Langsung ke konten utama

Bergerak di Arus Gelombang

Jika dunia adalah perihal keniscayaan, bahwa yang dikejar dengan usaha keras pasti akan diraih, maka semua orang pasti tidak akan pernah berhenti bergerak, karena setiap usaha yang mereka lakukan walau hanya bergeser 5 cm, akan langsung terlihat dampaknya.

Realitanya dunia ini adalah tempat para manusia diuji. Semisal walau dijanjikan setiap manusia memiliki pasangannya, harus tetap gigih mencari jodoh yang dijanjikan itu. Kadang seseorang tak sampai pada umurnya, ada pula yang baru menikah pada usia senjanya, ada juga yang berjodoh namun tak memiliki keturunan. Adalah misteri, yang menjadi tanda tanya besar setiap insan, bagaimana usaha yang memberi hasil itu? Karena kita tahu tak semua orang bisa mencapai mimpinya.

Tapi, di mana letak iman dan ikhlas? Kalau percaya pada kuasa-Nya sudah tak mampu. Bukan, bukan tidak percaya perihal kuasa-Nya, tetapi diri inilah yang terlanjur malu untuk berharap, tak yakin bahwa doa dari seorang yang tersesat akan diijabah.

Keadaan memang tak selalu mendukung. Tinta masa lalu yang kelam telah lama mengering, Namun apa gunanya tergenang dalam penyesalan yang stagnan, toh hidup sejatinya adalah sebuah arus gelombang yang terus bergerak. Suka atau tidak suka inilah takdir sebagai manusia untuk terus berjuang, tinta sejarah akan terus tertorehkan setiap harinya. Walau sudah telanjur hancur, seperti tak ada harapan di pagi hari, atau juga tak elok rasanya berharap untuk diberi kesempatan kedua, manusia tetap harus bergerak, bergerak, dan bergerak. Karena memilih bergerak atau tidak hari penghakiman akan tetap datang, dan mereka yang merugi adalah mereka yang berhenti bereksplorasi dan tidak mencoba lebih banyak hal untuk menjemput takdirnya.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…