecerahan hari ini, niscaya saat perubahan buruk itu memang terjadi sesuai dengan yang kita prediksikan, energi positif dari pemuasan diri kita pada hari ini akan membuatnya menjadi lebih ringan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Bermalam Ala Gelandangan di Ibukota

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …