Langsung ke konten utama

Pelajaran Hidup dari Prosmat : Perubahan Hal Kecil yang Memiliki Dampak Besar

“A very small man can cast a very large shadow.”

-Lord Varys to Tyrion Lannister in GOT Season 2
Tak memungkiri kalau kutipan di atas tidak terlalu relevan, walau begitu  saya merasa ada nilai  yang bisa diambil bahwa segala hal yang tekesan dikecilkan, diremehkan, diabaikan (penerapan aproksimasi pada  ilmu fisika untuk bisa menjelaskan fenomena alam yang terjadi sering mengabaikan perbedaan nilai yang kecil) pada konteks tertentu boleh jadi memiliki efek perubahan yang nyata bagi kehidupan.

Bukti nyatanya bisa dilihat dari ilmu pemrosesan material. Betapa disiplin ilmu ini saat ini mulai banyak mendapatkan perhatian di dunia penelitian. Rekayasa sederhana pada skala nano ternyata dapat menaikkan fungsi suatu bahan menjadi jauh di atas nilai asalnya.

semnanomaterials
Ragam Rupa Nanomaterial dilihat menggunakan SEM diambil dari sini

Contohnya, penambahan NP-ZnO 1% pada pelapis nanokomposit menyebabkan efek penghambatan terhadap pertumbuhan E. coli dan S. aureus, dua mikroorganisme  yang menyebabkan salak pondoh terolah minimal menjadi cepat rusak dan busuk. [Tugas Artikel Prosmat 4]

Penambahan mikrofiber menggunakan teknologi komposit dapat memberikan efek penguatan elemen pada material pembungkus makanan. [Tugas Artikel Prosmat 2]

Material pembungkus makanan antimikroba dapat diuji keandalannya dan ketahanannya  menggunakan teknologi Spektroskopi Transformasi Fourier Inframerah pada lapisan komposit  biopolimer penyusunnya. [Tugas Artikel Prosmat 3]

Di bidang aplikasi biomedik sudah ada penelitian mengenai nanopartikel yang dapat direkayasa menjadi agen pembawa obat. Sifatnya harus dibuat biokompatibel  dalam membidik bagian mikro tubuh bermasalah yang menjadi sasaran, dan memiliki perilaku superparamagnetik. Dalam penyembuhan penyakit kanker sendiri, diperlukan nanopartikel yang berperan sebagai vektor magnetik yang kuat untuk melakukan penetrasi ke dalam tumor. Fe3O4 memenuhi hal ini. [Tugas Artikel Prosmat 1]

Banyak pula contoh aplikasi bidang nanomaterial lainnya yang membuat saya kembali berpikir. Untuk melakukan suatu perubahan yang besar, untuk mulai menyelesaikan permasalahan yang besar, kadang kita harus memulai dari hal-hal kecil yang sederhana dan kadang luput dari perhatian.

Tak elok seorang warga berbicara dan meminta muluk-muluk soal perubahan dan perbaikan sistem (smart city) dalam suatu kota misalnya, jika dari individunya saja belum bisa mandiri dan cermat menggunakan gawai ataupun juga komitmen menaati peraturan (seperti menyeberang pada zebracross atau memarkir bukan pada trotoar) dan SOP yang berlaku. Tak bijak bagi mahasiswa menuntut dihapusnya jam malam apabila dalam waktu-waktu bebas sebelum itu saja mereka belum mampu memperlihatkan mulai dari hal sederhana bahwa kegiatan yang dilakukan memang bernilai produktif dan juga berkontribusi bagi kehidupan bermasyarakat dan juga berakademisi.

Racauan 1 setengah jam sebelum Kuliah Pemrosesan Material

Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…