Langsung ke konten utama

Sedikit Etiket Ketika Chat di Facebook dan Semacamnya

1. Pertama, biasakan ucapkan salam terlebih dahulu. 
Sedikit banyak ucapan salam ini  akan membuat  si lawan bicara merasa lebih dihargai atau paling tidak kita bisa ngecek dia sudah off atau belum (dengan dia menjawab atau tidak). Kan ga enak kita udah capek2 ngomong banyak atau nyapa, jawabannya cuma tanda offline.

2. Kalau ingin mengobrol panjang, tanyakan apakah dia sedang sibuk atau tidak.
Biasanya ada aja orang yang sedang punya tugas paper segudang, tetapi dengan kebesaran hatinya ia tetap melayani orang untuk mengobrol. Nah, untuk jaga-jaga supaya kita ga jadi 'pengganggu', ada baiknya kita tanya dulu mengenai kesibukannya.

3.  Mulailah obrolan dengan sedikit basa-basi yang wajar.
Mengapa harus wajar? Supaya gada perasaan ilfil di antara kedua belah pihak atau muncul anggapan yang engga-engga. Mengapa harus basa-basi? Kalo to the point biasanya orang kurang greget buat nanggepin kita. Lain halnya apabila kita ngobrolin yg dia senengin, terus mengalihkan ke maksud inti pembicaraan kita sebenarnya.


4. Jangan menggunakan tulisan alay maupun bahasa planet yang tidak semua orang mengerti maksudnya
Orang akan kesal sendiri kalau harus translate satu- satu tulisan ataupun bahasa aneh yang kita gunakan. Ujung-ujungnya hanya jawaban "Hah?" , "Maksud?" , "Apaseh" yang terlontar dari si lawan bicara dan pembicaraan menjadi tidak nyaman lagi.


5. Jika ingin meninggalkan obrolan sebentar, gunakan kode BRB (Be Right Back / Segera akan kembali) , atau minimal memberitahu terlebih dahulu.
Yah kasian aja kalo dia nanya, terus ga kita jawab-jawab karena kita gatau kalo dia nanya, padahal mah kita lagi ke belakang sebentar.


6.  Jika ingin off, beritahu lawan bicaramu.
Alasannya khawatir kalau si dia di ujung sana masih ingin melanjutkan pembicaraan lebih jauh, tetapi malah jadi ngerasa diharkosin karena tiba-tiba kita off tanpa heh, engga, hoh engga.


7. Sisipkan emoticon, kata "Hahaha", dan semisalnya jika ingin bercanda atau jika suasana memungkinkan lawan bicara untuk tersinggung, merasa khawatir, merasa kaku, dsb.
Ada aja orang yang perasaannya rapuh banget, diem sedikit dikira marah, lama jawab sedikit dikira males melanjutkan obrolan. Nah, supaya obrolan menjadi hangat dan gada prasangka kayak gitu, ada baiknya disisipkan humor sedikit atau paling engga emoticon senyum.


8. Balas pertanyaan dari lawan bicara dengan sepantasnya.
Jawaban satu kata saja akan mengindikasikan kalau kita tuh orang yang males banget buat nanggepin pertanyaan atau pernyataan orang. Orang akan merasa dihargai kalau kita menjawab dengan jawaban yang tepat sasaran, efisien, sekaligus beres.


9. Jika sedang tidak ingin mengobrol, tolaklah dengan halus, jangan didiamkan.
Kesannya kita jadi sok penting banget kalo nolak buat ngobrol  cuma pake tanda offline aja, tetapi juga jangan serta merta menolak dengan kasar. Bisa kan kalo kita bilang lagi banyak tugas, lagi ga fokus ke FB, atau lagi ngerjain sesuatu di internet. Pinter-pinter aja kita ngeles wkwk.


   

Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…