Langsung ke konten utama

Cara Mendapat IP 4 menurut Seorang Mahasiswa Underdog...


Hal-hal yang perlu diperhatikan,
  1. Jadikan IP 4 sebagai target utama
Memang benar kalau kita tidak boleh mendewakan nilai. Akan tetapi, di zaman yang segalanya membutuhkan bukti hitam di atas putih ini kita perlu menentukan prioritas. Sebagai contoh, apa gunanya mempelajari materi dari suatu makul yang tidak akan diujikan, sedangkan di sisi lain terhadap materi yang akan diujikan pun pemahaman kita masih belum kuat, logika pola pikir pun masih cacat di sana sini. Salah seorang teman saya berkata “Dengan mengejar nilai, otomatis ilmunya pun pasti dapat.” Saya mengamini pendapatnya, dengan sedikit revisi, yah memang benar ilmu orang yang  ngejar nilai doang tuh pasti ga bakalan seberlimpah dan seberesensi ilmu orang yang melakukan pendalaman lebih, tapi setidaknya hal itu lebih baik ketimbang tidak mendapatkan nilai bagus, dan juga ternyata tidak mendapatkan pemahaman yang signifikan.  Lepas dua-duanya! Oleh karena itu, nilai harus selalu jadi fokus utama untuk mementingkan sebuah materi atau tugas. Pemahaman yang kuat tanpa bukti fisik berupa indeks yang bagus tidak akan mendapat pengakuan dalam proses seleksi melamar pekerjaan ataupun beasiswa S2.

Kemudian, jangan hanya memasang target IP di bawah 4 hanya untuk mendapatkan IPK bagus, karena kita ga pernah tau sesinkron apa ekspektasi kita dengan faktor  X yang memengaruhi di lapangan. Apakah dengan hanya mengerjakan tugas lengkap, dan menjawab soal ujian ala kadarnya kita yakin bisa dapat indeks di atas C? Apakah kita bisa mengukur dengan pasti persen usaha kita dan persen hasil yang akan dicapai? Dan yang lebih penting lagi, apakah usaha 50% pasti akan membuahkan hasil yang 50% juga? Who knows? Dalam termodinamika pun diketahui bahwa efisiensi di dunia realis ini tidak akan pernah mencapai 100%, untuk mendapatkan hasil 80%, kita harus mengerahkan usaha yang lebih dari 80%, begitu juga untuk mendapatkan IPK 4, maka usaha yang dilakukan bukan hanya sekadar untuk mencapai  IPK 4, tetapi lebih dari itu, mungkin dengan mencoba untuk selalu mendapatkan nilai 100 di setiap aspek penilaiannya. 

  1. Jangan membolos kecuali benar-benar sakit.
Banyak kerugian yang didapat dari membolos. Salah satu dampak standarnya adalah ketinggalan materi dan ‘bocoran informasi’ yang mungkin bakal diujikan atau dibutuhkan saat mengerjakan tugas. Selain itu subjektivitas dosen pun kadang-kadang berpengaruh dalam penilaian. Terhadap mahasiswa yang absennya 100% barangkali dosen akan memberikan bonus nilai tanpa diketahui. Kalau absen kita sudah bolong-bolong, penilaian tak kasat mata mana lagi yang bisa diharapkan?

  1. Selalu mengumpulkan PR dengan totalitas.
PR dengan totalitas adalah PR yang dikumpulkan tepat waktu, dikerjakan sendiri, dan terakhir diklarifikasi apakah benar pengerjaan dan jawabannya pada sumber yang tepercaya, entah itu buku atau teman yang ekspert. Keuntungan pertama yang diperoleh, dengan selalu mengerjakan PR maka apabila nilai ujian atau kuis kurang bagus, nilai dari PR ini bisa sangat membantu, apalagi untuk nilai-nilai di perbatasan. 

Keuntungan kedua, dengan selalu mengerjakan sendiri, otak dan otot kita lama-lama akan terasah dan merekam, sehingga ketika ujian nanti  kita akan lebih lancar dalam mengerjakan, menulis, dan menjawab soalnya. Apalagi kebanyakan dosen sering memberikan soal ujian yang materinya mengacu pada submateri yang diberikan di PR. Diharapkan momen-momen tertegun lama, atau ngeblank dapat terminimalisasi dan waktu ujian bisa dioptimalkan.

  1. Perfeksionis dalam mengerjakan tugas.
Poin-poin yang diinstruksikan dalam pengerjaan tugas ada baiknya jangan dikerjakan ala kadarnya saja. Apabila kita bisa memberi dan mengeksplor lebih jauh, maka lakukanlah yang terbaik. Selama deadline masih jauh, lakukan improvement pada tugas yang kita kerjakan, jangan malah mengulur-ulur waktu. Selalu ingat bahwa perfeksionis bukan berarti kita kemudian selalu merombak tugas kita sehingga progresnya jalan di tempat, melainkan kita selalu memaksimalkan bentukan tugas yang akan kita kumpulkan, baik itu dengan merapikan formatnya, maupun memperindah packagingnya, tugas yang cukup baik tetapi tuntas dan tepat waktu lebih utama, daripada tugas yang sempurna namun dikumpulkan terlambat.

  1. Maksimalkan kuis.
Kuis mendadak jangan menjadi alasan tidak totalnya kita dalam mengerjakan soal. Selalu pelajari materi-materi sebelum materi-materi itu diajarkan di perkuliahan. Kuis yang jawabannya sangat salah atau blank sheet bisa sangat berpengaruh pada indeks akhir. Seminimal-minimalnya jawablah soal kuis dengan cara yang masuk akal, berdasar, dan menggunakan asumsi, dan yang terpenting, jawablah semua soalnya, jangan dibiarkan kosong atau hanya ditulis diketahui dan ditanya saja.

  1. Cerdas dalam memilih tipe-tipe soal yang pasti keluar di UTS dan UAS.
Kerjakan soal-soal UTS atau UAS tahun-tahun sebelumnya jauh-jauh hari sebelum minggu ujian. Pelajari pola dan koridor materinya, jenis soal yang bagaimana yang biasanya menjadi favorit untuk diujiankan. Tipe analisiskah? Tipe perhitungan bertingkatkah? Tipe studi kasuskah? Tipe yang mana yang menurut kita paling sulit untuk dipelajari secara cepat, maka fokuskan untuk mempersiapkan soal yang tipenya seperti itu. 

  1. Jadikan mencapai IP 4 di semester tersebut sebagai doa dalam setiap shalat.
Manusia hanya bisa berusaha dan berencana, selebihnya Tuhanlah yang menentukan. Selalu ada faktor X di luar usaha kita yang bisa memengaruhi ketercapaian suatu target, termasuk mendapatkan IPK yang memuaskan. Hanya kuasa dan kehendak-Nya lah yang pada akhirnya menentukan apakah kita bisa mendapat nilai A atau tidak. Oleh karena itu, usaha haruslah selalu dibarengi dengan doa. Dan sebaiknya kita berdoa secara spesifik, agar hasil yang dicapai bisa sangat sesuai dengan harapan kita, bahkan lebih. Wallahu alam.

Mengapa tidak bisa mencapai nilai A?
Semester  5,di tahun  2015 lalu adalah semester yang menyadarkan saya bahwa dengan usaha yang setengah-setengah saya sangat tak layak untuk mengharapkan indeks yang bagus, bahkan juga untuk indeks yang cukup sekadar bagus. Melengkapi komponen dari aspek penilaian merupakan hal yang cukup penting, dan saya tidak memaksimalkan itu. Saya akui semester ini lagi-lagi saya masih tidak mengumpulkan beberapa PR, absen masih bolong, mempersiapkan ujian masih dengan menghapal solman atau cara penyelesaian teman tanpa memahami ide konsepnya dan sebagainya sehingga saya merasa sangat patut untuk mendapatkan IP yang masih rendah di semester ini, sama seperti semester-semester sebelumnya. IP yang bagus saja saya tidak pantas, apalagi IP sempurna dengan taburan nilai A di setiap makulnya, tentu saya masih sadar diri.

Metode Pengukuran
Dengan bobot  sebesar 3 sks, mata kuliah ini lebih mempelajari mengenai kaidah menggunakan alat-alat ukur yang dipergunakan dalam dunia perindustrian. Tidak ada riwayat kakak kelas yang mengulang pada mata kuliah ini dan nilai yang saya dapat adalah AB. Mengapa tidak bisa A? Padahal, saya hanya absen 3 kali, dan saya merasa dalam mengerjakan UTS saya cukup sukses menghapalkan cara menjawab yang teman saya berikan di grup line, dan terlebih lagi soalnya banyak yang sama seperti tahun lalu dan dikeluarkan kembali. Kuisnya yang hanya satu kali pun saya berhasil mengerjakannya secara ‘bahagia’ sebanyak dua dari tiga nomor. Semua PR juga saya kerjakan. 

Belakangan saya sadari bahwa nilai A hanya layak didapatkan oleh orang yang memahami mata kuliah ini secara luar dalam, yang seminimal-minimalnya mengerti mengapa pada soal tertentu, perhitungan matematisnya harus seperti ini, mengapa tidak melalui jalan yang simpel-simpel saja dan sebagainya. Tentu saja hal ini bertentangan dengan kondisi saya ketika menghadapi ujian saat itu, yang hanya berbekal modal menghapal jawaban teman saya yang ekspert tanpa tahu menahu logika menjawab soal – soal tersebut. Akibatnya ketika satu soal berbeda, saya jadi menjawabnya secara asal-asalan saja.

Laboratorium Fisika III
               Nilai yang saya dapat adalah B. Mengapa tidak bisa AB? Perlu diketahui bahwa mata kuliah ini merupakan salah satu makul praktikumnya jurusan Teknik Fisika dengan bobot hanya sebesar 1 sks saja. Setiap selesai praktikum akan ada pembuatan laporan, yang pada praktikum ke-3 ini nilainya akan langsung diketahui. Rata-rata pengumpulan laporan saya kurang lebih sebesar 75, saya cukup PD untuk mendapat nilai AB mengingat pada praktikum ini, tes akhirnya akan berupa ujian pilihan berganda sebanyak 70 an soal plus 5 esai yang bebas dipilih dari 7 soal esai pilihan, berbeda dengan praktikum-praktikum sebelumnya yang mensyaratkan tugas besar sebagai komponen nilai pelengkap akhir. Namun ternyata situs ol.akademik berkata lain, nilai saya turun menjadi B. 

             Sebelumnya, salah satu teman saya berkata bahwa bobot yang paling besar berasal dari komponen penguji nilai paling akhir, yakni tubes atau ujian untuk praktikum ketiga ini. Saya memang menyadari bahwa saya masih terbilang asal tembak-menembak jawaban pada soal pilihan berganda, dan pada soal esai pun 4 dari 5 nomor tidak dapat saya jawab dengan keyakinan penuh, dan boleh jadi masih terdapat unsur asal-asalannya, sehingga entah sekian persen bobot nilai yang tereduksi sehingga nilai saya turun dari perkiraan AB menjadi B.

Transfer Kalor dan Massa
                Nilai yang saya dapat adalah B. Mengapa tidak bisa AB? Mata kuliah ini mengambil nilai dari beberapa komponen. Yang pertama adalah kuis, sebanyak 4 kali. Yang kedua PR , sebanyak 3 kali. Yang ketiga tugas presentasi. Yang terakhir adalah ujian besar seperti UTS dan UAS. Saya akui saya banyak kebobolan pada ujian besar. Ketika mengerjakan UTS, satu nomor tidak dapat diselesaikan, dan ketika UAS, soalnya ternyata sangat jauh dari ekspektasi yang bahkan membuat saya merasa takut tidak lulus karenanya. 

               Saat presentasi pun tidak berjalan mulus, Pak Tanto mempertanyakan presentasi saya yang tidak sinkron dengan makalah yang telah saya berikan di awal waktu, untungnya beliau pun akhirnya tidak mempermasalahkan setelah saya mengingatkan beliau perihal makalah revisi yang telah saya berikan sehari setelah saya memberikan makalah pertama yang bermasalah tersebut. Selain itu, saya rasa materi presentasi yang saya pilih pun sangat buruk, tidak seperti yang lain yang berfokus pada analisis suatu proses transfer kalor spesifik pada dunia perindustrian petrokimia, presentasi saya dibandingkan mereka terlalu general dan cenderung menyimpang dari harapan Pak Tanto, menurut hemat saya.

Dinamika Sistem dan Simulasi
                Nilai yang saya dapat adalah BC. Mengapa tidak bisa B? Saya akui sebenarnya ekspektasi awal saya mengatakan bahwa nilai makul ini pasti C, karena saya cukup gagal di UTS pertama, dan UTS perbaikan dari Pak Saul yang baik hati pun masih belum dapat saya maksimalkan dengan baik karena kurang telatennya saya menyikapi desakan waktu yang teramat sedikit.  Saat UAS pun ada beberapa jawaban yang menurut saya sangat ngaco. Kemudian, PR pertama tidak saya kumpulkan, dan kuis kedua pun saya menjawab dengan blank sheet, hanya menulis diketahui dan ditanya saja. Lantas, alasan apa lagi saya harus banyak berharap pada makul ini? Jangan tanya soal absen, karena sudah dipastikan banyak bolongnya, apalagi banyak kelas yang dibatalkan, entah sudah berapa bobot absensi saya sekarang. Untung masih bisa lulus.

Pemrosesan Sinyal, Mekanika Kuantum
Nilai yang saya dapat adalah C. Mengapa tidak bisa BC? Untuk makul pemrosesan sinyal, dosen Pak Harijono selalu memberikan kuis mendadak, yang saking banyaknya saya lupa mengenai berapa kira-kira frekuensinya , baik pra UTS, maupun pasca UTS. Yang jelas saya sempat tidak mengikuti 2 kuis karena keskip 2 kali pertemuan kelas. Sekadar tahu, beliau merupakan salah satu dosen berdedikasi yang sangat menekankan kedisiplinan dan etika kepada mahasiswanya, saya pernah telat 7 menit dan beliau sudah melarang saya masuk kelas, bahkan teman sebelum saya yang hadir di kelas dan telat hanya 2 menit pun sudah tidak diperkenankan untuk mengikuti perkuliahan. Walhasil karena seringnya skip kelas pagi, absen saya bolong 4, untung masih 85%, usut punya usut apabila absennya sekitar 77% ke bawah maka nilainya akan langsung E, wallahu alam.

 Mengenai UTS dan UAS, saya lagi-lagi hanya bisa menghapalkan pola dari jawaban yang diberikan teman saya, 4 dari 5 soal untungnya mirip tahun lalu. Apabila dibandingkan dengan makul lainnya, saya merasa bahwa pelajaran pemrosesan sinyal ini paling sulit, baik secara ujian, maupun secara pengajaran. Saya hampir tidak bisa membedakan materi antara masing-masing bab, yang ini bahas transformasi fourier, yang ini juga, yang ini bahas frekuensi dan spektrum sinyal, yang ini juga, terus saya selama di kelas belajar apa? Entahlah. 

Kuis pemrosesan sinyal pun tak jauh berbeda. Kakak kelas saya yang kebetulan baru mengambil makul ini sekarang pun berceletuk,” Kita selalu bertekad lebih baik pada kuis selanjutnya, dan berharap akan ada kuis-kuis selanjutnya lagi yang berdatangan, tapi ketika menghadapi kuis berikutnya, toh ternyata tidak bisa-bisa juga.” Bahkan salah satu teman yang saya anggap cukup rajin pun hanya menuliskan teori-teori yang kurang relevan dengan pertanyaan soal, pada lembar jawaban HVS nya, saya hanya tersenyum simpul menyadari bahwa kesulitan menyerap makul yang sulit ini merupakan masalah massal yang dialami setiap orang.

Lain lagi dengan mekanika kuantum. Makul yang satu ini diamini oleh semua angkatan FT sama abstraknya dengan medan elektromagnetik, makul tingkat 2 yang membuat sebagian besar angkatan banyak mengulang atau sekedar lulus pun sudah senang. Namun, ketika salah seorang kakak kelas saya mengaku bahwa ia berhasil mendapatkan indeks medan B (dengan predikat mengulang sebelumnya) dan indeks mektum A, saya jadi gusar. Ternyata toh stigma abstraknya makul mekanika kuantum tak  bisa dijadikan alasan, jika nilai saya akhirnya pas-pasan itu karena kemalasan saya, bukan karena makul mektum itu udah ga bisa disiasati. Soalnya banyak juga yang bilang kalo mekanika kuantum lebih gampang karena variasi soalnya yah itu-itu aja, udah ga bisa diotak-atik lagi, ga akan beda terlalu jauh sama PR atau soal-soal tahun sebelumnya. Saya akui saya setengah-setengah dalam mempelajari jawaban dari soal PR yang diberikan, dan juga tidak serius membaca dan mengerjakan contoh-contoh soal pada slide, padahal format pertanyaan soal UTS dan soal UASnya sama persis dengan PR! Duh, rasanya ingin terus mengutuk diri yang tidak memanfaatkan kesempatan berharga ini. Dan saya berpendapat bahwa semestinya saya pun tidak lulus makul ini kalau saja nilai ujian online akhir semester saya tidak menyentuh angka 8, untunglah.

Medan Elektromagnetik.
Nilai yang saya dapat adalah T. Dengan syarat  baru bisa lulus, kalau mengikuti ujian perbaikan dengan hasil maksimal C. Mengapa tidak bisa langsung C? Mata kuliah ini adalah makul terabstrak yang soal ujiannya itu bisa berbeda 180 derajat dari PR-PR dan soal-soal tahun lalu yang dipelajari sebagian besar anak FT. Kebanyakan dari kita memang lebih cenderung belajar dengan mempelajari cara penyelesaian soal-soal tahun lalu, dan ternyata makul yang satu ini tak mau diperlakukan seperti itu. Kalau ga paham konsep secara mengakar, matilah sudah. Kondisi di semester 5 ini, saya sudah bolos kelas sebanyak 11 kali! Dengan 6 dari 11 adalah absen penggantian rencana studi, heeu. Tambah lagi, gara-gara baru PRS selama rentang 3 minggu, saya jadi tidak sempat mengerjakan dan mengumpulkan PR Medan Elektromagnetik sebanyak 3 kali dari 5 kali pengumpulan PR! Karenanya, saya merasa bahwa lulus adalah suatu  keajaiban dan langsung merasakan sesak menjelang detik-detik diumumkannya IP semester 5 ini. Dan untung saja, tahun ini diberlakukan ujian perbaikan karena hampir setengah angkatan nilainya terlampau parah semua, bahkan pemberlakuan distribusi normal pun tidak membantu untuk meluluskan mayoritas mahasiswa yang terancam mendapat predikat tidak lulus, jika saja ujian perbaikan itu tidak dilaksanakan. Saya merasa bersyukur dengan kejadian langka ini, karena sebelum-sebelumnya yang saya tahu makul ini tidak pernah mengadakan ujian perbaikan, dan hanya mengandalkan distribusi normal untuk mendulang nilai-nilai B ke atas.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Give Up For "Gusi Bengkak"

Anda pernah mengalami ini?
,,,

,,,


Ya, hari ini gua mengalaminya, gusi bengkak mungkin tidak semengerikan tumor dan kanker (naudzubillahimindzalik) , tetapi rasanya sehari bagai neraka kalau keadaan itu terus berlangsung di saat perut kita sudah mulai kelaparan. Loh apa hubungannya?  Jelas saja ada kaitannya, mau gebetan lu ngebeliin kue paling enak sedunia kek kalo gusi di belakang geraham lu bengkak pasti rasanya sama saja, sama tersiksanya, cenah peribahasa mah air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam . Ngunyah dikit, mata kejep kejep karena jendolan janggal yang ikut tergigit menyebabkan rasa sakit yang sangat menganggu kenikmatan makan kita.
Ini bukan kali pertama gua mengalaminya, setahun yang lalu pernah juga dan penyebabnya itu ga jauh - jauh dari yang namanya panas dalam. Sepertinya gusi bengkak yang gua alami hari ini disebabkan abis sarapan gua ga  minum dulu, tetapi malah langsung pergi ke sekolah, udah mah lauknya ikan cabai, udah gitu kemarin abis makan yang pede…