Langsung ke konten utama

Pesan Tersirat dari Rapot Pertama Semester Satu FTI ITB

Diculik dari sini

Sebuah muka yang mendung, raut standar yang tercipta tatkala membuka lembaran transkip nilai akhir semester. Siapa pula orang yang berharap untuk mendapatkan indeks rendah? Mereka yang hidupnya didedikasikan untuk membolos ria pun tanpa rasa berdosa ingin melihat indeks yang bagus di rapotnya.

"Masih panjang kok. Baru semester satu." Itu yang mereka bilang.
Yah, rugi rasanya menjadikan sebuah kegagalan di langkah pertama sebagai vonis diri akan ketidakmampuan yang paten. Belum ada kata terlambat selama tangan dan akal ini masih bisa berbuat. Mengapa tak menjadikannya sebagai pernak-pernik perjuangan hidup? Toh rasanya kisah yang elegan lebih manis jika awalnya dimulai dari bawah, asalkan grafiknya mengarah ke atas.

Kadang dramatisasi itu perlu. Semisal menganggap kegagalan itu berbicara. Dan membayangkan nilai-nilai yang kini terpampang itu berujar memberikan wejangan.

"Hen, kamu bisa kok mendapatkan lebih dari apa yang terpampang sekarang ini. Kamu hanya perlu berbuat lebih banyak dari usaha untuk mendapatkan indeks yang kamu inginkan."
"Jangan katakan dirimu bodoh hanya karena sebuah indeks. Ingat, indeks itu bukan cermin kemampuan diri, dia hanya sebuah nilai dari fungsi keadaan, apakah saat itu kamu kurang berusaha, terlalu santai, kurang beruntung, atau bahkan takabur."
 "Apakah kamu percaya kemampuan kamu hanya segini? Apakah kamu yakin indeks ini merepresentasikan kemampuanmu yang sebenarnya? Bermuhasabahlah, dan temukan apakah indeks-indeks itu berbanding lurus dengan usaha dan doa yang kamu lakukan."

"Anggap saja indeks ini adalah sesuatu yang jatuh dari langit. Indeks ini bukan atas kuasa kamu. Dosen tak sengaja menghilangkan arsip nilaimu,walau ulanganmu selalu bagus, indeksmu hancurlah sudah. Kau tak bisa berbuat apa-apa, bahkan sekadar protes. Indeks ini berada dalam kuasa-Nya, dan hanya Dia lah yang berhak menentukan seberapa pantas kamu mendapatkan sebuah indeks atas usaha, doa, dan keyakinan yang kau buat selama ini."
"Indeks ini ada hanya untuk dilihat dan dimengerti. Bukan untuk dipikirkan terus menerus. Saat kau mengerti seberapa dekat dirimu dengan kelalaian saat melihat indeks ini, bangunlah!"
"Kau boleh menangis sedih ketika melihat indeks-indeks ini, itu manusiawi. Tapi berjanjilah untuk menangis karena bahagia lain kali, itu yang namanya perubahan."

"Jangan pernah mencukupkan diri dalam berusaha. Karena usaha yang maksimal tidak pernah diketahui batasnya, serta tidak pernah diketahui kapan waktunya untuk berhenti berusaha."
"Indeks semester satu itu hanyalah soal pilihan. Pilihan untuk mengubah atau untuk mempertahankannya."

Dan, kadang kita sendirilah yang bisa memutuskan. Mendengarkan pesan - pesan tersirat itu atau memilih untuk mengabaikannya....

Wacana atau kenyataan....

Ini hanyalah soal komitmen.... untuk berubah.



Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…