Langsung ke konten utama

Lingkaran Bersub-sub Lingkaran Itu...

“Waktu ibu tiga perempat habis di Smansa, seperempatnya baru di rumah. Kayaknya ibu udah cinta mati sama Smansa."

Mendengar seorang guru mengatakan hal tersebut di sela pengajarannya, tertegun dalam hati.
Oke ibu, hati saya akan mengiyakannya.
Saya cinta mati dengan segala waktu dan aktivitas saya di sekolah ini.
Jujur saya lebih betah di smansa daripada di rumah sekalipun
Saya suka dengan hawa persaingannya
Hiruk pikuk smansa, dan kelelahannya
Dan dengan manusia – manusia  yang masih memiliki indera perasa
Hingga rasa peduli pun tumbuh, kekompakan dalam perbedaan terjalin
Tapi itu dulu
Sebelum saya masuk ke dalam sebuah lingkaran pergantian jenjang
Lingkaran bisu yang penuh dengan sub – sub lingkaran yang belum berbaur
Entah kenapa sampai saat ini saya belum bisa memaksimalkan aklimatisasi saya          
Waktu di lingkaran kotak itu laksana berlalu begitu lama.
Jeda bel masuk dan istirahat bak sehari lamanya.
Tidak, karena saya belum menemukan ‘taste’nya
Rasa solid dan persaudaraan masih dingin.
Sepertinya saya bisa mati membeku dan kehilangan semangat saya yang dulu
Perbedaan diremehkan seperti remah – remah roti yang diinjak
Sepertinya saya tidak kuat untuk menyumbangkan separuh waktu saya di smansa lagi
Karena dalam lingkaran kotak itu hati selalu terasa ditarik tuk pulang
Saya cinta dengan proses kehidupan di smansa
Tapi lingkaran kotak itu akan jadi onak
Sehingga saya akan terus memikirkan rumah
Sanggupkah bersabar sampai saya tidak ada lagi di dalamnya (lingkaran itu)
Padahal ini masih 1 tahun lagi.
Sedang ada 1 tahun indahnya kehidupan di smansa  terbias
Karena pikiran terkungkung dalam lingkaran  tersebut.


Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…