Langsung ke konten utama

Pengalaman Menggunakan Jasa Laundry




Rupanya keberjalanan kisah laundry-melaundry seorang mahasiswa rantau yang mengandalkan sisihan uang jajannya tidak selalu mulus. Pengalaman laundry pertama saya adalah di kosan sendiri. Ibu kos saya menyediakan bibi yang melayani jasa laundry, tetapi syaratnya harus membayar jasa 80.000 per bulan. 

Entah satu atau dua kali baju orang lain terselip di hasil laundry-an saya, ataupun sebaliknya. Nilai plusnya, jasa laundry yang saya gunakan pertama kali ini terbilang cukup go-green. Tidak ada plastik bening pembungkus pakaian, hanya kantong kresek. Sepertinya memang bibi ini mencuci langsung di rumahnya sendiri tanpa bernaung di bawah instansi laundry manapun.

 Belakangan, karena malas harus membayar tiap bulannya sebesar 80.000, yang barangkali dalam seminggu itu saya bisa saja menggunakan jasa bibi itu hanya sekali laundry, tergantung keseringan pemakaian pakaian, akhirnya saya menggunakan jasa laundry di luar, sebut saja Gondala Laundry.

Di Gondala, saya pernah mencoba mencuci tas dan sepatu. Hasilnya masih terdapat bercak-bercak tanah pada sepatu saya. Namun saya memaklumi, harganya memang murah untuk ukuran jasa laundry sepatu, dan waktunya juga tidak lama. Dan lagi-lagi sinetron Putri yang Tertukar terpaksa kalah pamor dengan balada Baju yang Tertukar, kali ini di Laundry Gondala. Pakaian saya yang berupa celana tidur santai berwana coklat raib entah kemana tergantikan dengan celana yang juga coklat entah punya siapa.

Pengalaman dalam urusan laundry-melaundry yang cukup menegangkan adalah ketika saya menggunakan jasa laundry, sebut saja Mawar, untuk mencuci jaket angkatan KPA yang setelannya dapat dibolak-balik. Hasilnya? Jaket KPA itu mengkerut dan ukurannya terasa mengecil laksana pacet yang dikasih garam. Saya langsung gelagapan mengingat jaket KPA itu adalah hasil pinjaman dari Teh Pipit pada waktu pelantikan KPA 2013.

Untungnya Teh Pipit tidak marah, tetapi saya tetap saja merasa sangat tidak enak. Saya teringat pernah menginstruksi ibu pemegang jasa laundry untuk mencuci noda merah yang ada pada jaket KPA saya, saya menduga bahwa jaket KPA itu disikat dengan sangat keras untuk menghilangkan nodanya, sungguh polos jika benar begitu. Pelajaran berharga bagi siapapun untuk tidak mencuci jaket di sembarang jasa laundry, pilih laundry yang profesional. Lebih baik mahal sekalian daripada jaket itu rusak.

Pengalaman laundry tak kalah menyebalkan adalah ketika mengikutsertakan handuk merah olahraga bersama kaos putih FTI Motivation Day di jasa laundry, sebut saja Melati. Awalnya, diberitahukan bahwa hasil laundry baru bisa diambil 2 hari kemudian. Mendadak, keesokan harinya saya dihubungi karena hasil cuciannya sudah bisa diambil, wah kok cepat? Rupanya hasil laundry saya kena lunturan zat warna merah yang bersumber dari handuk olahraga itu. Walhasil kaos putih FTI Motivation Day saya penuh dengan noda warna merah.  Sialnya saya tidak bisa menuntut ganti rugi karena sebelumnya sudah tertera peraturan kalau konsumen yang tidak memisahkan baju putih dengan baju berwarna harus siap menanggung risiko luntur. What a day!

Selanjutnya saya menjajal laundry di samping sebuah asrama, sebut saja Flamboyan Laundry. Belum apa-apa celana putih panjang saya sudah dicorat-coret pakai spidol hitam dengan font besar berbunyi ‘MAHENDRA’. Meskipun dicoret di kain bagian dalam kantong celana, tetap saja saya rasa kurang etis untuk menandai pakaian seseorang dengan mencoret-coret pakaian tersebut. Keluhan lainnya adalah adanya bau yang kurang sedap yang kadang-kadang muncul pada pakaian saya seusai me-laundry di situ. Mungkin saja bau itu muncul karena penjemuran yang kurang kering, atau pakaian saya ditumpuk terlalu lama dengan pakaian basah milik orang lain. Who knows?

Lain lagi kasusnya di ind*laundry yang bekerja sama dengan toko kelontong Ind*maret. Saya kira dengan brand yang begitu menjual dan harga yang lumayan, maka pelayanannya akan lebih terjamin dan memuaskan. Nyatanya, sepatu converse bermotif army look saya warnanya menjadi pudar. Tidak hanya itu, sepatu saya ini juga menjadi bolong belah kiri dan belah kanan, dan itu terjadi pada masing-masing pasang. Hal itu terjadi setelah Ind*maret meminta perpanjangan waktu karena sepatu yang dicuci di ind*laundry belum bisa diberikan sesuai hari yang ditentukan, bah sudah lama, hasil laundry-annya rusak pula. Walau begitu saya juga tidak boleh menapikkan faktor lain, yaitu sepatu converse army look saya yang kebasahan akibat hujan-hujanan ketika digunakan saat parade wisuda Maret HMFT.

Setelah sekian banyak kekecewaan yang saya alami ketika menggunakan jasa Laundry di Cisitu, mau tidak mau sebagai seorang konsumen yang hanya mengandalkan jasa tangan manusia, bug dalam sebuah sistem manajemen jasa cuci-mencuci merupakan risiko yang harus diterima. Di samping itu, tetap saja sebagai mahasiswa yang merantau sulit bagi saya untuk beralih mencuci baju sendiri. Hal itu karena di kosan, saya tidak memiliki ruangyang nyaman untuk mencuci, dan merendam cucian saya. Khawatir rendaman cucian saya di baskom akan terciprat oleh air-air kotor dari sumber yang tidak jelas (orang mandi, talang air bocor, dan sebagainya). Alasan lain adalah skil mencuci baju saya yang memang masih kurang, kemungkinan hasil cucian saya masih kurang bersih, tambah lagi skill melipat baju hasil setrikaan saya juga masih kurang.

         Saran

Mahasiswa yang merantau hendaknya sebisa mungkin menjaga jaket dan jasnya dari kekotoran. Karena sulit sekali mencari jasa Laundry yang memasang harga miring, tetapi cukup profesional untuk menjaga kondisi jas atau jaket dari kepudaran atau kurang bersih.

Ketika me-laundry, pisahkan pakaian yang mudah luntur, contohnya handuk yang kualitas benangnya buruk, dari pakaian putih atau pakaian terbaik kita. Jangan menyatukan pula pakaian putih dengan pakaian berwarna untuk mencegah kelunturan. Selain itu, pemisahan memungkinkan pakaian putih bisa direndam atau diberi pemutih sehingga setelah mencuci warnanya akan tetap bersih mengkilap.
 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Give Up For "Gusi Bengkak"

Anda pernah mengalami ini?
,,,

,,,


Ya, hari ini gua mengalaminya, gusi bengkak mungkin tidak semengerikan tumor dan kanker (naudzubillahimindzalik) , tetapi rasanya sehari bagai neraka kalau keadaan itu terus berlangsung di saat perut kita sudah mulai kelaparan. Loh apa hubungannya?  Jelas saja ada kaitannya, mau gebetan lu ngebeliin kue paling enak sedunia kek kalo gusi di belakang geraham lu bengkak pasti rasanya sama saja, sama tersiksanya, cenah peribahasa mah air diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam . Ngunyah dikit, mata kejep kejep karena jendolan janggal yang ikut tergigit menyebabkan rasa sakit yang sangat menganggu kenikmatan makan kita.
Ini bukan kali pertama gua mengalaminya, setahun yang lalu pernah juga dan penyebabnya itu ga jauh - jauh dari yang namanya panas dalam. Sepertinya gusi bengkak yang gua alami hari ini disebabkan abis sarapan gua ga  minum dulu, tetapi malah langsung pergi ke sekolah, udah mah lauknya ikan cabai, udah gitu kemarin abis makan yang pede…