Langsung ke konten utama

Martabak...

wikimedia.org
     

   ADA sebuah kotak di meja makan. Pak Warno merasa kenal isinya, tapi otaknya menolak bekerja sama mensahkan bahwa benar martabak namanya. Ini kali keempat ada penganan kesukaannya itu, selalu Sabtu malam, didatangkan oleh pacar anak gadisnya. Perut sedikit menggolak, ragu harus sekali lagi menerima pasokan. Doyan ya doyan, cuma masalahnya...
        Si pembawa kotak sendiri sudah lama menggondol perawan pergi kencan. Dua bulan pacaran. Atau tiga? Kok ndak ingat ya... Tampang laki-laki muda yang cuma sebentar-sebentar diperlihatkan, sedikit uluk salam sesopannya ketika datang ketika hendak pulang, itu pun bila Pak Warno kebetulan sedang di ruang tengah. Kadang dua sejoli itu pacaran di remangnya teras. Semilir malam sesekali menguarkan tawa lirih anak dara ke dalam rumah.
        Bersemilah kemudian, tanpa pernah dinyana, musim martabak.
        Di depan acara-acara tivi yang cemplang di malam Minggu, di hadapan foto-foto keluarga dan almarhumah istri, isi kotak dikunyah pelan-pelan. Tak ada siapa-siapa. Pembantu sedang sibuk SMS di depan dapur, sebentar lagi pasti nongkrong bersama sohibnya, meneruskan upaya gebet-menggebet sopir sebelah. Pak Warno mikir sendirian: Berapa harga martabak, berapa harga tiket bioskop, berapa bayar restoran, berapa tiket parkir, berapa bensin, dan berapa harga seorang anak gadis.

*april 2005

*Dikutip dari Buku "Vinyet Tatyana dan Cerita-Cerita Kecil Lainnya", tanpa perubahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…