Langsung ke konten utama

Semiautobiografi

Penulis memiliki nama lengkap Mochamad Mahendra Putra

  • Mochamad diambil dari nama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam
  • Mahendra adalah nama bayi untuk anak laki-laki yang berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti gunung atau bukit. Nama ini juga  berasal dari nama salah satu dewa dalam kepercayaan Hindu, yakni sebutan lain bagi Dewa Indra. Dewa ini terkenal berwibawa, memberi manfaat dan menghidupkan.
  • Sedangkan Putra merupakan panggilan untuk anak laki-laki.
Jadi, mungkin saja orang tua penulis berharap anaknya akan mewarisi budi pekerti luhur Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, perkasa dan tegar seperti gunung, serta berwibawa dan senantiasa memberi manfaat terhadap orang lain dari apa yang dikerjakannya.

Penulis merupakan orang asli Bogor yang lahir pada hari Kamis, 9 November 1995. Kini, ia adalah seorang Mahasiswa di FTI ITB 2013 yang insyaAlloh melanjutkan studi ke jurusan Fisika Teknik. Hobinya adalah membaca buku dan menulis. Memang agak antimainstream dengan pandangan sebagian orang yang menyatakan bahwa hobi adalah aktivitas berolahraga. Ia juga memiliki minat yang cukup besar dalam dunia kebahasaan Indonesia dan ilmu sains.

Terinspirasi dari novel 5 cm, penulis ingin belajar menjadi seorang manusia yang sebenar-benarnya, tidak hanya sebagai onggokan daging yang hanya bisa berjalan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…