Langsung ke konten utama

Ketika Instagram Menaikkan Value Makanan Warna-Warni


Diambil dari sini


Keberadaan instagram sedikit banyak mengubah persepsi orang terhadap apa yang disebut value. Value tak lagi berbicara soal uang dan material yang didapat, tetapi juga sebuah momen, sudut pandang, dan juga kreativitas. Orang tak lagi segan-segan merogoh kocek lebih dalam hanya untuk  menikmati alam (yang dulunya dianggap biasa dan tak lebih dari sekadar tempat tanpa fasilitas dan apa-apa lagi yang bisa dilihat selain hijau, hijau, dan hijau), mahakarya (yang dulunya masuk museum dianggap rugi karena cuma bisa dilihat-lihat tapi tidak bisa digunakan), dan bahkan pencahayaan, akustik, dan aroma pada sebuah restoran. Mereka tak lagi membeli sekadar makanan, minuman, wahana yang bisa digunakan, tetapi mereka juga membeli momen berikut penyuasanaannya yang bisa mereka abadikan dalam akun medsos instagram.

Akhirnya bisnis tak lagi hanya ada pada lingkup menjual jasa atau produk yang kasatmata, tetapi bisnis juga menjual value dan juga penyuasanaan. Dua hal yang dulu tidak terlalu menjadi concern orang-orang. Kini sebuah makanan biasa dengan sedikit penambahan aksen warna-warni dan juga penambahan topping yang ‘cantik-cantik’ bisa membuat makanan itu sekelas kuliner ala chef yang padahal dari rasa dan aromanya biasa saja. Kini, sebuah cafĂ© bisa menjadi mahal hanya karena ada gallery art di dalamnya, sebuah tempat dengan tembok-tembok hits yang bahkan tidak bisa dipanjat atau difungsikan sebagai wahana ternyata memiliki value yang tinggi untuk dipatenkan dalam sebentuk harga. Tentunya ini tak lepas dari keberadaan instagram. Instagram (dan juga gawai dengan kamera bagus tentunya) membuat orang-orang kini dapat memberi arti pada apa yang mereka kerjakan dan lalui bersama. Ada kebanggaan dan kesenangan tersendiri ketika bisa mengabadikan momen pada objek ikonik tertentu. Kini tak ada lagi yang terbuang sia-sia, tak ada tempat mahal yang terasa tak worth it, semua bisa diolah dan diekstrak sedemikian rupa menjadi sesuatu yang berharga. Semua orang perlahan bisa bersyukur dan menghargai apapun yang dimiliki dan mereka dapatkan karena ketika mereka mengabadikannya dan menguploadnya ke akun instagram semua hal jadi sama berharganya, murah atau mahal, berkualitas tinggi atau KW 4, fungsional ataupun hanya estetika.

Mungkin nanti tempat parkir mobil harganya akan menjadi sangat mahal hanya karena terdapat patung-patung lilin di dalamnya, yang bahkan tidak ada korelasinya dengan fungsi tempat parkir itu sendiri. Mungkin nanti sebuah menara SUTET yang sudah tidak terpakai lagi dan akhirnya diberi sentuhan artistik warna-warni bisa menjadi tempat hits instagramable dengan harga tiket masuk yang cukup fantastis. Selamat datang di era instagramable, siapkan kocek lebih dalam untuk foto terbaik yang ingin Anda dapatkan. Selamat menghargai dan memfoto setiap sudut makanan mahal yang telah dibeli agar tidak merasa merugi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…