Langsung ke konten utama

Hello Guys, I'll Get Married Soon...

Hi everyone... I'm getting married on 17th of June 2016. I know it's sudden, just a small simple event in Bandung. So please don't take it personally if you aren't aware of it. Seeing that it's too all of a sudden and is just few weeks from now, I'm not planning a big wedding but yes it will be a memorable time of my life. I would love it, if you take out time to be a part of it. I will be inviting some family and my closest friends , as the customs say. I'll be mailing out invites soon so I would really appreciate your presence on this day. Please don't worry about bringing any gifts since its on such short notice. Just bring me someone I can get married to, and it's all good to go. Let's see who reads this entire status. I find this hilarious. So before you do anything stupid just shut up and copy paste this to your wall and see how many will fall for it.
Suatu ketika kawan gue yang merupakan sesama badan pengurus suatu unit di ITB, ngeshare tulisan seperti di atas  di linimasa linenya, tepatnya tanggal 7 Juni 2016 pukul 08.06. Dan tebak apa reaksi gue? Betul, gue ga percaya. Menurut gue dia belum cukup mateng untuk memulai biduk rumah tangga di umur segitu karena beberapa alasan: masih ada tanda-tanda kalo dia belum bisa lepas dari orang tuanya, dia masih ngeluh ini itu tentang masalah akademik maupun non-akademiknya. Dan lagi gue udah pernah liat prank-prank senada itu  di line, nampak serius padahal 100% hoax. Akhirnya gue jadi rada-rada apatis plus skeptis sama kabar-kabar serupa seperti,
Aku lelah kuliah, pingin nikah aja.
Ah ya, palingan itu manifestasi keluhan sesaat doang. Gue kemudian menyimpulkan mahasiswa-mahasiswi yang masih kuliah ga bakalan bisa seberani itu buat nikah sebelum kelulusan S1 nya. Bahkan sampai temen gue yang seunit KPA ITB dengan gue ngejokes,
Ada kemungkinan mereka yang memutuskan menikah dini, berarti sudah di....
Bukan apa-apa, itu nunjukkin betapa  beratnya memulai suatu pernikahan,  di saat dia masih punya selaksa kesempatan untuk berbuat banyak hal, masih punya banyak alternatif pilihan dalam hidup, dan masih bisa mengembangkan kualitas diri di masa-masa emasnya.

Tapi keraguan gue terhadap generasi gue ini berubah ketika lagi-lagi salah seorang teman di angkatan SMA, sekonyong-konyong mengirimkan sebuah pesan chat di grup line gue, tepatnya 11 Juli pukul 08.03



Halooo. Selamat pagi semuanya :)) Apa kabar? Selamat Berliburan yaa.. Btw, aku punya kabar baik. Ya kalau kabar baik kan hrs disebarkan juga ;) So.. I'm engaged now, and getting married soon!

Reaksi gue nanggepin chatnya,


DEMI APA? Jir pecah telor.

Bukan deng, itu reaksi si Eki, temen gue di grup itu. Yang ini baru gue...
Eh anjir ini beneran atau boongan?

Si Doi yang mau nikah,
Beneraaaaan .-.

Reaksi gue kira-kira persis kayak yang ada di gambar ini



 Teman gue kemudian bercerita kalo dia udah menjalin hubungan selama 2 tahun, dan everything goes fast forward hingga akhirnya mereka berdua memutuskan untuk maju ke pelaminan. Gue cuma bisa manut-manut sambil mikirin apa gue bisa mengambil langkah sedramatis itu di usia yang gue pikir masih sangat layak untuk dipakai coba-coba segala macam hal dan belum harus mengikat komitmen yang sebegitu kuat dan kentalnya dalam sebuah ikatan perkawinan.

Memang sih menikah di usia tepat 20 bukan merupakan kabar baru yang terdengar di angkatan SMA gue, setelah tahun lalunya gue menghadiri pernikahan salah seorang temen gue, lulusan esmod,  di balai sudirman. Doi menikah dengan seorang anggota militer dan karena gue ga terlalu deket sama doi gue bisa dengan mudahnya nyimpulin kalo kedewasaan doi memang telah terakselerasi sepenuhnya, tapi kali ini temen gue - yang gue masih inget di SMP dan SMA dia masih suka ribut-ribut gitu sama pacarnya- tau-tau ternyata sekarang udah mau mengikat komitmen sehidup semati aja sama teman yang ditemuinya di perguruan tinggi tempatnya menuntut ilmu itu. Hidup memang selalu menawarkan kejutan di setiap tikungannya. Mungkin besok atau lusa bisa aja keponakan kecil gue  mendahului gue dalam menyandang titel sebagai suami atau bapak, who knows?

Dan what a coincidence! Ga berapa lama setelah shocking news yang menyerang ketentraman dunia pergaulan Line gue, muncul pula kabar serupa dari grup Actias Arcamaya yang menyatakan bahwa ada anak Fisika 13 yang bentar lagi akan menikah, begini kira-kira teksnya.


..... It is the moment to celebrate our love that unites us. So along this message, as we want to share our happines, We would like to invite you to our wedding...

Lengkap sudah. Di hari yang sama, tanggal 11 Juli 2016, pukul 22.43 gue  mendapatkan dua kabar yang cukup menggemparkan dan menggoyahkan keinginan gue buat nikah di usia kepala 3. Yang bikin lebih gokilnya lagi, tanggalnya itu cuma beda 6 hari dari tanggal temen angkatan gue nikahan, What a day and very-very What a year.

Walaupun senang juga dengernya, di sisi lain gue merasa kabar ini sebagai suatu ancaman. Ya, gimana kalau besok, lusa, tahun depan, 2 tahun lagi, ternyata gue kebanjiran kabar serupa dari teman-teman terdekat gue, terus gue sama siapa kalo semua udah taken? Bukan deng. Terus gue jadi mempertanyakan kematangan gue di usia 20 kayak gini, ternyata toh gue gada apa-apanya dibandingkan mereka yang udah berani ngambil keputusan sebesar itu. Dan jujur aja gue sampai saat ini sama sekali belum kepikiran nyari jodoh, selain karena belum mau terikat sama siapapun, gue juga masih merasa belum pantas untuk menyandang amanah sebesar itu: menikah. Belum cukup mapan kalo kata orang bilang.

Tapi mungkin sudah saatnya gue mulai melakukan persiapan. Mulai membaca buku-buku tentang parenting, eits kejauhan.  Yah mungkin gue bisa mulai membiasakan mencoba memikirkan orang lain. Ga egosentris lagi. Karena menikah itu adalah soal menyamakan frekuensi dua kepribadian berbeda dari latar belakang yang berbeda pula sehidup semati. Kau akan bangun dan kembali tidur bersama orang yang sama, melihat seluruh aibnya, berbagi aib dengannya, setiap harinya, seterusnya, ke mana-mana selalu bersama dirinya, dan gue yakin pasti rasanya bakalan bosen setengah mati. Makanya gue beneran salut sama temen-temen gue ini sama ketetapan hati mereka. Semoga pilihan mereka benar-benar merupakan pilihan terakhir dan bahagia selamanya.






Komentar

  1. Jangankan Mahen, saya aja suka mikir "Buset, kapan gue siapnya?"
    Hahaha

    BalasHapus
  2. Nih hen referensi kalau pengen nikah, tapi sayangnya bahasa inggris, hahaha
    waitbutwhy.com/2014/02/pick-life-partner.html

    BalasHapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…