Langsung ke konten utama

68 Km Menuju Hulu Citarum (Part 1)



Entah ada angin apa tiba-tiba saja pada Kamis malam tanggal 21 Juli 2016, Zulfikar mengajak saya untuk berkelana ke situ cisanti. Awalnya saya biasa saja toh naik motor ini, tapi ketika paginya saya mengecek google maps, alamak ternyata jauhnya itu 68 KM dari Bandung, jalannya bercabang-cabang pula. Sontak saya mencoba meyakinkan teman saya yang mungkin anget-angetan itu, apa benar ia mau pergi ke suatu tempat yang bahkan dilihat dari peta pun lebih banyak gambar urat sungainya ketimbang jalan untuk kendaraannya sendiri. Ternyata teman saya ini beneran mau ke sana, ya sudah saya turuti saja seraya berusaha mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi seperti motor mogok, ban pecah, dan sebagainya yang pernah saya alami bersama teman-teman SMA saya sewaktu pergi ke Pangandaran.

Kemudian diputuskanlah kalo kami akan melewati jalur Ciparay-Pacet, pada saat itu kami belum tahu kalo Situ Cisanti pun bisa ditempuh via Pangalengan. Bensin diisi sampai mentok, mengantisipasi SPBU di kabupaten yang jumlahnya tentu tak sebanyak di kota.

Dengan bermodalkan nekad dan google map (untunglah saya sudah mengisi sampai penuh batere smartphone saya dan kuota internet masih banyak), kami memulai perjalanan yang sarat coba-coba ini. Awal perjalanan tak terlalu mulus, untuk menemukan daerah Buah Batu saja kami harus melalui rute yang tidak biasa dan kami sama sama baru tahu,jalan Dago - jalan Aceh – ngikut angkot Dago-Kelapa yang tahu-tahu menggiring kami ke jalan Riau (itu artinya balik arah) – jalan Gudang Selatan – Jalan Ahmad Yani (agak macet)  – Simpang 5 – Gatot Subroto – Burangrang  dan akhirnya kami pun sampai di Buah Batu.

Kami mengikuti jalan Buah Batu sampai terusan Buah batu, kemudian Siliwangi dan akhirnya Laswi. Di sepanjang jalan Siliwangi –Laswi yang datar, panjang, dan lurus kami disuguhkan pemandangan sawah datar dan juga alam pegunungannya, lumayan menarik.

Tak lama teman saya yang mengemudi mulai mengeluh karena daerah terminal Ciparay belum sampai-sampai juga, barangkali dia akan lebih shock ketika melihat google map yang tengah saya pegang karena icon panah biru dan petanya sudah saya perkecil skalanya dan itu pun masih terlihat jauh dari daerah yang bernama Ciparay.  Saya juga mulai menyesali dan mempertanyakan jangan-jalan jalur yang kami pilih tidak efektif karena harus berjalan horizontal dulu kea rah timur lalu kemudian berbelok ke selatan di daerah Ciparay, entahlah. Saya hanya bisa berdoa dan harap-harap cemas teman saya ini tidak lelah dan mengantuk.

Akhirnya kami sampai di daerah terminal Ciparay. Deretan angkot Tegallega – Ciparay terlihat meramaikan terminal bayangan tersebut, kami langsung belok kanan dan kemudian masuk ke jalan Ciparay lembur awi, yang kalo dilihat di peta pun tak kalah panjang dan lurusnya dengan jalan raya Siliwangi-Laswi-Ciparay, ada dilema yang terlintas karena jalan Ciparay lembur awi ini akan bercabang di daerah Pacet, lantas jalur mana yang harus dipilih? Berhubung jarak Pacet yang menjadi daerah Check point kedua masih sangatlah jauh, saya memutuskan akan memikirkannya nanti setiba di daerah Pacet untuk makan dan shalat Jumat.

Jalan raya Ciparay Lembur Awi yang juga lurus dan panjang tak pelak membuat teman saya dan saya jenuh. Untunglah akhirnya kami bisa sampai juga di jalan Cagak, salah satu bagian dari jalan Ciparay Lembur Awi yang sudah dekat dengan daerah Pacet. Motor kemudian berhenti di sebuah makan padang agar temen saya yang belum sarapan karena telat bangun bisa makan.
Saya juga memutuskan makan karena hari sudah menunjukkan pukul 9. Di sana saya kembali membuka Line. Dalam sebuah grup chat, Fadil, teman Persma sekaligus FTI saya, memberi komentar bahwa perjalanan akan menjadi sangat lama apabila menggunakan kendaraan umum karena harus melalui Pangalengan, untungnya saya dan Zulfikar naik motor dan baru menyadari bahwa kami telah memilih rute tercepat menuju Situ Cisanti, via Ciparay-Pacet, karena ternyata rute via Pangalengan yang disebut Fadil agak jauh memutar.



Kami makan dengan lahap dua tangkup nasi padang beserta lauk masing-masing. Ketika membayar kami sadar bahwa harga yang dipasang cukup murah, hanya 10.000 untuk telor balado, dan 12.000 untuk ayam goreng, dan sajiannya pun juga cukup bersih dan enak, beserta segelas teh hangat yang nikmat, yah mungkin karena ini adalah kabupaten.

Selama makan kami berdiskusi mengenai jalur terbaik yang bisa kami lewati untuk mencapai Situ Cisanti, Zulfikar hanya tertawa ketika saya memperlihatkan rute perjalanan selanjutnya yang ternyata akan sangat berkelok dan juga bercabang, dan juga seakan jauh dari peradaban, akankah kami bisa sampai di Situ Cisanti? Hendak sholat jum'at di manakah kami?

Bersambung ke postingan selanjutnya 68 KM Menuju Hulu Citarum (Part 2)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…