Langsung ke konten utama

Menjaga Cerita

siliconangle.com
Jadi pendengar cerita orang, curhatan mereka, sisi realita dari mereka, jujur saja merupakan hal yang menyenangkan. Dari situ kita bisa mengambil pelajaran dan pegangan bagaimana seharusnya kita bertindak atau melangkah agar tidak mengalami kejadian yang sama seperti mereka.

Pernah merasa? Padahal hakikatnya pribadi kita tuh ga bijak-bijak amat, tapi kok kadang bisa ngasih jalan keluar bagi orang lain yang berada dalam masalah? Pada saat itu kita yang tidak berada dalam posisinya tentu saja mampu berpikir jernih dan tenang, sehingga terbuka pikiran kita untuk menemukan jalan keluar terbaik dari masalah mereka. Kita sebagai pendengar, tidak diganggu oleh yang namanya karut marut emosi, hanya sebuah logika berpikir. Lain halnya dengan mereka yang sudah kalap dengan masalah yang terjadi.

Terlepas dari itu, ada satu hal yang patut diperhatikan ketika menjadi pendengar curhatan mereka. Menjaga. Ya, banyak yang tidak menyadari bahwa ketika seseorang sudah mengeluarkan seluruh unek-unek dan masalah mereka terhadap kita maka otomatis orang itu mengamanahkan kita untuk menjaga rahasia. Segala hal yang diutarakan, dari detail-detail awal mula masalah sampai akhir, merupakan bagian vital yang harus kita jaga kemanapun kita pergi. Banyak dari kita yang begitu mudah tanpa perasaan dosa menceritakan kembali masalah seseorang itu terhadap sahabatnya, orang tuanya, atau bahkan ke kawan-kawannya yang terkenal doyan mengumbar cerita. Di situlah beratnya menjadi pendengar curhatan orang lain, kecuali orang itu sudah meridhai bilamana cerita itu tersebar dari mulut kita.

Amanah menjaga cerita. Nampaknya cukup ringan bila dibandingkan amanah mengemban tugas menyelesaikan sesuatu atau menjaga barang. Namun, justru amanah inilah yang sangat harus diwaspadai mengingat efeknya yang berdampak cukup besar terhadap nama baik orang tersebut bila kita tak mampu menjaganya. Terlebih lagi apabila kita telanjur mengkhianati rahasia orang tersebut, dan menyesal, maka sulit sekali untuk memperbaiki hubungan dengan orang itu lagi, karena sekali dikhianati seumur hidup tak lagi mau percaya. Menjaga rahasia itu memang mudah, tetapi lebih mudah lagi untuk mengkhianatinya. Camkan!

Lantas apa yang harus dilakukan agar kita tidak menjadi pribadi yang cuih? Biasakan menjaga omongan ketika berinteraksi dengan orang lain. Jangan biarkan kebiasaan asal ngomong seenaknya menjadikan kita mudah keceplosan mengenai rahasia orang lain. Kalau tidak bisa menahan diri untuk membicarakan orang lain bukankah diam itu emas?



Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…