Langsung ke konten utama

Racauan Pengingat Tingkat Akhir

Temen gue, sebut saja namanya Dinho, merasa hidupnya selalu masih kurang.

Tubuh kurang tinggi, ga punya banyak teman, kurang berprestasi, bukan siapa-siapa. Gue hanya berdeham menarik napas panjang.

 Hai Dinho, lihat kondisi orang di hadapanmu ini. Dia lantas apa, kalau ternyata pencapaian dan aktualisasinya jauh lebih sedikit ketimbang keadaan orang yang selalu menyebut dirinya bukan siapa-siapa itu yang padahal CV-nya sudah banyak dari mulai ketua sampai kadiv, tingginya 169 cm, sudah masuk kategori standar tinggi orang-orang yang biasa bersileweran di mal kota besar, giginya bersih mengkilat karena tak pernah absen disikat, kenalan banyak dari lingkaran jurusan, lingkaran kepanitiaan terpusat, lingkaran unit dan juga kepanitiaan-kepanitiaan lainnya dan itu bukan sekadar kenal, tapi juga teman yang bisa diajak nongki-nongki sambil main uno, ataupun ular tangga, bisa wefiean buat menuhin stock instagram,  bisa diajak camping, rafting bareng, ataupun ikut perlombaan, menang pula, sampai bisa jalan-jalan ria ke Jogja, sebuah kebanggaan. Teman seperti apa kira-kira yang dia maksud “Ga punya banyak teman” (?)

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan,

IP nya juga sudah cukup aman, bisa lulus tepat waktu. Sudah dapat beasiswa full empat tahun plus uang bulanan juga ditambah dengan memiliki pendapatan dengan menjadi asisten sana-sini, mengawas pula, CV nya makin tumpah ruah, semua itu  yang menurut gue sudah cukup menjadi indikator kebanggaan ortunya. Ah manusia memang tidak pernah puas, dikasih hati minta paha, dikasih dua pulau akan merajuk terus untuk mendapatkan tiga pulau.  

Gue sendiri juga ga kalah ga bersyukurnya, sudah syukur tiap hari ga kekurangan duit, waktu luang banyak, sudah banyak eksplor Bandung sana-sini. Yah walau memang belum bisa dikata jadi orang yang punya masa depan jelas juga. Wong tiap hari lebih banyak tidur dan senang-senang, skripsi apa kabar, IP di bawah 3 apa kabar, CV dan sertifikat itu bisa dipake buat melamar atau cuma remah-remah ga jelas yang nirafaedah, loh kok malah ga bersyukur. Ya sudah terima saja yang sudah terjadi, maksimalkan sisa waktu untuk menjalani metode yang baru, shalat malam jangan tinggal, jangan terlalu banyak hedon, dan yang terpenting kurang-kurangilah ngelakuin sesuatu yang kurang berkaitan sama akademik, karena gue udah tingkat 4, semangat.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…