Langsung ke konten utama

Perjalanan Pulang Pergi ke Pernikahan Mawar yang Membuka Pikiran



            Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, semestinya perubahan pada diri seseorang setidaknya tecermin dari setiap kata-katanya yang tambah berisi dan berinformasi. Setidaknya hal itu  terjadi terhadap empat teman seperjalanan saya menuju ke sebuah resepsi pernikahan. Oke, sebelumnya biar saya jelaskan apa yang terjadi hari itu sehingga saya bisa satu mobil pulang pergi dengan 4 mahasiswa dari jurusan yang saling berbeda: Administrasi Publik Unpad, Akuntansi Prasmul, Elektro ITB, dan Ekonomi  Studi Pembangunan IPB. Saya sendiri berasal dari jurusan Teknik Fisika ITB.
              Jadi, sebuah hal yang tidak biasa, terjadi pada angkatan saya: Meriam Baja. Ketika alumni Smansa angkatan 2013 yang rata-rata berumur 20 tahun dan umumnya umur segitu masih sibuk-sibuknya menggalau mau jadi apa setelah lulus nanti, tak dinyana salah seorang dari angkatan kami tiada angin tiada hujan mengumumkan di grup line angkatan bahwa akhir Desember 2015 ini dia akan menikah, sebut saja namanya Mawar.  Dan jangan tanya siapa mempelai prianya karena seorang kapten angkatan darat yang memiliki pautan umur cukup jauh dengan Mawar sudah cukup membuat geger satu angkatan. Hal itu sontak menjadi kabar gembira yang harus diantisipasi dengan cara memenuhi undangan sang Mawar kepada angkatan kami untuk datang pada perhelatan pernikahannya.
                Walhasil saya pun mencari teman untuk bisa diajak ke sana. Dan itu tak terlalu sulit, dalam sehari saya akhirnya berhasil mendapat tebengan mobil dari teman SMP sekaligus SMA yang tengah menjalani karir studinya di Universitas Prasmulyan. Well, jangan tanyakan seberapa besar kampus bermandikan kemegahan itu mengubahnya, penampilan dan gaya bicaranya sudah serupa nona-nona besar yang biasa berperan sebagai CEO abad ini.
                Resepsi pernikahan Mawar berlangsung di Balai Sudirman, daerah Tebet, tempat yang sudah tidak aneh lagi bagi orang berada yang pernah kalian lihat di manapun kalian berada. Naik kereta Commuter Line bisa jadi terdengar gila mengingat lokasinya yang jauh dari rute kereta, dan untunglah hal itu tidak terjadi malam itu karena teman kami dari Prasmul ini berbaik hati mengantar kami ke pernikahan Mawar diantar sopir pribadinya.
                Sepanjang perjalanan kami banyak menanyakan kabar masing-masing dan bercerita panjang lebar dari hal sepele seperti tempat-tempat nongkrong yang hits di Bandung, sampai hal kontroversial mengenai masalah beberapa orang di angkatan kami. Well, lebih tepatnya itu adalah perbincangan mereka, karena sepanjang perjalanan saya lebih banyak diam dan menyimak. Bukan tak berniat membagi yang saya ketahui, tetapi kesadaran bahwa apa yang saya tahu nyatanya telah mereka ketahui sudah cukup untuk membuat saya lebih banyak tutup mulut.
                Bak seorang inteligen yang menjadi mata-mata di tengah target-targetnya , saya mencoba menyerap informasi yang tercurah di mobil itu. Ada suatu mata kuliah perekonomian tentang uang di SBM ITB, yang dosennya berasal dari Teknik Mesin ITB. Usut punya usut dosen itu mengajar materi keuangan di SBM menggunakan prinsip Mekanika Fluida yang sangat erat dengan latar belakang jurusan mesinnya. Wot? Saya baru tahu kalau ternyata ilmu  mekanika fluida yang saya anggap sampah, gajelas, menyulitkan, dan cuma beda nama sama termodinamika dan transfer kalor massa itu bisa menjadi sangat bermanfaat dalam ilmu ekonomi, terutama dalam hal sirkulasi keuangan. Katanya uang itu mengalir, oleh karena itu sirkulasi uang bisa diprediksi dan dipelajari menggunakan prinsip Mekanika Fluida, Holy Toledo, njir, saya selama ini udah mendiskreditkan ilmu-ilmu di jurusan saya yang ternyata bisa diaplikasikan di aspek manapun, dan sedihnya lagi indeks yang saya dapat adalah C. Mungkin kalo saya memiliki ketertarikan untuk mengeksplor lebih jauh akan hal itu otomatis akan membawa saya pada pencapaian akademik yang lebih baik. Oke, mulai semester 6 saya akan lebih menghayati ilmu yang saya dapat, ga bakalan cuma diapal.
                Terus saya baru tahu ternyata temen saya anak Unpad memiliki pengalaman seseru itu sama yang namanya aplikasi Tinder. Katanya dia sudah mendapati banyak kecengan dari berbagai daerah, ada dari Jakarta, Bandung, dan sebagainya. Bahkan yang sangat fantastis adalah aplikasi itu bisa membentuk hubungan yang cukup spesial tergantung bagaimana cara kita memanfaatkannya. Perkenalan melalui tinder bisa membawa temen saya kepada banyak keuntungan, dapet temen yang bisa nganterin main keliling Bandung lah, kenal sama hiruk pikuk kehidupan kampus lain lah, bahkan sampe punya kesempatan ditraktir sama kenalan yang cukup kaya dan ga segan-segan buat ngirim sejumlah uang ke dalam rekening kita. Jangan bayangkan temen saya memiliki paras serupa Lady Diana, karena ga perlu sejuta like di instagram untuk membuat orang bisa tertarik dan deket sama kita, cukup keramahan dan pandai-pandainya kita bergaul walhasil temen saya begitu gampang mendapat berbagai kenalan dengan kedekatan setara ‘pacar’ hanya dari aplikasi Tinder ini. Namun, tak menutup kemungkinan hal yang tak diharapkan terjadi,  lagi-lagi saya dibuat tertegun saat mendengar pengalaman temen saya yang pernah kedapetan gay saat bermain Tinder, bahkan ada yang sudah bertunangan, hidup memang rectoverso, tak melulu baik, tak selalu buruk.
                Kemudian,  pikiran saya mulai terbuka dengan yang namanya bisnis setelah mendengar perbincangan mereka. Saya baru tahu kalo reksa dana dibekukan, dan temen-temennya dari temen Unpad saya itu mengalami kepanikan tatkala mendengar kabar tersebut dan seketika mereka langsung merasa miskin. Well, memang dalam berbisnis kita harus berani menanggung segala risikonya, termasuk risiko yang tidak pernah terduga yang contohnya bersumber dari kebijakan pemerintah tanpa tedeng aling-aling ini. Teman saya membuka harapan bagi kita-kita mahasiswa yang belum bisa bermain saham dengan nominal besar, ia merekomendasikan perusahaan yang tengah mengalami fase kebangkrutan, biasanya modal yang ditanam tidak perlu besar-besar, cukup 5 juta saja, dan saya cukup sadar selama ini saya terlalu pelit untuk menyumbangkan nominal di dunia perbisnisan dan pengecut menanggung risiko merugi.
              Dalam siklus perdagangan ekonomi ada yang namanya produsen, konsumen, dan distributor, dan ternyata siklus ekonomi tidak sesimpel teori ekonomi kelas 1 SMA. Dalam ekonomi ada yang namanya margin, dan semakin besar kita meng-cut jalur ekonomi, maka margin yang ditanggung akan semakin kecil. Dari situ kita bisa mengotak-atik harga sehingga dapat diperoleh keuntungan yang cukup besar. Temen dari temen saya, anak Prasmul, diceritakan berbisnis properti dengan  membeli properti pada produsen utamanya hanya untuk dijual kembali dengan harga tiga kali lipat. Begitu terperangahnya saya terhadap keuntungan bisnis memainkan margin ini sampai  kemudian saya teringat, kalo temen saya, Fadil, dari Manajemen Rekayasa Industri ITB, pernah bilang bahwa branding bisa menyebabkan orang percaya bahwa suatu produk memang pantas memiliki harga segitu, ga peduli dan bodo amat untuk menganalisis sejauh dan sejahat apa agen penjual ini memainkan margin dari suatu produk yang dibelinya. Dan masih mengenai manipulasi margin,  saya diberitahu bahwa temen saya dari unpad itu pernah ditawari untuk berjualan di lingkungan suatu kampus ternama, yang bonafid dan tajirnya serupa SBM di ITB, dan ternyata di sini kesenjangan ekonomi cukup berbicara, segelas susu murni yang dijual seharga 15 – 20 ribu dengan harga aslinya cuma sebesar 4000 rupiah saja, bisa laris terbeli di sini! Wahai margin, selama ini saya cuma mengenalmu sebatas margin di selembar laporan praktikum, sungguh dunia ini terlalu menyedihkan bagi orang-orang yang berpikir kerdil ._.
                Ada lagi bahasan tentang isu wabah Hepatitis yang menimpa mahasiswa IPB. Temen saya yang anak IPB selaku narasumber paling meyakinkan mengatakan tersebarnya isu itu merupakan ketidaksengajaan. Awalnya hanya merupakan obrolan chat pada suatu grup yang dikumpulkan, tetapi entah mengapa tetiba satu orang menyebarnya ke luar grup itu, dan yang namanya line, akhirnya informasi itu tersebar begitu cepat dan meluas sampe ke grup line ITB. Bahkan temen saya dari prasmul pun juga tahu (yaiyalah masih satu area Bandung). Dan diduga saking hebatnya persebaran informasi lewat line, info ini sudah menyebar ke seluruh pelosok Indonesia, wew. Hepatitis terbagi menjadi beberapa tingkatan, A, B, dan yang paling parah adalah C di mana kondisi rambut sudah tidak ada karena kerap kali rontok, dan anggota tubuh berwarna kekuningan. Nah yang terjadi di IPB, sudah lama ada seorang mahasiswanya yang mengidap Hepatitis B dan kemudian meninggal, dan yang tengah mewabah sehingga banyak yang sakit itu adalah Hepatitis A. Kondisinya saat itu adalah bulan November ketika diberlangsungkan banyak sekali event-event besar sehingga disinyalir bahwa mahasiswanya, terutama yang ngekos, banyak yang kecapaian, tubuh menjadi tidak fit, dan ditambah lagi tidak menjaga pola makan, sehingga ketika satu mahasiswa menderita penyakit hepatitis A, begitu mudahlah virus itu tersebar. Namun, tidak benar bahwa mahasiswa yang meninggal itu menjadi sumber wabah tersebut karena ia menderita sudah dari lama sehingga tergolong kejadian luar biasa, dan ia meninggal bukan karena wabah hepatitis A yang baru terjadi, melainkan karena penyakit hepatitis B yang  lama menjangkitinya. Untuk hal itu, pihak IPB sudah memberikan klarifikasinya berupa press release.
                Terlepas dari semua informasi yang saya dapat selama perjalanan pulang pergi itu, baik yang saya ceritakan di atas maupun tidak, saya kemudian merenung. Tiga tahun berlalu semenjak keluar dari Smansa, sebenarnya apa saja yang telah saya dapatkan selama berkuliah? Perubahan menguntungkan apa saja yang sudah terjadi sama diri saya? Toh ternyata saya masih gini-gini saja, masih belum bisa berbagi sama orang lain, belum bisa menjadikan diri saya sebagai orang yang pantas dirindukan buat didengerin cerita-ceritanya. Saking kurang updatenya saya sama perubahan dan informasi sekitar dan di luar sana, mungkin temen-temen saya bisa begitu mudahnya meramal kira-kira apa yang bakalan saya katakan. Saya sadar kalo saya selalu diem terus, ga pernah bisa membagi apa yang saya pikirkan dan saya ketahui, maka selamanya saya ga akan punya nilai plus di mata orang. Atas dasar keuntungan apa orang mau bergaul sama kita kalo setiap usai perbincangan informasi hanya mengalir satu arah, mereka tak pernah mendapatkan apa-apa selain kejenuhan, obrolan yang ga pernah nyambung, dan boleh jadi cuma kekesalan yang didapat setiap kali mereka mengobrol sama kita. Dan bukan tidak mungkin di kemudian hari orang-orang bakalan menghindar setiap kali kita datang, karena mereka tak mau terjebak lama-lama dengan obrolan yang tidak ada feed backnya dan hanya membuang-buang waktu atau kesempatan mereka saja. Semoga saya bisa meningkatkan kualitas diri sesegera mungkin, setidaknya bisa memberi feedback yang sepadan dalam sebuah perbincangan sebagaimana perbincangan yang terjadi antara keempat temen saya malam itu…

Komentar

  1. parah kmn aja lu baru ngechat kmrn2
    mau dong cerita2 kekinian dari meriam baja..

    BalasHapus
  2. *mendadak pinter baca postingan ini*

    BalasHapus
  3. mahen....baru kepoin blog lu. yaampun gue kyknya kudet bgt sama kabar anak-anak meriam baja hiks. Have a good day btw!

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…