Kamis, 05 Januari 2017

“Kerjakan atau Pikirkan Hanya Sesuatu yang Berguna”



Ungkapan itu begitu sering dikatakan sebagai wujud wejangan orang lain dalam mengomentari sesuatu yang kita kerjakan atau kita renungkan. Akan tetapi, hal bagaimana yang sebenarnya dikatakan berguna itu? Menurut KBBI, arti kata berguna adalah sebagai berikut.

berfaedah; bermanfaat; mendatangkan kebaikan (keuntungan):
contoh: makanan yg baik amat ~ bagi tubuh;

Mengapa hal berguna menjadi sedemikian penting untuk dipikirkan? Karena frasa ‘hal berguna’ ini kerap menjadi penyebab seseorang marah, kecewa, sedih, merugi, ataupun prihatin kepada orang lain. Melihat medsos dikatakan tidak berguna apabila hanya membuat kita duduk manis di rumah dan tidak melakukan hal-hal fisik yang bermanfaat, sebagian orang berdalih melihat medsos membuat pikiran menjadi terbuka dan update dengan informasi di luar sana.

Melakukan sesuatu yang baik juga kadang dibilang tidak bermanfaat apabila sifatnya tidak tepat guna, tepat sasaran, dan juga tidak tepat pada waktunya. "Jangan menjadi pahlawan kesiangan” ungkapan yang santer terdengar.

Apapun motivasinya entah itu memang ingin mendapat pahala dari berbuat baik, sekadar mengejar pujian, ataupun ingin mendapat keuntungan materiil , setiap orang pasti ingin melakukan “sesuatu yang berguna”. Apabila dikelompokkan maka definisi berguna dalam realita kehidupan yang kompleks dan seringkali bersifat kondisional adalah sebagai berikut.

#Makna1
Berguna: memiliki nilai kebermanfaatan untuk orang lain, kalo bisa juga untuk diri sendiri.

Misalnya saja dengan menjadi aktivis kampus yang menginisiasi suatu gerakan perbaikan pada sistem yang berlaku di masyarakat. Tentu secara tidak langsung berkontribusi melakukan perbaikan di masyarakat juga akan mengasah  softskill dan juga hardskill (apabila sesuai dengan skill akademis yang kita pelajari di bangku sekolah).

#Makna2
Berguna: tuntas, bisa diterima dan digunakan oleh orang lain

Contoh kecilnya saja adalah dengan menyapu rumah. Kerjaan menyapu kita akan ‘kepake’ oleh orang lain kalo kita mengerti benar bahwa yang dikatakan menyapu itu tidak hanya literally mengibas-ngibaskan sapu di lantai atau dalam artian kelihatan secara formalitas kalau kita sedang menyapu, tetapi  membersihkan secara tuntas debu-debu pada area kita menyapu, membersihkan spot-spot yang tidak terlihat oleh mata seperti kolong meja atau tempat tidur membersihkan sampah di atas meja, dan juga membersihkan dengan kemoceng area-area yang tidak bisa dibersihkan dengan sapu.

Serupa juga dengan itu, apabila kita diminta orang lain untuk  menemani mereka pergi ke suatu tempat. Secara tidak langsung orang itu juga meminta kita untuk menjadi pemandu, menjadi penasihat di perjalanan, dan juga mengingatkan mereka kalau ada barang-barang mereka yang tertinggal ketika shalat , mengantri, dan sebagainya. Kita harus membaca tanda-tanda itu dan memaknai satu kata pemintaan mereka secara mendalam dan menyeluruh.


#Makna3
Berguna : bisa dilakukan, feasibel solusinya

Memikirkan hal yang mustahil untuk direalisasikan juga sering dikatakan tidak berguna. Untuk apa memikirkan olahraga apa yang bisa membuat tinggi badan kita naik 20 cm kalo kita mikirinnya baru di umur 20 an. Udah lewat masanya kalo kata orang bilang.

#Makna4
Berguna: memiliki kedekatan dengan kita, terjangkau

Memikirkan mengapa seorang artis terkenal tidak melakukan hal yang menurut kita logis juga sepertinya tidak berguna. Pertama, apakah artis itu punya hubungan kerabat yang dekat dengan kita? Kalo tidak lupakan. Kedua, apakah kita punya  akses komunikasi secara langsung ke artis itu? Kalo tidak lupakan. Memikirkan solusi yang tidak bisa kita sampaikan kepada orang yang membutuhkannya kadang bisa jadi se-wasting time itu.

#Makna5
Berguna: sejalan dengan tujuan kita

“Kalo menurut gue mubazir sih.”

Begitulah respon teman saya yang kuliah di FKG UI ketika mendengar bahwa saya ingin masuk Teknik Fisika hanya untuk mendalami hal yang kurang saya sukai untuk belajar survive dan mengabaikan pekerjaan impian saya menjadi seorang businessman. Semakin dewasa, kita tidak bisa seperti anak SMP atau SMA lagi yang bisa merambah segala hal, kita harus memilih apa yang ingin difokuskan dan dikejar. Karena  semua aspek di dunia yang kelihatannya sederhana sejatinya tersusun atas hal-hal yang kompleks dan tidak bisa dipelajari dan ditekuni secara setengah-setengah. Apabila  kita tidak memfokuskan diri maka selamanya kita tidak akan mencapai apa yang kita kejar, atau bisa tercapai tetapi waktunya akan sangat lama dan effort yang dibutuhkan akan sangat besar karena kita tidak fokus. Jadi seiring menuju dunia kedewasaan,  tentukanlah apa yang menjadi tujuan utama kita dan tinggalkan hal-hal yang tidak sejalan. Dalam hal ini, hal-hal yang tidak sejalan itu definisinya bergeser menjadi sesuatu yang kurang berguna.

#Makna6
Berguna: menguntungkan diri sendiri, belum tentu membantu orang lain.

Ketika seseorang menjadi egosentris  ia hanya ingin melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Beberapa orang berdalih mereka tidak selalu memiliki waktu yang cukup dan kemampuan mumpuni untuk membantu orang lain. Mereka khawatir membantu orang lain dalam lingkup tertentu justru akan merugikan diri mereka sendiri. Bagi orang-orang ini, memberikan amplop pada pernikahan teman mereka sedangkan kondisi mereka pada saat itu masih tuna karya seringkali menjadi hal yang kurang berguna.

#Makna7
Berguna: tak berguna untuk sekarang, memiliki efek positif di masa yang akan datang.

Olahraga ataupun menabung kelihatannya tentu tidak berguna secara real-time. Namun, setiap orang tentu saja apabila mereka memiliki banyak waktu dan tidak memiliki utang piutang atau tanggungan biaya yang begitu besar mereka akan melihat dua hal itu sebagai sesuatu yang sangat berguna.

Mempelajari sesuatu yang tidaksesuai dengan koridor pekerjaan kita tentu tidak selalu terasa berguna, tetapi itu hanya karena kita belum tahu sesuatu itu akan berguna kapan, di mana, dan untuk siapa sampai akhirnya kita menyadari bahwa alur hidup kita bisa sedinamis  dan serandom itu.

#Makna8
Berguna: penting dan genting

Dalam ranah skala prioritas, sesuatu yang penting tentu tidak selalu berguna, apalagi jika kita berada dalam dilemma memilih mempergunakan waktu kita yang sempit untuk melakukan yang penting tapi tidak genting atau melakukan hal yang genting dan penting. Akhirnya, hal-hal yang penting tetapi tidak genting bergeser maknanya menjadi sesuatu yang tidak terlalu berguna untuk dikerjakan pada saat yang mendesak itu.

#Makna9
Berguna: menghasilkan duit

Dalam keadaan sudah lulus kuliah, tetapi masih  belum mendapat pekerjaan, ungkapan segala sesuatu yang kita nilai produktif, etis, atau bermanfaat tetapi tidak menghasilkan pendapatan dan hanya meningkatkan pengeluaran akhirnya dinilai sebagai hal yang nirfaedah. Walaupun uang bukan sesuatu yang pantas dijadikan tujuan, melainkan sekadar alat pencapaian tujuan kita semata, kita tak bisa menapik kalau kebutuhan hidup kita selalu berhubungan dengan uang, uang, dan uang. Kita tidak bisa hadir rapat yang membahas isu kemanusiaan terbesar jika tidak memiliki uang untuk ongkos ke sana, berjalan kaki hanya pemikiran orang-orang zaman herkules yang belum mengenal peradaban kendaraan bermesin. Bahkan untuk ke WC atau sekadar parkir sebentar pun kita harus memiliki selembar uang 2000. Apabila sudah begini, segala aktivitas yang menghasilkan uang dinilai lebih berguna ketimbang  mengabdikan diri menjadi aktivis sukarela di usia yang sudah sepantasnya untuk bekerja mencari penghasilan.

Berdasarkan sembilan ragam makna dari sebutan “hal berguna” di atas maka definisi mana yang sesuai dengan kondisimu secara real-time saat ini?

Berkaca Diri



Saya sedang mencoba mengenali diri sendiri, sudah umur 21 tahun seharusnya saya sudah tau saya orang yang seperti apa, dan cocok mengisi relung di bagian mana.
Beginilah saya, Mahendra yang kata orang saya seringnya memiliki dunianya sendiri yang kerap kurang dipahami oleh mayoritas orang.
Saya memiliki ketertarikan pada banyak hal. Saya suka mencoba sesuatu yang baru. Ditandai dengan mudah bosannya saya berkutat lama-lama pada sesuatu yang sama. Semasa SMP pun saya menggeluti banyak hal dari LCT Agama, Lomba Biologi, dan juga Lomba Membuat Puisi dalam sekali jadi. Saya sadari ini membuat saya kurang bisa total dalam mempelajari sesuatu  terutama untuk meraih juara satu. Saya menjadi kurang mahir pada suatu hal karena mudah beralih dari hal yang satu ke hal lainnya. Kadang ini juga yang membuat saya kurang bisa berkomitmen pada segelintir hal yang bersifat kontrak jangka panjang.
Saya menyukai menulis, dibuktikan dengan blog estafet kehidupan yang sering saya update. Hal yang menurut saya perlu dipoles dan diasah lebih jauh lagi adalah kemampuan nalar dan logika saya dalam menceritakan sesuatu, dan juga wawasan saya yang seharusnya membuat tulisan itu menjadi kaya dan juga netral.
Saya menyukai jalan-jalan, dalam kota maupun luar kota, terutama ke tempat-tempat baru. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme saya apabila ada orang yang mengajak  jalan-jalan, saya pasti akan langsung mengiyakan. Akan tetapi, saya juga memiliki kelemahan, mudah capek,mudah berkeringat, dan kurang bisa menggunakan WC umum sehingga saya cenderung lebih menyukai jalan-jalan ala traveler, bukan backpacker.
Saya  cenderung apresiatif terhadap karya orang lain, utamanya seni dan sastra. Dibuktikan dengan saya yang mudah berlama-lama memerhatikan suatu karya yang dipajang. Sebagai mahakarya dari seorang koki, penampilan penyajian makanan pun kerap saya abadikan dalam foto karena saya pikir saya membeli tidak hanya gizi dan rasa dari makanan itu, tetapi juga penampilan penyajiannya.
Saya pelupa dan kurang bisa spontan apabila ada perubahan mendadak. Hal ini menjadikan saya sebagai orang yang bisa siap kalau segalanya sudah direncanakan. Sifat pelupa saya juga mendorong saya untuk membuat check-list dan mengorganisasi segala sesuatunya dalam klasifikasi-klasifikasi tertentu. Akan tetapi, rasa malas kadang menjadi penghambat saya untuk menjadi orang sistematis dan terorganisasi. Mudah melupakan long term memory juga mendorong saya untuk membuat tulisan yang bersifat “Apa yang Saya Dapatkan Hari Ini?” setiap harinya. Akan tetapi, lagi-lagi rasa malas dan kurang bisa memanajemen waktu dan semangat menyebabkan motivasi itu menjadi kendur.
Kira-kira dengan pribadi saya yang seperti di atas, pekerjaan apa yang cocok dan menjadi passion hakiki untuk saya geluti? Saya masih merenungkan jawabannya.


Senin, 02 Januari 2017

Kenapa Harus Sedih Liburan Berakhir Kalau...

1. Di tempat kerjamu ada segudang karya fantastis yang menunggu untuk ditelurkan
Programming ibarat kode misteri yang harus dipecahkan dalam sebuah cerita petualangan. Grafik atau infografis adalah bentuk sederhana dari cara kita menginterpretasikan kompleksitas hidup, ruang bosmu adalah wahana untuk mengolah rasa dan olah suara dengan mengekspresikan kemampuan beraktingmu sebagai manusia ideal. Laporan adalah caramu menghargai dan mengeksplorasi kekayaan pembendaharaan bahasa Indonesia dan juga  meningkatkan skillmu menggunakan word dan excel secara maksimal. Apabila rutinitas kerja telah dijadikan sebagai ritual untuk menghayati dan mengapresiasi hidup maka bukan tidak mungkin tempat kerjamu akan menjadi wahana bermain yang mengasyikan.

2. Obrolanmu tiap hari dengan rekan kerjamu adalah suatu hal filosofis dan inspiratif untuk dicatat.
Manusia adalah makhluk yang kompleks dengan tingkat inteligensi tertinggi dalam taraf kehidupan organisme. Setiap hari orang memiliki berbagai pemikiran baru, istilah baru, cerita baru, dan juga informasi baru. Jika kau konsisten menulis ulang kembali apa yang kau dengar, perbincangkan, atau diskusikan dengan rekan-rekan kantor bukan tak mungkin kau mendapatkan segudang mentahan informasi-informasi berharga yang bisa kau ekstrak menjadi buku nonfiksi bermanfaat.

3. Ada sejuta objek artistik di sekitar tempat kerja yang bisa  menjadi spot ala-ala foto instagrammu yang tak akan bisa tereksplor walau dengan alokasi waktu 6 bulan
Bahagia itu sederhana, tak harus selalu mengeluarkan uang untuk mendapatkan kebahagiaan, tak selalu harus membayar tiket masuk untuk menikmati wahana atau spot yang menyenangkan. Bukalah mata lebih lebar, perhatikan  sekitar, ada selaksa objek di sekitarmu yang bisa jadi latar yang ciamik untuk di-upload ke instagrammu. Dari mulai gaya minimalis, doortrait, tembok hits, sampai abstraksi, kau bisa memanfaatkan potensi artistik objek-objek di sekitar tempatmu bekerja. Cukup dengan berinvestasi untuk membeli kamera manual DSLR yang bagus, maka kau akan merasa seluruh objek di sekitar tempat kerjamu akan menjadi mengasyikan untuk ditelusuri, ada human interest object yang harus dikejar momennya, ada jatuhnya dedaunan yang menarik untuk dijadikan background presentasi pagi ini.

4. Pekerjaanmu adalah hobi yang dibayar
Kenali passionmu, sadari pada kegiatan apa kau merasa tak seorangpun dapat mengganggumu, tak sederajatpun naiknya suhu lingkungan mengusik animomu bergerak dan berkarya atas sesuatu yang kau senangi. Kita bisa melihat bagaimana Ridwan Kamil memaksimalkan pekerjaannya sebagai sarana untuk mengembangkan diri dan terus berkarya. Beliau senang menggambar, mendesain, dan merancang. Imajinasinya membuahkan hasil berupa kemudahan dan kegembiraan bagi masyarakat kota. Sosial media yang biasanya hanya menghabiskan waktu oleh tangan dinginnya mendadak menjadi begitu bermanfaat dan tak henti-hentinya menularkan inspirasi dari sebuah foto sederhana, atapun tweet-tweet pendek yang terkandung misi besar di dalamnya.

5. Kau bisa  membuat satu buah novel chick-lit setiap bulan atau cerita pendek setiap minggu yang bahan-bahannya bisa diambil dari percakapan di kantor maupun berita di televisi pagi hari, ataupun randomitas yang kau lihat sepanjang perjalanan menuju kantor.
Benang kusut derak roda kehidupan sulit untuk diurai karena percabangannya begitu banyak dan posisi titik bifurkasinya begitu random. Kepingan formasi informasi yang menginspirasi yang kau peroleh hari ini akan bersifat unik dan tidak akan pernah kau dapatkan esok hari. Sekelumit kalimat yang kau dengar hari ini tentu akan berbeda sedikit atau banyak terhadap kalimat-kalimat di hari selanjutnya. Urutan kejadian yang terlihat sepanjang perjalanan pasti akan berubah pola keesokan harinya dan hari-hari kemudian, dan belum tentu pula kejadian-kejadian dan objek-objek bergerak hari ini yang kau lihat, dapat kau jumpai lagi keesokan harinya. Bahan cerita untuk novel atau cerpenmu tidak akan pernah habis. Hidup selalu menyuguhkan bahan cerita yang menarik dan inspiratif setiap harinya untuk kita olah menjadi sebuah roman yang sarat nilai kehidupan. Kejadian secara acak dan obrolan singkat yang terjadi setiap saat akan menelurkan rupa cerita yang memiliki kedekatan terhadap orang yang membaca ceritamu. Ceritamu akan lebih terasa hidup karena detil-detil yang kau jabarkan begitu kuat, kental, dan mendalam karena memang yang menjadi inspirasi latar dan penyuasanaan ceritamu adalah objek-objek yang  kau lihat dengan mata kepalamu sendiri.

6. One day two ayat Al-Qur'an
Tua di jalan, lumutan di ruang tunggu, hanyalah keluhan yang dilontarkan bagi mereka yang kurang bisa melihat sisi baik dari waktu kosong yang datang tidak pada tempatnya. Menjadi pengguna angkutan umum merupakan keuntungan tersendiri karena kita tak perlu fokus menyetir dan akhirnya bisa membuka mushaf untuk membaca satu sampai dua ayat dan menghayati maknanya. Menunggu bosmu di ruang tunggu bisa diisi dengan mengingat kembali apakah nilai-nilai kehidupan dari ayat yang kau baca pagi ini sudah kau terapkan di keseharian, jika tidak evaluasi bagaimana agar bisa menjalankannya. Kegabutan menunggu putaran magnetic stirer untuk menyempurnakan larutan bisa kau selingi dengan mengulangi dua ayat yang telah kau baca pagi ini dan merasakan keindahan sastranya.
Jadi, untuk apalagi merasa suram untuk pergi ke kantor esok hari?

[Hari Pertama 2017]

Tidak ada yang terlalu spesial selain menemukan fakta kalau mie kocok depan Mawar Bogor sudah habis menjelang pukul 21.00 WIB dan juga kalau mau transfer dari BRI ke bank lain tidak bisa lebih dari 5.000.000,00 rupiah.

Minggu, 01 Januari 2017

Bermalam Ala Gelandangan di Ibukota

Diambil dari sini



Atas dasar empat alasan, saya dan teman saya sebut saja namanya Gunawan memutuskan untuk tidak ke Bogor dan menginap di rumah saya. Jumat, 30 Desember 2016, sehabis berjalan-jalan ria di ibukota, kami berkelana di kota tua sampai Magrib. Teman kami, sebut saja Budi, sudah kembali ke Bekasi selepas isya. Tinggal kami berdua di stasiun kota dan berencana untuk menikmati hiburan ditemani temaram lampu kota dan menjajal kuliner sepanjang jalan kota tua.

Menjelang malam tahun baru, keadaan di kota tua kian malam kian ramai. Banyak pedagang makanan dan minuman menggelar ponco ataupun tikar di pedestrian untuk menjajakan dagangannya. Sempat terbesit di pikiran Gunawan kalo mereka hanya ingin bisa menginap di ibukota dengan kedok berjualan di ibukota. Hmm, entahlah.  

Sampai jam 8 malam keadaan masih adem ayem saja,kami terpesona dengan hiruk pikuk malam yang disemarakan oleh lampu-lampu kendaraan yang berseliweran, dan juga cahaya kelap-kelip yang berasal dari mainan anak yang diperjualbelikan. Akan tetapi, semakin larut barulah kami sadar ada sesuatu yang penting yang harus segera ditentukan dan didefinisikan. Dan sejurus kemudian kami tersadarkan bahwa menginap di masjid ternyata bukanlah rencana yang bisa diterapkan di semua daerah.

Masjid
Kalau di samping ITB ada Salman, maka di Jakarta nyatanya hidup tak seindah kisah romansa anak kampus di ibukota. Gerbang masjid dekat stasiun sudah dikunci entah sejak kapan, dan di istiqlal ternyata hanya diperbolehkan berdiam diri sampai jam tertentu saja  atau menginap dengan alasan khusus atau momen tertentu untuk menghindari gelandangan yang numpang bermalam.

Menyadari masjid dekat stasiun tak bisa diharapkan dan sudah digembok, kami kemudian berjalan tanpa kepastian, mengikuti pedagang antah berantah yang berjalan mendorong gerobaknya. Ketidakjelasan membawa kami pada pertigaan suatu jalan. Kemudian lagi-lagi kami terpikirkan suatu tempat aman untuk bernaung dari buasnya malam.

Kantor Polisi

“Pak, bolehkah kami menumpang menginap di penjara?”

Terlalu fantastis dan bad ass untuk didengar. Kenyataannya memang kami  tak sepatah katapun mengutarakan keinginan untuk menginap di sana kepada petugas polisi dan tak seujung kukupun kami mendatangi kantor yang terkenal sebagai tempat yang dihindari dan didatangi oleh orang-orang bermasalah itu.  Itu hanya pikiran pasrah dua anak muda yang kalap karena tak menemukan tempat gratis untuk menginap.

Hotel Jalan Kopi

“Kalo mau menginap bisa ke jalan kopi, tapi setau saya tidak ada yang murah kalo di kota tua. Kalau yang murah lebih baik ke daerah Gunung Sahari.”
-Kasir sebuah toko kelontong modern

Yang murah pun palingan juga masih di atas 100 ribu. Kami merasa rugi menginap di hotel hanya semalam saja, kalau malam ini harus menginap di sana seharusnya kami sudah take in dari pagi dan menggunakan segala fasilitas hotel tersebut untuk menepiskan rasa bersalah merogoh kocek agak dalam.

Kos-kosan

Mencari kosan untuk berlibur selama sebulan rasanya normal-normal saja, tapi hanya untuk semalam? oh tidak bahkan, hanya untuk 8 jam? Rasanya sulit dan juga kami malas mengetok-ngetok pintu ibu atau bapak kos yang belum tentu mau mengambil tawaran 20 ribu permalam untuk 1 kamar dari kami.

Pos Ronda

Opsi yang ini sepertinya cukup feasible, dan  sepertinya cukup mengcover salah satu kebutuhan menginap yang paling kami harapkan : aspek keamanan. Setidaknya selama 8 jam kami bisa ronda keliling kampung. Tapi akhirnya ide itu terlalu gokil dan menguras harga diri untuk direalisasikan.

Rumah Salah Satu Penduduk

Entah dikira perampok lungsuran dari PuloMas atau renternir berkedok wajah anak muda kami tak bisa membayangkannya jika kami jadi mengetuk pintu ribuan rumah di daerah ini. Lagi pula siapa orang random di sana yang bisa kami percaya untuk mengantar kami ke rumah yang memang bisa disebut rumah, jangan-jangan kami diajak masuk ke sebuah gang sempit kemudian belok ke tempat gelap, dan akhirnya muncul keluar di surat kabar harian esok pagi.

Hostel

75 ribu permalam di kota Glodok, rasanya wajar. Tapi tunggu, rasanya ini sudah malam dan untuk menginap selama 6 jam dengan biaya 75 ribu? Lagi-lagi kepelitan kami membiaskan semua kekhawatiran menghadapi malam yang kian larut.


Emperan Stasiun

Gratis dan meyakinkan. Setelah pencarian dan pemikiran panjang tak berujung akhirnya kami melabuhkan diri di tempat yang kami rasa cukup aman untuk disinggahi: stasiun kota. Di luar sana mendekati tengah malam keramaian masih tampak di kejauhan, tapi kami tak mau tertipu. Daripada mengambil risiko berjalan-jalan tanpa juntrungan di tengah malam dalam gemerlap kota tua tempat berbagai macam rupa kepentingan saling bermobilisasi, yang bisa jadi banyak serigala malam seperti begal dan preman yang berpura-pura, akan lebih baik berlagak seperti turis yang menunggu dijemput. Caranya ya dengan berdiam diri di stasiun kota.

Kami begitu yakin emperan stasiun bagian dalam akan menjadi tempat yang nyaman untuk bermalam. Berbekal izin untuk menunggu kereta jawa yang datang pukul 4.45 kami berjudi dengan kemungkinan yang akan terjadi. Tepat pukul 10.30 malam, Gunawan dan saya mengambil posisi tidur dengan bersandarkan dinding stasiun ditemani nyamuk-nyamuk yang berkeliaran. Food court-food court sudah pada tutup kecuali salah satu toko kelontong. Perjudian kami  akan ditentukan pada pukul 11.45 malam, ketika kereta terakhir berangkat dari stasiun kota, kalau lewat tengah malam kami tidak diusir berarti menginap di sana memang diperbolehkan.Dan kami akan mendapatkan tempat menginap gratis yang cukup nyaman.

Namun, ibukota memang lebih kejam daripada ibu tiri. Angan-angan untuk mendapatkan tempat bernaung yang aman dan nyaman kandas saat petugas stasiun mulai mensterilkan stasiun dan mendesak kami ke pintu keluar stasiun. Alasan menunggu kereta jawa jam 5 pun urung kami sebutkan.  Lewat tengah malam, akhirnya nasib mengantarkan kami untuk tidur di emperan luar stasiun bersama beberapa rombongan yang sama-sama sial.

Beginilah kami, dengan beralaskan tangga kami mengabaikan papan larangan duduk di tangga stasiun. Terali besi pintu stasiun kota menjadi bantal yang harus disugestikan empuk. Dengan harap-harap cemas saya berharap turis-turis di sekitar kami juga akan menetap di sini bersama kami sampai shubuh karena kalau mereka pergi, kondisi saya dan Gunawan yang hanya berdua saja tentu akan menjadi mangsa empuk bagi orang-orang jahat yang ingin mencari kesempatan .

Malam semakin larut, orang-orang yang terlantar bersama kami di emperan stasiun mulai pergi satu per satu. Dimulai dari rombongan bapak-bapak dan keluarganya yang naik ke mobil yang datang menghampiri mereka, entah memang salah seorang sanak saudara atau layanan kendaraan online saya tak ambil peduli.

Rombongan pendaki yang duduk dekat kami juga akhirnya pergi menembus sisa-sisa keramaian malam, sempat menguping sepertinya mereka telah menemukan tempat menginap dadakan dan berencana memesan uber.

Jam menunjukkan pukul 00.30, menunggu 3 setengah jam di tempat yang mungkin kurang berperikemanusiaan dan sesekali bau pesing ini sepertinya merupakan hal wajar, itu tadinya yang saya pikir. Gunawan sudah terlelap dalam tidur dalam posisi tekuk menekuk yang anggun bersandarkan terali besi, sesekali terbangun untuk mengecek apakah saya mengambil foto gaya  tidurnya yang malang atau tidak dan kemudian tidur lagi.

Kondisi HP saya saat itu tinggal 30%. “Bagaimana ini?” batin saya memikirkan rencana untuk memesan kendaraan online yang dapat mengantarkan kami ke istiqlal shubuh nanti. Jika hape saya mati maka saya dan Gunawan akan lebih lama mendekam di tempat durjana ini. Walhasil hape langsung saya matikan karena di sana juga tidak ada colokan (lagian siapa juga yang berbaik hati memasang colokan di tembok luar stasiun)

HP yang mati dan ketidaktahuan terhadap waktu membuat saya bosan setengah mati. Saya hanya bisa menatap nanar pada temaram lampu kota yang ternyata cukup memusingkan kepala. Abu rokok beterbangan dari segala penjuru, sepertinya memang  tidak akan ada orang baik-baik yang bisa berpikir segila kami untuk bermalam di emperan luar stasiun kota. Mereka tentunya lebih memilih merelakan mengeluarkan uang untuk penginapan terdekat ketimbang menantang kehidupan malam di ibukota demi sekadar menginap gratis.

Perlahan tapi pasti, kami berdua sama-sama mulai mengerti bagaimana rasanya menjadi gelandangan ibukota yang tak memiliki tempat untuk pulang. Saya bersyukur memiliki tempat kembali di Bogor, dan Gunawan mensyukuri ia memiliki tempat berpulang di Bengkulu. Walau semalam saja, pengalaman ini akan terus diingat seumur hidup dan tak ada satupun dari kami yang berniat mengalami untuk kedua kalinya.

Jakarta telah menunjukkan sisi kelamnya yang membentuk karakter keras penduduknya. Sekitar pukul 02.30 dini hari rombongan anak-anak ABG yang semuanya laki-laki sekonyong-konyong mendatangi tangga tempat kami bersandar dan duduk-duduk di sebelah kami. Saya sontak merasa terganggu dan bergeser ke anak tangga sedikit naik ke atas. Keadaan masih normal walau agak mengganggu karena jumlah mereka cukup banyak. Tiba-tiba saja dari kejauhan datang pria berkupluk yang turun dari sebuah bemo biru. Ia mendatangi anak-anak itu dan berbicara tentang sesuatu yang tidak jelas.


“Eh, Ayo sini, ikut.”

Kurang lebih itulah sepatah kata yang saya dengar. Saya tidak mau terlalu memerhatikan dan pura-pura serius menatap lampu kota (yah itu saja yang bisa saya lihat soalnya, apalagi). Di luar sini dan sedini ini tidak aman bertindak sok pahlawan. Lebih baik acuh tak acuh daripada menjadi pahlawan kesiangan di kegelapan malam.

Mendadak saja, salah satu anak di sebelah saya bergeser  tempat dan mendekati saya seraya berseru dengan muka memelas,
“A, tolongin saya A, saya ditodong A”

“Apa sih.” Saya terkesiap dan langsung memasang muka garang. Adrenalin saya memuncak, saya memperbaiki posisi tas dan juga bergeser mendekati Gunawan yang lagi-lagi masih tidur dengan lelapnya bersandarkan terali besi.

Anak itu ikutan bergeser, saya semakin waswas jangan-jangan ini modus pencopetan berkedok korban penodongan, entahlah apa seharusnya. Cuma keamanan saya dan Gunawan yang saya pikirkan. Jangan sampai berbuat bodoh.

Pria berkupluk tak menghiraukan keengganan anak-anak itu. Ia terus saja merayu dan mengajak dengan nada memaksa agar anak-anak itu ikut dengannya. Saya dilema tapi saya tak mau kelihatan terlibat.

“A, nitip tas A.” Anak yang lainnya mejatuhkan tasnya di sisi saya, mungkin karena tak mau tasnya diambil.

“Ngga! Apaan.”  Cetus saya sedikit berteriak. Lagi-lagi saya terpaksa harus berlagak acuh tak acuh dengan nada kesal dan memperketat pegangan tas saya. Gunawan terbangun, hanya untuk memasang tampang heran dan bodo amat, kemudian tidur lagi, bisa-bisanya sleeping beauty tetep tidur di medan perang emang -_-“

Akhirnya setelah beberapa saat pria berkupluk pergi dengan membawa sebagian anak, sementara sebagian yang lainnya mendekati orang-orang lain yang duduk di dekat tiang. Sepertinya mereka memang sedang berada dalam kesulitan. Saya tak terlalu merasa bersalah karena kondisinya saat itu saya memang hanya berdua dengan Gunawan, daripada kami yang kena semprul, ya sudahlah.

Setelah peristiwa aneh dan agak-agak menegangkan itu, saya mulai lebih memerhatikan sekitar. Pria botak berkacamata yang sedang menonton bokep. Sepasang, hmm sepertinya pasutri, dengan tujuan kereta ke Banten, tidur bergantian dan saling pangku memangku begitu so sweet untuk dlihat. Dua orang anak laki-laki yang tidur di blok tanaman dan sedang merokok. Tiga orang yang sepertinya kakak beradik dengan muka yang sama kucelnya dengan anak-anak yang mengaku ditodong tadi. Beberapa bapak-bapak bercelana pendek. Hanya perlu tambahan banci taman lawang untuk memperburuk keadaan. Seketika saya merasa kasihan terhadap teman saya dari Bengkulu ini yang sekalinya ke Jakarta langsung melihat versi undercovernya.

Setelah melalui berbagai pemandangan lalu lalang kendaraan aneh yang menjengahkan mata mulai dari pengendara-pengendara tanpa helm yang saling berpegangan tangan padahal beda motor, koloni motor vespa yang berfoto dan yang memfotonya berdiri di tengah jalan seolah menunjukkan siapa penguasa jalan sesungguhnya dan  mengganggu pengemudi lainnya, sampai aksi ‘mengagumkan’ pengendara berjaket biru yang mengendarai motor hanya dengan satu roda karena roda depannya terangkat, saya yakin Jakarta lewat tengah malam memang gudangnya inspirasi bagi para penulis novel genre hitam. Rasanya seperti melihat realita sesungguhnya dari sinetron anak jalanan dan film The Purge, hanya saja tampang aktornya lebih realistis.

Tak mampu tidur sama sekali, kemudian saya melihat sudah pukul 03.33. Saya memutuskan untuk memesan Go-C*r dan harap-harap cemas agar tidak mendapat pengemudi yang urakan dan membawa pistol seperti yang diberitakan Line Today.  Sempat terpikir siapa pula orang baik-baik yang berkendara jam segini. Tidak adanya pilihan lain membuat saya menekan tombol order dengan tujuan masjid Istiqlal.

Alhamdulillah, dapat satu pengemudi yang akan datang 3 menit lagi. Saya membangunkan Gunawan dari tidurnya yang entah sudah ronde keberapa kali. Ketika mobil pun tiba, saya dan Gunawan kemudian masuk dan diantar seraya melihat wajah jalanan ibu kota yang ternyata masih menyisakan manusia di pinggir jalan. Sekilas saya melihat wanita dengan postur SPG terlihat di kiri jalan, mematung, seperti menunggu sesuatu, terlihat aneh karena posisinya tidak seperti orang yang menanti jemputan dan di sebelahnya ada motor.

Selang beberapa waktu kemudian kami tiba di masjid istiqlal melalui gerbang seberang katedral. Rasanya nikmat bukan main menemukan banyak orang-orang berkopiah dan berkerudung. Sangat jauh berbeda dibanding emperan durjanan tempat kami bernaung dan curiga pada setiap orang yang bermalam di sana.

Setelah itu Gunawan mandi menjelang shubuh, saya tidak mandi karena  ternyata banyak pula orang yang ingin memakai kamar mandi. Usai shalat Shubuh kami tidur dengan lega beralaskan permadani masjid yang empuk, bukan lagi terali besi ataupun emperan tangga stasiun yang kotor. Sekian.