Langsung ke konten utama

Menantang Zona Aman Tanpa Naungan

Alkisah sekelompok pemburu ilmu kan menantang zona amannya

Berambisi tiada gentar merapatkan barisan

Guna menyusup belantara persaingan

Bahkan seantero dunia sekalipun

Siap mereka hadang dan tentang
Demi membela sebuah nama



Namun sebelumnya

Mereka menerka nerka

Terhadap putusan sang kawah candradimuka

Dalam penantian nan kian memanjang

Putusan itu belum jatuhlah juga

Hingga suatu hari terdengar kabar memerih

Bahwa sang kawah tiada bisa memberikan uapnya

Tuk naungi semua pemburu, melainkan terhadap yang terpilih

Atas nama masa lalu dan kelam rasa malu

Sang kawah tiada lagi rasa berani

Tak percaya laksana kehilangan cahaya



Hingga terpaksa pemburu lain

Tiada bernaung dan kepanasan

Sempat mereka merasa putus asa

Dan hampir yakin mereka tak bisa

Setetes embun pun tak beroleh mereka

Dan hampir pupus harapan jua



Lalu para pemburu  bangkit

Mencoba husnuzon walau sedikit

Mungkin sang kawah sedang krisis energi

Dan belum mampu membantu lagi

Mungkin ini saatnya

Membuatnya untuk percaya

Dengan ini para pemburu berupaya

Dan percaya

Awal  perih kan berakhir Berjaya

Bila bisa percaya




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seputar Informasi FTI ITB

Tura *coret* Abadi

Beberapa orang berpendapat:
Seorang berperawakan gemuk :"Tura itu yang lari - lari terus ngetok mic."
Seorang bapak berkacamata     :"Tura itu pengatur upacara, jadi sebenarnya baik tidaknya upacara tergantung dirinya."
Seorang yang mengetik entri ini: "Tura itu yang selalu berdiri di pojok altar, dan punya hak otonomi."

Huehe, apapun dan bagaimana pun orang mengernyitkan dahi ketika melihat ane lari - lari mondar - mandir altar smansa, ane tidak peduli. Meski awalnya ane agak senewen sama profesi penggerak upacara bendera yang satu ini..

"Hah, Tura? yaah..." begitulah ekspresi sedikit kecewa, kala ane tahu bakal jadi tura di Opening Smansaday 2011.

Kalo pas SMP, ane taunya tura tuh yang lari - lari muterin lapangan untuk sekadar formalitas, terus memainkan tali tiang bendera, ngetok mic, terus gabung lagi ke tempat berjejernya para petugas upacara. Ternyata kalo di smansa ga usah pake lari - lari muterin lapangan, pas upacara bendera biasa mah …

Jangan Mau Kehilangan KTM ITB

Saya memposting hal ini bukan berarti saya telah kehilangan KTM (dan mudah-mudahan tidak akan pernah). Tak usah bertanya angin apa yang membuat saya kepikiran, yang jelas saya lagi kepingin saja memposting tentang ribetnya ngurus KTM yang hilang.

Saya mengcopas informasinya dari wordpress salah satu alumni ITB, yaitu Annisa Fitri, Teknik Telekomunikasi STEI ITB 2007.

Berikut pengalamannya ketika kehilangan KTM....

Setelah terjadi peristiwa penjambretan pada gw pada 21 Februari yang lalu di Fatmawati, Jakarta, gw terpaksa mengurus kehilangan ini itu. Mulai dari surat kepolisian, blokir kartu-kartu ATM, bikin KTP lagi, bikin kartu ATM baru, dan tentu ngurus KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) hilang.

Surat kepolisian alhamdulillah cukup mudah, karena TKP lumayan dekat dengan Polres Jakarta Selatan di Blok A, jadi malam itu juga langsung dibuat. Polisi yang bertugas pun alhamdulillah baik dan ga rese, tumben.

Blokir kartu ATM juga hal yang cukup mudah, kan sekarang call centre bank online 2…