Langsung ke konten utama

Penyusup

Sedang kepikiran untuk menjadi seorang penyusup di banyak acara yang diadakan oleh beberapa unit atau organisasi. Sepertinya asyik, kita tidak perlu repot2 ikut kaderisasi, rapat, persiapan, atau mengikuti berbagai macam unit, tetapi tetap bisa menikmati dan menyerap ilmu dari acara yang diadakan oleh unit-unit tersebut. Wawasan bertambah? iya. Waktu tetap lowong? iya.

Mungkin definisi terdekat dari penyusup adalah partisipan lepas. Ya, menjadi seorang partisipan lepas dalam berbagai acara unit, tetapi tidak menjadi anggota unit adalah alternatif terbaik jika mahasiswa seperti saya memiliki "interest" terhadap banyak unit. Ngga mungkin kan suka semua, terus masuk semua, kecuali saya amoeba yang bisa membelah diri, atau dugesia yang bisa beregenerasi.



Risiko jadi seorang penyusup atau partisipan adalah kita bakal dicibir atau bisa jadi digunjingkan.
"Ini orang siapa sih? Tiba - tiba ikut, ga jelas banget."
"Wah jangan-jangan intel dari sekolah Sandi negara."
"Pasti ini orang kurang kerjaan."
dan celetukan dengan asimptot miring lainnya....

Keuntungan jadi seorang penyusup juga ada, kamu bisa kepoin info-info dari unit tertentu, dan dijadikan sebagai bahan obrolan bersama teman. Kan seru saat lu dibilang gini....
"Eh lu kok tau aja sih? Kan lu ga ikutan gituan."
"Lu nyeremin abis, tau segalanya."
"Lu tau tentang gituan? Cerita dong, cerita!"

Akan tetapi, percuma aja kalo  kita cuma ikutan acara, lalu ga dapet informasi bermanfaat yang memadai atau penting dari acara tersebut. Istilahnya buang-buang waktu. Kalau kita orang yang mudah lupa, jangan sungkan buat nyatat materi dari acara tersebut, biarin dibilang sok rajin, atau ga penting, dan kata-kata menjatuhkan lainnya, mereka akan selamanya terbelakang, dan kita akan maju karena keterampilan menulis dan mencatat kita terus berkembang. Susah loh nyatet materi secara utuh yang pembicaranya ngomong tanpa koma dan jeda sedikitpun. But wait, kita kan penyusup? Emang mereka kenal kita? Lantas siapa yang peduli?

Buat apa sih ikutan unit, organisasi, atau acara yang gada hubungannya sama passion atau jalan yang sekarang kita tempuh? Gunanya banyak. Mungkin sekarang kita engga tahu faedah dari informasi-informasi yang kita peroleh, tetapi mungkin saja akan ada suatu masa ketika info-info tersebut bisa kita ramu dan manfaatkan untuk kepentingan dan masalah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Misalnya, kita pernah nyusup ke kajian mengenai cara survive di pegunungan yang diberikan oleh KMPA trhadap anggotanya, suatu ketika kita pergi ke Mahameru bareng temen-temen dan gada yang pernah ikut unit pencinta alam. Tiba-tiba kita dan mereka nyasar, untunglah kita pernah ikutan kajian dari KMPA sehingga sedikit banyak kita tahu gimana cara bertahan sampai pihak berwenang nemuin kita, atau kita bisa menggunakan metode cara membaca posisi melalui rasi bintang dengan perbandingan sudut pengamatan dan sebagainya yang kita dapat dari menyusup di kajian Astronomi yang diadakan oleh Himpunanan Mahasiswa Astro, dan akhirnya bisa mencocokan dengan peta dan kemudian menemukan jalan pulang. Itu sebagian contoh.

Selain itu, dengan hanya menjadi penyusup kita tuh bisa bebas milih kajian, seminar, atau acara yang lagi sesuai dengan mood kita. Kalau jadi anggota kudu setia mengikuti dan berkontribusi di setiap acaranya. Jadi penyusup tinggal menikmati acara, kajian, atau seminarnya saja . Haha...

Perlu diperhatikan juga, dalam menyusup kita harus menghindari agenda acara kenal-kenalan dan diskusi bareng. Nanti ketauan dong kalo kita bukan anggota dari unit atau organisasi tersebut. Kecuali emang acaranya buat umum. Tapi gapapa juga sih kalo ketahuan, minta izin aja buat ikutan. Kayak unit olahraga, ga salah kali kalau kita ikutan main bola. Kecuali kalo acara tersebut sifatnya rahasia dan cuma anggota unit yang boleh tau informasinya. Bisa-bisa dibilang mata-mata musuh.

Jadi kalau kalian punya waktu luang, iseng-iseng aja jadi penyusup, misalnya nyusup di mata kuliah Sejarah Desain FSRD, padahal kita mahasiswa Teknik Kimia FTI. Walau ada sensasi tegang tersendiri. Bakal ngerasa sejuta kepala mengernyitkan dahi, menatap penuh curiga, seakan penuh tanya, sedang apa  di sini? Yah itu sih biasa, kalau pingin maju dan beda kenapa engga? Pokonya jangan sampe abis ikutan kita ga dapet apa-apa, cuma buat keren-kerenan buat apa?

Jadilah penyusup yang berguna, bukan partisipan yang cuma ingin buang-buang waktu saja.

#sekian










Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…