Langsung ke konten utama

Kiamat Besar yang Mereka Risaukan

Mengapa orang lebih suka merisaukan hal yang belum pasti, ketimbang mengusahakan hal yang sedang ada di depan mata.

Ngobrolin kapan terjadinya akhir dunia? Buat apa?  Toh mau besok, mau lusa, mau tahun depan, mau beberapa tahun lagi, atau berabad-abad lagi bukankah ada yang lebih penting daripada kiamat dunia, yakni kiamat kecil yang kerapkali kita lupakan?

Jangankan kiamat besar yang meluluhlantakan seluruh dunia langit dan bumi beserta isinya, kiamat kecil yang kita kenal dengan nama kematian pun tak pernah kita tahu kapan datangnya. Bukankah lebih baik memfokuskan dan mengintropeksi diri telah siapkah bila saat itu datang? Saat di mana kita dituntut atas segala amal yang kita kerjakan dan menuai apa yang kita perbuat, sesederhana itu. Ketimbang menimbang-nimbang mengenai waktu terjadinya kiamat besar.

Jika kita lebih khawatir terhadap kiamat besar daripada kematian, kok bisa? Bukankah pada hakikatnya sama - sama meninggalkan dunia fana ini? sama-sama menghadap Sang Pencipta dengan kemungkinan kembali dengan rahmat-Nya atau malah kemurkaan-Nya (Naudzubillahimindzalik).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…