Langsung ke konten utama

Berkunjung ke Gelar Jepang UI 2013

"Maheeen mau ikut ke GJUI ga?"
Tepat pukul 17 lebih 11, Kamis, Fatiya mengirim sms demikian. Ya kenapa tidak? Minggu-minggu ini sangat hampa untuk saya lalui. Bagi seorang mantan peserta SBMPTN 2013 yang telah selesai ikut tes dan sedang menunggui pengumuman, sebuah acara di luar merupakan angin segar yang tak boleh dilewatkan.

"Kapan, boleh aja."
Kemudian Fatiya memberitahukan bahwa ia akan ke UI Sabtu ini. Saya diminta hadir pukul 9 pagi di depan Taman Topi. Di sana saya bertemu Ocha, Cindy, 1 laki- laki asing, 1 perempuan asing, Fatiya, Kapten, dan Galih yang ternyata sedang menunggu mobil sepupunya. Belakangan saya ketahui perempuan itu adalah kakaknya Ocha, dan lelaki itu adalah mantannya Ocha. Oh ya, Niken juga ikut, dan saya risih dengan gayanya yang berpakaian rok tetapi memakai jeans (?) O_o.

Ke sana kami naik Commuter Line, rencananya kami turun di Stasiun UI. Tetapi tunggu? Mengapa Fatiya bilang harga single tripnya 4000? Bukankah ke kota saja yang merupakan jarak terjauh hanya memakan biaya 5000? Bau kelalaian (atau kecurangan?) petugas tiket CL tercium di sini.

Ketika kereta CL berangkat, sungguh sial, baik rombongan perempuan di kereta wanita, maupun rombongan lelaki di kereta umum, sama-sama tidak mendapat tempat duduk. Yah mungkin ini risiko berpergian saat liburan sekolah.

Tak lama kemudian kami sampai di UI. Sebelumnya Ocha telah mengeprint kartu Boarding Pass untuk kami, tetapi sayangnya tertinggal. Akhirnya kartu tersebut difotokopi. Itu bukan sebagai bukti pembayaran untungnya. GJUI 2013 ini digratiskan untuk umum. Boarding Pass digunakan hanya sebagai penunjuk jumlah pengunjung di acara ini.
"Sudah membawa kartu Boarding Passnya? Kalau belum, silakan mengambil dan mengisinya di loket."
Kakak-kakak mahasiswa Sastra Jepang langsung menyambut di gapura GJUI. Setelah kami memberikan kartu itu, kami mendapat koran Halo Jepang, pamflet GJUI, stiker, dan cap di tangan. Di dalam sudah ada stand-stand  untuk melayani pendaftaran berbagai workshop seperti upacara minum teh (Canoyu), foto bareng Yukata, daftar ulang lomba-lomba, dan wahana rumah hantu, serta pembelian merchandise. Terdapat pula selembar kain yang berjudul "How's your holiday" yang telah dipenuhi oleh tanda tangan serta ucapan bahasa Jepang. Di sampingnya ada juga miniatur kota jepang yang dibuat oleh para peserta lomba GJUI.

Kapten penasaran dengan lomba Yu-Gi-Oh yang diadakan di acara ini. Untuk mengikutinya, para peserta harus memiliki kartu originial, jelas saja kapten tidak bisa ikut.  Kebetulan lombanya belum mulai, lalu saya dan kapten berkeliling dan berhenti di sebuah stand penjualan buku Jepang serta pernak-pernik aksesoris bergambar anime. Entah mengapa harga satu item di sana  kurang terjangkau. Uang yang dibawa saya hanya bisa untuk jajan seharian.

Fatiya kemudian mengajak untuk ikut masuk wahana Rumah Hantu. Dalam bahasa jepang sebutannya adalah Obake Yashiki. Lokasinya di lantai dua. Selama mengantre, kami melihat beberapa larangan yang cukup menarik
Dilarang menginjak atau memukul hantu (Denda)
Dilarang merusak properti (Denda)
dan lain sebagainya. Namun, yang paling berkesan menurut saya adalah petunjuk gambar di bawah ini:


Diizinkan

Diizinkan


DILARANG

Yap itu artinya saya dan Kapten ga boleh masuk ke dalam barengan. Kalau mau ya sendiri-sendiri. Dalam hati saya berpikir, "Ini kok kayak melarang homo, tetapi memperbolehkan lesbi ya?" Haha.
Dan kenapa juga harus ada larangan ga boleh menginjak hantu? Apakah memang mereka terlalu bodoh untuk diinjak? Rumah hantunya terletak dalam sebuah ruangan yang jendela-jendelanya ditutupi koran. Sepintas jadi ingat kandang maung yang diperuntukan bagi para peserta regenerasi di sekolah saya, hehe.

Akhirnya, saya masuk ke dalam sendirian. Di dalamnya, saya harus menemukan mata Hina yang hilang. Peduli apa? Siapa memangnya dia, sampai- sampai matanya sendiri aja ga diperhatiin? Satu hal yang bikin saya was-was bahwa apabila kita gagal menemukan matanya, kita tidak bisa keluar. Bujubuneng, gimana kalo matanya itu diselipin di pojok tempat yang gelap, yang ngambilnya itu harus raba-raba dulu, kan repot. Mana saya sendiri di sini?

Untung saja hantunya perempuan, jadi mereka pada jaga hijab dan ga berani megang-megang. Namun, tetap saja pencarian sebuah bola mata sambil dikejar-kejar makhluk halus itu cukup menyusahkan. Apalagi tempatnya gelap. Untunglah saya berhasil menemukan matanya itu di atas meja, bersama mata-mata lain yang gajelas. Mendadak saja  ada tangan yang menarik dari bawah meja. Oh, jadi ini toh maksudnya jangan diinjek. Lalu, saya buru-buru ke pintu keluar, tetapi ternyata para penjaga pintu bilang  matanya harus saya kasih dulu ke si Hina Dina itu, untunglah ga jauh-jauh amat, saya langsung kasih ke wanita berkain putih yang teriak-teriak "Mana mata saya?". Barulah saya boleh keluar.

Ronde ke-2,  Fatiya dan Cindy juga keluar. Saya lihat Cindy masih dengan senyumnya, tetapi Fatiya meringis karena kacamatanya patah akibat dia nabrak tiang. Alamak Fat, segitunya. Ronde ke-3 Kapten dan Niken juga keluar, terlihat Niken lemas dengan rona seperti habis ketakutan, sementara Kapten mengatakan bahwa ia kagum dengan akting hantunya yang bagus, tetapi ia ga berani bilang ke hantunya, ntar malah dikerjain.

Waktu menjelang siang, saya membeli Sumo Steak seharga 22000, dan setuju banget kalau chicken katsunya Bunda seharga 10000 di kantin sekolah lebih juara daripada makanan ini. Saya juga membeli Teh Ocha (Gada hubungannya sama si Ocha), sejenis minuman hijau Jepang yang kental seharga 6000. Kemudian, karena penasaran dengan Okonimiyaki, saya dan Niken patungan untuk membelinya seharga 20000. Setelah diperhatikan, makanan ini mirip telur dadar besar dengan daging asap bertaburkan suwiran ikan Cakalang. Maknyus lah.

GJUI ini juga mengadakan lomba makan, yakni melahap kakigori, sebangsa minuman yang mirip es serut (Bukan makan atuh namanya ya?), tetapi saya tidak menontonnya. Terdapat juga kawasan pohon harapan yang dibentuk dari rimbunan bambu sintetis, dan dipenuhi dengan gantungan kertas warna-warni berisi harapan dan impian para pengunjung GJUI. Agak mirip sebuah lorong dengan gapura tanaman hijau. Lagi-lagi di sini Fatiya ketabrak, untungnya bukan tiang lagi, cuma nyangkut di ranting-ranting pohon tersebut. Di tempat ini pula, saya menggantungkan harapan, yakni supaya bisa diterima di Bioproses UI, menggunakan kertas warna hijau. Saya khawatir kertas itu akan jatuh, apalagi ada tulisan Basmalahnya, karena sepanjang lorong tersebut banyak juga kertas yang berjatuhan dan terinjak-injak. Yakali, mimpi dan harapan saya diinjak-injak.

Usai rehat, kami berpisah lagi. Saya dan Kapten penasaran dengan kompetisi Yu-Gi-Oh dan menontonnya di dalam sebuah ruang kaca. Pertandingan berlangsung khidmat, tiada satu pun penonton yang berkomentar. Saya kurang asyik menontonnya karena tidak begitu paham. Yang saya kagum adalah koleksi kartu original para peserta yang lengkap dan kelihaian mereka bermain, selebihnya saya ingin melihat pojok lainnya dari GJUI.

Lalu, saya dan kapten beserta Yanuar, yang sebelumnya saya bilang laki-laki asing, terjebak dalam situasi menjemukan. "Menunggu para perempuan mengikuti prosesi Foto Yukata". Saking lamanya saya mengemukakan keluhan saya di beranda Facebook.


Senja pun datang, saya dan Kapten kemudian Shalat Ashar di sebuah mushola, yang menurut saya sebenarnya itu bukan mushola, hanya sebuah ruangan yang dibuat hijab. Alas untuk sujudnya hanya dari kertas koran. Toilet yang tidak jauh dari situ dialihfungsikan menjadi tempat wudhu. Miris? Iya. Saya pun penasaran sebenarnya mushola aslinya yg biasa digunakan mahasiswa ada di mana? Atau harus shalat di masjid luar sana? Entah.

Kemudian kami pun pulang dan berjalan menuju stasiun UI. Kecurigaan kami benar, ternyata harga perjalanan UI - Bogor hanya sebesar 2500 saja! Bukan 4000! Oke lain kali harus bayar pake uang pas, daripada ribut sama oknum-oknum tersebut.

Kereta CL datang, keketatannya lebih parah daripada keketatan SBM ITB jalur SBMPTN 2013, bagaimana tidak?  Bahkan sampai ada orang yang hampir terjepit oleh pintu gerbong tersebut. Saya berhasil menyerbu masuk ke dalamnya, tetapi ternyata Kapten tertinggal. Akhirnya saya keluar lagi, kebetulan saya juga bebas pulang jam berapapun.  Untunglah saya tidak duluan karena ternyata perempuannya juga tidak dapat tempat di kereta wanita. Betapa penuhnya.

Kereta kedua sama saja. Ekonomi. Atapnya dari depan sampai belakang dipenuhi oleh gerombolan anak muda yang entah turun di mana dan dari mana. Saya baru ingat ini malam minggu. Waktu yang pas untuk serigala malam dan kupu-kupu malam berkeliaran. Di dalamnya gelap. Sudah cukup untuk membuat kami memilih menunggu kereta berikutnya.

Akhirnya setelah menunggu kereta yang yang tidak pernah sepi, kami mendapati kereta yang cukup mendingan daripada yang lain. Tak pikir panjang lagi, masuk satu masuk semua. Dan pulanglah kami semua dengan obrolan absurd yang mengantar kami sepanjang Depok dan Bogor.





Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…