Langsung ke konten utama

Evaluasi Postingan Setahun ke Belakang

erinbell1020.pbworks.com

Evaluasi. Sebuah kata yang berarti penilaian, apakah sesuatu itu baik atau tidak. memenuhi target ataukah terdeviasi dari maksud semula. Mengapa saya membuat postingan tentang evaluasi ini? Berhubung sudah akhir tahun, tak ada salahnya kan kita mereparasi apa yang kurang dan menilai hal baik yang bisa ditingkatkan? Maka, evaluasi ini jawabannya. Tanpa basa-basi lagi, cekidot!

Dilihat dari kacamata saya, postingan blog Estafet Kehidupan selama ini....
  1. Minim referensi dan riset
    Saya akui bahwa postingan yang saya buat kebanyakan hanya berasal dari pola pikir saya sendiri. Akibatnya postingan saya terlalu cepat menghakimi instansi atau golongan tertentu tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Hal ini juga berdampak terhadap rendahnya bobot konten postingan yang dibuat, dengan kata lain dangkal dan kurang berisi.
    Solusi : Menetapkan target menggunakan sedikitnya lima sumber referensi dalam setiap postingan yang membahas permasalahan atau isu tertentu.
  2. Masih kurang menarik
    Kurang menariknya postingan yang saya buat mungkin disebabkan saya masih terlalu self-centered, tidak peka terhadap kebutuhan khalayak umum dan lebih berorientasi terhadap keinginan saya sendiri saja. Bagi saya cukup menulis apa yang ada di otak, tidak peduli bumbu-bumbu lain yang dibutuhkan untuk membuat postingan saya nyaman dibaca orang. Selain itu, wawasan dan vokabulari saya yang kurang luas juga memengaruhi variasi dan warna dalam postingan.
    Solusi : Lebih banyak lagi membaca artikel dan postingan menarik dari banyak media cetak maupun elektronik. Meminta penilaian dari banyak orang dan mencatat saran dan kritik mereka.
  3. Didominasi oleh perasaan
    Mayoritas postingan saya memiliki emosi yang cukup melankolis. Artinya, ketika seseorang membaca postingan tersebut, mereka kerapkali merasakan nuansa kesedihan, keputusasaan, ataupun kemarahan. Padahal, sebaiknya postingan yang dibuat haruslah membangun, menginspirasi, dan memotivasi orang yang membacanya.
    Solusi : Mencoba menetralkan emosi tulisan dan bersemangat ketika membuatnya.

  4. Belum mampu membahas isu umum di masyarakat
    Hal ini terkait dengan minimnya riset yang saya lakukan, ditambah lagi dengan kurangnya keyakinan untuk menganalisis masalah yang sedang booming tersebut. Khawatir terlihat bodohnya, begitu yang saya pikirkan ketika hendak menulis sebuah artikel berat.
    Solusi : Berani mencoba dan terus mencoba walau banyak melakukan kesalahan.

  5. Terkadang kurang fokus terhadap inti permasalahan
    Lagi-lagi hal ini berhubungan dengan poin nomor satu. Sebuah tulisan yang hanya berasal dari pemikiran satu orang saja akan membuat tulisan terkesan dangkal, di samping itu pengembangan paragrafnya akan didominasi oleh curhatan dan pengalaman penulis yang kadang tidak relevan dengan topik yang sedang dibahas.
    Solusi : Membuat sketsa tulisan terlebih dahulu, dan membaca artikel atau informasi dari berbagai sumber yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas agar tidak kehilangan arah ketika menulisnya.

  6. Postingan terlalu bertele-tele dan akhirnya kepanjangan
    Mirip dengan poin ke-5 di atas, dan dampaknya adalah pembaca jadi malas membaca karena sudah capek duluan melihat paragraf dan komposisinya yang banyak, tetapi bobot isi yang relevan sangatlah sedikit.
    Solusi : Upayakan membuat postingan yang singkat, padat, dan jelas, tetapi cukup nendang, dan informasinya proporsional.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…