Langsung ke konten utama

Menetapkan Konten

olwin.files.wordpress.com
Belakangan berkecamuk dalam pikiran saya mengenai apa fungsi sesungguhnya dari blog ini. Lagi.
Seorang kakak kelas pernah mengatakan kepada saya bahwa blog adalah tempat membagikan seluruh hal yang kita sukai kepada orang lain. Tanpa peduli apakah orang lain membutuhkannya atau tidak (Well, yang ini bersumber dari pikiran saya sendiri). 

Di lain pihak, seorang teman saya juga mengatakan orang tidak akan begitu peduli terhadap curhatan atau diari pribadi yang kita masukan sebagai konten dalam blog ini. Ya, ada benarnya juga, kecuali kita adalah seorang artis papan atas yang tiap hari segala aktivitasnya menjadi sorotan khalayak. 

Ketika memutuskan untuk mentransformasikan secara total isi blog ini, terlintas lagi betapa yang namanya gagasan dan kreativitas itu tidak mudah dimunculkan apabila kita miskin referensi. Apalagi saat ini saya masih orang yang aktivitasnya biasa-biasa saja. Jarang berpergian, tidak terlalu memiliki banyak buku, dan lebih parahnya lagi, saya masih lemah dalam merangkai kata-kata untuk menulis sebuah tulisan yang mudah dimengerti, terlebih jika harus menyusun kerangka teori. Sungguh masih di bawah standar. Amat berbahaya kalau saya jadinya mengoceh tanpa ada dasar. Bisa-bisa saya diklaim sebagai orang yang ngomong tanpa bukti.

Dan, saya akui bahwa saya masih harus banyak belajar menyampaikan. Dalam artian bagaimana membuat orang mengerti apa yang saya maksudkan, tentu itu baru sedikit langkah awal yang dibutuhkan. Lantas, bagaimana dengan membuat orang tertarik untuk membaca hanya dengan melihat judulnya? Untuk hal itu saya belum bisa berpendapat. Padahal di era modern yang serba sibuk ini, orang sedikit sekali yang sempat untuk membaca seluruh artikel, apalagi jika tidak ada first impression yang menarik minat mereka untuk membaca.

Jadi, saya putuskan saja, seperti biasa saya akan menjadikan blog ini sebagai wadah untuk menampung segala unek-unek, pengalaman, maupun buah karya saya, sekalipun remeh. Sesuka saya. Mungkin konsekuensinya blog ini menjadi tidak terlalu berguna atau penting di mata orang lain. Namun, saya tidak ambil pusing. Woles saja, karena saya membuat blog ini bukan sebagai sarana menjadi tenar atau mencari uang. Lebih sebagai sebuah kesenangan, kalau itu bisa disebut sebagai passion.

Sekali lagi, terserah saya mau menulis apa. Hehe :D


Komentar

  1. gue dulu juga pernah ngegalau nentuin isi blog, hen... akhirnya entri yg ngaco-ngaco sempat gue musnahkan atau ga masuk ke draf lagi. mungkin lu harus nyoba ngotret konsep blog di kertas (gue juga biasanya gitu), bikin list ide mau nulis apa aja atau mau seperti apa identitas yg mau lu tampilkan.

    :)

    BalasHapus
  2. Betul Jen gua jg sempat kepikiran corat-coret di kertas tapi belum sempat terealisasikan hoho. Ntar deh gua coba. Kadang cuma nulis judulnya doang, abis itu ngembangin karangannya tersendat-sendat :P

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…