Langsung ke konten utama

Memilih Bumi

Dahulu gua mantep memilih Bumi Makara sebagai tanah yang akan dijejaki. Alasannya karena pulang pergi gampang, mau ke Bandung deket, mau beli buku bekas di Kwitang tinggal turun di Tebet dan nyambung ke Senen, mau balik ngecek rumah juga gampang banget,  tinggal naik Commutter Line yang harganya 9000
Terus gua tertarik kepada Bumi Ganesha karena gua liat TPB nya oke, tingkat tiga makulnya luas, diakui sama pihak luar, dan seterusnya, apalagi gua denger anak - anaknya dikondisikan doyan berkompetisi dan belajar, beda sama anak makara yang sangat aktif berdemo dan berorganisasi di ibu kota.
Dan sekarang gua jadi melirik ke Bumi Sendiri, tepatnya Bumi Pertanian. Di hari Jum'at ketika presentasi itu datang, mata gua terbuka terhadap segudang inovasi yang ada di kampus tersebut. Namun, gua juga sebenarnya bosan jika langit Bogorlah yang harus selalu kutatap selama menuntut ilmu.

Inikah yang namanya mereka sebut galau itu? Ingin meraup semua dengan rakus dan berakhir pada satu kenyataan : keharusan memilih satu saja.

Jika gua lebih teliti lagi dan memilih:

 FTI ITB
Gada keraguan di dalamnya. Alasannya satu, gua pikir ini adalah sekolah yang lingkup ilmunya paling luas. Sangat cocok bagi mereka yang enggan mengotak-ngotakkan skill dan ilmu serta masih berkesempatan untuk menjadi spesialis jika pintar memilih minornya. Selain itu banyak juga mahasiswa berprestasi yang lahir dari sekolah ini.
  • Konsekuensi memilih ITB adalah gua harus ngekos di Kota Kembang, jauh dari orang tua yang sudah berambut putih, dan fokus terhadap perkuliahan. Lebih dari itu, ada ngga ya kosan yang punya WC seluas di rumah gua? Kalo bisa harganya tetep murah.
  • Baru kemarin gua melihat tweetnya A Arfie tentang anak FMIPA ITB yang hilang entah ke mana setelah diikuti oleh orang tak dikenal.
  • Gua jg masih mikir kalo TPB dan beberapa fakultas lain di Jatinangor, bakal selonggar apa hubungan angkatan dan inter-angkatannya.
  • Kata Ivan, biaya di Bandung juga memerlukan uang tidak sedikit, mending di Jogja kalau mau merantau sekalian.
 Teknik Kimia UI
Setelah bertanya cukup banyak terhadap alumni dan kakak kelas yang memasuki jurusan ini, gua mantep buat memilihnya (awalnya). Namun, kakak gua menggoyahkan pendirian dengan mengatakan bahwa teknik di ITB jauh lebih oke dan lebih menyarankan untuk masuk FE saja kalo beneran mau masuk UI. Sayangnya gua gada minat belajar ekonomi doang, gua pikir gua masih keranjingan sama hal-hal yang berbau IPA, terutama eksperimen. Membandingkan tekkim dengan FTI, terlihat jelas perbedaannya, dan memang akhirnya gua prefer ke FTI.
  • Dengan memilih UI maka lu ga akan bosan dengan langit Bogor, kalo bosen pulang pergi dan tatap muka sama ortu tinggal ngekos, kalo rindu dan khawatir ya tinggal pulang. Terus kalo bosan sama perkuliahan tinggal aktif berorganisasi dan ikutan berpartisipasi di ibukota. Kalo gerah sama panasnya Jakarta tinggal nyebur, kan ada danau #naon
  • Kalo soal transportasi pasti ga bakalan bingung, tinggal naikkin kaki, duduk di gerbong adem (ber-AC), dan turunin kaki.  
  • Mau tahu apa yang anak IPS pelajari?  Tinggal ambil makul tingkat universitas. Pokoknya kalo pingin fudul anak sosial tinggal nyusup ke kelas mereka aja.(?)
  • Mau baca buku sambil minum kopi? Tinggal melipir ke perpus UI yang bentuknya entah seabsurd apa. Di sampingnya (atau di dalamnya) kan ada Star B*cks. Mau ngenet tinggal pake wifi.
  Fateta IPB
Presentasi Jumat itu mengubah segala paradigma buruk mengenai IPB. Tersadarkan bahwa alumni dan mahasiswanya cukup inovatif dan berkontribusi terhadap kemajuan produk lokal Indonesia, dan gua berkata "Ini gua banget." Terbayang kalo gua jg bakal ikutan kreatif dan nemuin inovasi baru di dalamnya, mudah-mudahan ini bukan efek kulit (keadaan minor yang dibesar-besarkan).
  • Memang sih kemacetan parah yang terjadi di antara pertigaan ke arah Bubulak dan ke arah Ciapus sudah bukan rahasia umum, apalagi jam -jam pulang pergi mahasiswa, jadi konsekuensinya gua harus bersabar berlama-lama di angkot, atau naik motor.
  • Petir di kampus ini cukup cetar membahana menggelegar pokoknya, mungkin faktor banyaknya pohon besar dan tinggi di sini.
  • Gua udah sering ke kampus ini, entah dalam rangka ikut PSN, main ke rumah Vigil, rihlah DKM, atau sekadar ikut kegiatan Imago, pasti kesan jenuhnya bakal selalu kerasa.
  • Biaya hidup jadi lebih kecil karena kuliah di kota sendiri, tetapi  kalo ga rajin ikut lomba ke luar ataupun kegiatan lintas budaya yah wawasan dan relasinya bakal seluas Bogor doang.
  • Kesolidan angkatannya sepertinya cukup erat mengingat tingkat 1 harus masuk asrama, dan letak antar fakultasnya cukup berdekatan.
Salah ya kalo gua banyak pertimbangannya? 

Komentar

  1. kenapa ga teknik industri UI aja hen?

    kuliah di mana aja sih yang penting kitanya dulu. kalo kita ada di jurusan bergengsi tapi ga bisa ngikutin ya sama aja bohong, nanti malah keseret-seret. mendingan di jurusan dan di tempat dimana kita merasa nyaman dan bisa berkembang di situ #in my opinion loh

    BalasHapus
  2. Kurang tertarik sama matkulnya mir, kurang memuaskan 'dahaga' hehe

    setuju mir, tapi emang gua dari awal tidak milih karena alasan bergengsi, lebih ke kelengkapan fasilitasnya, dan keluasan matkulnya. Soalnya gua suka bosen kalo belajar itu-itu aja. Butuh jurusan yang pelajarannya variatif, dan juga bisa dikembangkan supaya wawasannya luas dan nyambung ke mana aja.


    Jurusan yg nyaman? Hmm kayaknya pilihan gua udah cukup aman buat galau minat hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…