Langsung ke konten utama

Wawancara Informal di Sela-Sela Try Out*


Jadi,  ceritanya gua udah duluan ikut TO Bahasa Indonesia dua jam lebih awal, sedangkan temen gua yang tak perlu disebutkan namanya baru mulai TO jam 4.30. Mulanya tidak ada yang aneh selain karena gua males pulang lebih awal. Kan biasanya juga hari Senin pulangnya  malem kalo ga lagi TO dan bimbel Nurul Fikri saja. 

Akhirnya gua malah masuk ke kelas temen gua, berhubung males pulang dan gada kerjaan. Gua liat ada yang aneh, kok kayaknya temen gua eksklusif TO sendirian di ruang itu yang pengawasnya seorang mbak-mbak berkacamata. Yang lain pada ke mana? Mungkin udah emang niat pada mau susulan aja kali. Hmm.  Perlu diketahui teman gua laki-laki, dan agamanya lumayan kuat banget. Akhirnya gua inisiatif nemenin dia dan mbak itu (ceilah). 

Nah, awal-awal di ruangan itu gua cuma ngerjain soal dari buku 1001 Soal Kimia yang sengaja gua bawa. Sejurus kemudian karena ngidam bubur ayam pake pangsit di Paledang, akhirnya gua pamit dari ruang itu dan makan bubur (bagian ini tak perlu dibahas).  Hari masih sore, dan gua putuskan balik lagi ke NF karena bosen dan masuk ke ruang itu lagi yang kemudian disambut dengan sorot bola mata keheranan.

T: “Hen, ga pulang hen?”
S: “Males masih sore, kan kalo besok ga ada alasan buat pulang malem lagi, wong gak les hehe.”
Temen gua yang lagi ngerjain TO B. Indo hanya bisa tergelak.

Oke, suasana kembali hening dan kondusif antara gua, temen gua, dan mbak pengawas.

Sampai akhirnya gua kepikiran buat nanya-nanya soal kuliah ke mbak itu, gua tau betul orang yang kerjaannya ngawas doang pasti bete setengah mati. Kebetulan mbak itu lulusan S1 jurusan Biologi Unpad.

S : “Mbak kalo jurusan Biologi cuma belajar Biologi aja?”
M: “Kalo untuk semester 1-2  kakak belajar fisika dasar juga, kimia dasar juga. Pokoknya sedikit mirip SMA lah. Ga cuma Biologi aja. Nah, kalo udah tingkat 3, baru deh fokus ke Biologi aja yang notabene cukup luas. Kemudian tingkat selanjutnya ada penjurusannya lagi yang lebih dalam di Unpad seperti Ekologi, Mikrobiologi, dan Taksonomi.”
S & T : (langsung eneg denger penjurusan Taksonomi, tentu banyak nama-nama spesies yang perlu dihapal.)
M:” Kalo saat saya kuliah S1 dulu di Unpad masih Biologi umum, tapi ketika udah mau bikin skripsi ternyata difokusin juga atau lebih tepatnya matkul minor kita menentukan kita cenderung ke bidang apa. Kalo kakak waktu itu mikrobiologi. Begitulah, S1 masih lumayan luas, kalo S2 baru deh  kakak lebih fokus belajarnya dan mempelajari kayak bioteknologi, bioinformatika, dsb.
S:”Bioinformatika? Kayak TIK gitu?”
M:”Bukan, sama sekali bukan TIK. Di matkul itu kita mempelajari  terjemahan informasi DNA dan sebangsanya, serta kita juga mempelajari statistika dari data pengkodean DNA. “

S: “Ooo. O iya Mbak gimana caranya ngapalin Biologi yang ilmunya luas banget, dan tiap bab materinya banyak  juga?”
M: “Kalo kakak lebih ke memahaminya dan membacanya berulang-ulang, walau emang dasarnya Biologi ya menghapal. Tapi kita juga belajar Biologi dengan gambar kok, jadi kayak seperti anak TK, belajar menggambar. Kita disuruh menggambar misalnya anatomi tumbuhan dan dengan sendirinya kita bisa mengingat materi tersebut. Seru kok, makanya masuk Biologi.”
S:”Tapi saya udah milih .”
M: “Oh milih Biologi?”
S:”Bukan, bukan yang Biologi justru hehe…”
M: (tertawa renyah)
S:”Mbak beda kedokteran sama biologi itu sendiri apa ya?”
M:”Biologi itu lebih fleksibel bisa ke mana aja kayak ke ekologi, kesehatan masyarakat, pangan, dsb. Orang kedokteran juga suka kok ngejadiin orang biologi sebagai asistennya, kedokteran emang banyak belajar dari Biologi, kalo di Unpad mereka juga praktikum di Laboratorium Biologi.”
S:”Tuh denger *sensor nama* !!! (bicara ke temen gua yang sedang TO) Kedokteran belajar ke Biologi, hehe.”
S: “Agak sedikit menyimpang nih mbak. Gimana sih cara dosen atau mahasiswa melakukan pembelajaran. Kan sekali pertemuan satu bab langsung abis. Bukunya tebel-tebel gitu. Pasti bingung mana yang bakal keluar di ujian atau mana yang esensial.”
M:”Memang ada kenalan kakak di luar negeri yang mengaku kalo kuliah di Indonesia tuh sulit banget. Kalo dosen di Kenya cuma memberikan poin-poin selebihnya dijabarkan oleh mahasiswa itu sendiri, sedangkan kalo di sini seluruh isi bab dibahas semuanya. Tapi tenang aja kalo kuliah pasti bisa kok. Perhatikan apa yang dosen sampaikan maka pasti itu yang akan diujikan, ga usah memaksa diri buat membahas seluruh isi buku. Kita tidak mungkin mencatat keseluruhan apa yang dikatakan dosen. Oleh karena itu, bisa menggunakan metode rekaman.”
S:”Ntar pada  gini semua dong (gaya tangan memegang HP yang umum sebagai alat perekam). Apa dosennya tidak tersinggung?”
M:” Ya, baiknya minta izin dulu ke dosennya. Kan ada mahasiswa yang cuma tahan mendengarkan penjelasan dosen selama 15 menit. Jadi, perekaman kemungkinan diperbolehkan selama minta izin terlebih dahulu. Dosen ada yang tidak terlalu peduli dengan mahasiswanya, ada juga yang suka mendrill/mendikte mahasiswanya dan ujiannya kemungkinan menjadi text book.
S:”Nilainya paling jelek di ulangan yang dosennya mendikte dong hehe, kalo beda sedikit disalahin.”
M:”Iya hehe.  Lalu, ada juga yang dosennya memberikan materi di slide, tapi dia gamau ngasih copian slidenya. Pokoknya mahasiswanya harus terus ngeliat slide itu agar gada yang terlewat.”
S:”Wah ga enak dong, gambar slide apanya yang bisa direkam hehe.” (Yah difoto atuh hen)
(Merasa tertarik dengan perbincangan antara gua dengan mbak pengawas, temen gua ikutan nimbrung.)

T:”Mbak kuliah tuh yang bikin sibuknya apa sih?”
M:”Kelihatannya matkul-matkulnya memang sedikit, bahkan untuk tidak hadir pun saat kuliah juga kadang tidak mengapa, tetapi perlu diketahui bahwa yang paling berat itu adalah praktikumnya. Kegiatan praktikum bisa berlangsung dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, bahkan bisa juga pada malam hari seperti pada praktikum Biologi mengenai observasi terhadap reptil dan ekosistemnya. Kan reptil seperti kadal dan ular aktifnya pada malam hari, jadi kita abis maghrib praktikum ke hutan dan menganalisis kayak misalnya mengapa cuma dua ekor kadal yang muncul di tempat itu dan kemudian dikorelasikan dengan kondisi habitatnya, suhunya, dsb, dan kegiatan itu sering sampai jam 10 malem.”
S:”Nginep dong jadinya?”
M:”Ga nginep, yah abis itu langsung pulang.”
S:(merinding karena tahu betul di Kelor kalo lewat dari jam 10 ojek-ojek udah pada gada, hanya bersisa gerombolan anjing yang berkeliaran)
M:”Nah selain praktikum, antara jeda kelas matkul yang satu dengan yang lain kan sering kali lumayan lama dan lowong. Daripada pulang abis itu balik lagi, sangat tidak efektif, momen itu dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk pergi ke perpus untuk sekadar mencari referensi laporan, atau juga memilih ikut kegiatan ekstrakurikular dan sebagainya. Oleh karena itu, waktu harus digunakan seefisien mungkin. Apalagi kalo sudah tingkat empat ke atas, sibuknya bukan main. Nikmatilah masa-masa semester 1- 3 untuk bersantai ria karena setelahnya bakal banyak tugas atau praktikum yang menyita waktu.”
S:”Oke, Makasih Mbak.”
Pembicaraan berakhir kala temen gua ngumpulin lembar jawaban TO nya. Hohoho...

*Dengan sedikit improvisasi




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Give Up For "Gusi Bengkak"

Anda pernah mengalami ini?
,,,

,,,


Ya, hari ini gua mengalaminya, gusi bengkak mungkin tidak semengerikan tumor dan kanker (naudzubillahimindzalik) , tetapi rasanya sehari bagai neraka kalau keadaan itu terus berlangsung di saat perut kita sudah mulai kelaparan. Loh apa hubungannya?  Jelas saja ada kaitannya, mau gebetan lu ngebeliin kue paling enak sedunia kek kalo gusi di belakang geraham lu bengkak pasti rasanya sama saja, sama tersiksanya, cenah peribahasa mah air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam . Ngunyah dikit, mata kejep kejep karena jendolan janggal yang ikut tergigit menyebabkan rasa sakit yang sangat menganggu kenikmatan makan kita.
Ini bukan kali pertama gua mengalaminya, setahun yang lalu pernah juga dan penyebabnya itu ga jauh - jauh dari yang namanya panas dalam. Sepertinya gusi bengkak yang gua alami hari ini disebabkan abis sarapan gua ga  minum dulu, tetapi malah langsung pergi ke sekolah, udah mah lauknya ikan cabai, udah gitu kemarin abis makan yang pede…