Minggu, 27 November 2016

Dari Pojok Pikir Manusia yang Tuna Metamorfosa



Masa-masa kuliah adalah cerminan dari sepenggal perjalanan hidup. Empat tahun yang dilalui dapat menjadi penuh warna atau hanya seberkas cahaya monokrom, itu hanya soal pilihan. Namun, yang terpenting adalah apakah selama 4 tahun tersebut telah nampak perubahan yang terjadi pada diri ini? Sesignifikan itukah?

Sebagai mahasiswa Teknik Fisika ITB 2013, perjalanan demi perjalanan telah saya lewati. Entah berupa kisah haru biru maupun yang suram dan seram, pada akhirnya akan menjadi serangkaian proses yang semestinya membentuk diri saya di penghujung kemahasiswaan ini.

Teman-teman saya telah menemukan jalan hidup mereka, peran terpenting dalam hidup mereka sesungguhnya. Yang di UGM benar-benar mantap memutuskan mengorbankan organisasinya atau akademik, tak luput pula menuangkan hobinya dalam sebentuk fanfic manga yang sudah memiliki barisan penggemarnya tersendiri, yang di ITS, seakan menemukan belahan hati yang selama ini dicari, menjadikan hari-harinya tak pernah lepas dari eksplorasi sudut kota dan sesekali mengabadikan romantismenya dalam sebuah wujud foto tanpa caption. Yang di UNS semakin memberdayakan dirinya untuk masyarakat, dan melanjutkan benderang kehidupan berorganisasinya yang ia rintis dari masa SMA, sementara yang di UI mengisi hari-harinya dalam ruang diskusi permasalahan sosial ibukota.

Sementara saya masih termangu dan meraba-raba. Hendak menjadi apa saya esok hari? Kata orang setiap orang akan menemukan ‘The Real I am’ nya masing-masing pada usia 21 yang seharusnya sudah cukup matang ini. Namun tak sedikit pula dari kita yang merasa masih menjadi amoeba, tak jelas bentukannya apa. Hingga kemudian orang pun akan bingung mendeskripsikan diri kita hendak seperti apa.

Babak demi babak kehidupan sebagai mahasiswa ITB telah saya lalui. Dari mulai mengikuti empat pelantikan organisasi, menonton berbagai pertunjukan unit kebudayaan ITB untuk menambah kecintaan dan kepekaan terhadap budaya Indonesia, mengikuti seminar ini seminar anu, berpartisipasi di berbagai kepanitiaan, berefleksi diri dengan berkonsultasi di bimbingan konseling kampus, mengikuti kunjungan alumni, kunjungan ke acara kick Andy, kunjungan ke Majalah Gatra di Kalibata, dan sebagainya, mendatangi segala event-event kota di Bandung, menghayati hingar bingar pertunjukannya dan mencoba mencari esensi yang ingin disampaikan di dalamnya, mencicipi sebanyak lebih dari 50 ragam kuliner di Bandung, mulai dari sesimpel nasi goreng , sehedon saladnya maja house, semerakyat hidangan rumah Bu Imas ataupun Ceu Mar, ataupun sehistoris roti gandum coklat di jalan gempol. Saya pun telah mendatangi berbagai tempat wisata alam di Bandung dan juga bergabung dalam kegiatan salah satu komunitasnya, yaitu Aleut untuk melihat sisi-sisi Bandung yang tidak biasa yang selama ini kurang tersohor pada brosur wisata maupun website di internet. Acara-acara terpusat di kampus pun tak jarang saya datangi untuk mereguk pola pikir dan semangat bermimpi dan bergerak dari kemahasiswaannya.

Akan tetapi, sepertinya ada sesuatu yang salah. Semestinya asam garam kehidupan kampus dan juga Bandung pada umumnya paling tidak akan mengembangkan seseorang menuju kepribadiannya yang lebih baik lagi. Nyatanya saya tak merasakan perubahan itu secara signifikan pada softskill maupun hardskill.

Beberapa aspek diri yang saya tinjau tak ada perkembangan yang berarti, di antaranya:
1.       Dari segi kemampuan menyampaikan gagasan pikiran, saya belum bisa menjadi pembicara yang baik di depan umum. Tak mampu menyampaikan gagasan yang menarik perhatian dan diterima oleh massa tempat saya bernaung. Dalam konteks yang lebih personal pun, saya masih belum bisa membagi value-value yang berguna buat teman maupun adik unit dan adik tingkat saya. Ini tentu bertolakbelakang dengan kenyataan bahwa saya sering mengikuti forum-forum diskusi kampus. Mengapa saya tak bisa belajar? Apakah hidup saya memang lebih banyak dipenuhi oleh unsur nirfaedahnya. Saya tak mengerti, boleh jadi selama ini saya memang tidak pernah serius mengikuti prosesnya, hanya selewat dua lewat kemudian hilang dari pikiran seiring pergantian hari . Alhasil tak ada satupun babak-babak kehidupan kampus yang meninggalkan jejak dan memberi sesuatu pada perkembangan pola pikir saya.
2.       Dari segi tulisan, beberapa teman mengatakan potensi diksi saya bagus, hanya saja alur tulisannya masih sering tersesat. Mungkin itu karena obsesi saya untuk menyuguhkan berbagai macam informasi sedetil-detilnya, sebanyak yang saya tangkap dalam wujud satu tulisan yang padu. Akan tetapi jatuhnya malah tidak fokus dan menjadi kurang enak dibaca dan akhirnya masih belum memenuhi kriteria tulisan yang layak menjadi konsumsi public.
3.       Dari segi kemampuan berkomunikasi untuk mengambil hati dan memengaruhi orang lain pun saya masih belum bagus. Padahal saya sering berhubungan dengan figure-figur kampus yang sanggup memengaruhi orang lain dengan sepatah dua patahnya katanya saja. Mengapa saya tidak bisa meniru? Saya juga ingin seperti beberapa orang figur di himpunan yang keberadaan mereka selalu menarik perhatian dan dinanti oleh orang lain. Setiap cuap kata yang keluar dari mulut mereka dapat menghibur orang di sekitarnya. Saya belum seperti itu dan kerap mengalami frozen moment, apalagi kalau lawan bicara saya hanya satu, topik habis berikut antusiasmenya.
4.       Sebagai mahasiswa teknik seharusnya saya menguasai paling tidak satu atau dua software, seperti pemrograman matlab atau pun solidwork. Yang ada hanya kata ‘boro-boro’. Boro-boro mau menjadi ahli di software-software yang bersifat keteknikan seperti itu apabila bikin slide presentasi saja masih belum bisa bagus.
5.       Dilihat dari skill olahraga, tak ada olahraga spesifik yang saya kuasai, bahkan memenuhi kualifikasi sekadar bisa pun juga jauh dari cukup. Saya merasa tertekan ketika mayoritas laki-laki di lingkungan akademik saya senang dan bisa olahraga seperti futsal, pingpong, atau tenis meja. Inferior kompleksitas saya semakin menjadi-jadi ketika kaum perempuan pun memiliki skill olahraga yang ternyata tak kalah jago, dari mulai basket sampai bulutangkis.
6.       Melihat dari segi ibadah, cara membaca al-qur’an saya pun masih belum indah untuk didengar. Sudah begitu makhrajnya juga belum benar.Padahal ada orang-orang hebat yang entah mengapa mereka bisa menyeimbangkan antara skill membaca al-qur’an, akademik, dan juga olahraga. Saya tak tahu peran apa yang bisa saya mainkan. Saya tak mau menjadi tuna karya tetapi di sisi lain terlalu inferior untuk menjual bakat, yang mungkin hampir tidak ada yang benar-benar jumawa untuk diperkenalkan.
7.       Saya kemudian menggali lagi dari sisi yang lebih sederhana. Hmm mungkin skill bernyanyi karena hampir di setiap kondisi yang tidak memungkinkan untuk berbuat apapun selain melantunkan lisan saya isi dengan bernyanyi. Kata orang hal yang berulang-ulang dilakukan akan membuat kita ahli akan hal itu bukan? Kenyataanya sama saja, entah karena kurang minta feedback atau tidak ada bakat sama sekali, teknik olah vocal saya masih payah, tambah lagi dengan kecadelan yang menyertai, lengkap sudah. Saya juga sudah berulang kali mengambil gambar dengan kamera hp saya, tetapi sama saja, mungkin saya benar-benar butuh coach agar tau apa yang seharusnya saya lakukan.

Jika sudah begitu ke mana 3 setengah tahun yang telah saya lalui? Skill apa yang bertambah dan berkembang setelah saya menjalani dan melalui berbagai macam hal di kampus ganesa ini? Softskill mana yang benar-benar terbentuk? Saya sangsi itu ada. Tak merasanya ada dampak berarti dalam diri saya mengantarkan saya menjadi pribadi yang pamrih. Saya ingin melakukan sesuatu kalau ada bayarannya, entah itu dalam bentuk honor secara harfiah ataupun sesuatu yang bisa ditulis di CV. Saya mulai mengajukan diri menjadi pengawas ujian ini pengawas ujian anu, dan pekerjaan berprofit lainnya. Idealisme sebagai mahasiswa untuk bergerak tanpa pamrih saya tanggalkan begitu saja. Saya ingin mengikuti ajang-ajang yang bersertifikat seperti seminar, workshop, maupun lomba agar setidaknya ada yang bisa dicantumkan di CV. Saya mulai begitu apatis dengan kegiatan-kegiatan kampus yang tidak menambah poin konkret pada CV saya. Menjadi staf terlalu biasa, tak menarik untuk diceritakan dalam wawancara kerja. Ya sudah saya mulai meninggalkan segala aktivitas kampus yang kurang memberi efek real pada kepribadian saya selain hanya nilai-nilai yang cenderung general, saya fokus saja ke akademik atau kegiatan – kegiatan yang lebih memiliki hasil konkret, seperti honor.

Sebenarnya yang saya tuju itu apa? Betul kata teman saya, saya tidak jelas. Selama ini saya tak membatasi diri dan memberi prioritas terhadap hal-hal apa yang benar-benar menjadi kejaran saya. Akhirnya begini, akademik tak menentu,  kontribusi di organisasi pun tak pernah membuahkan dampak yang benar-benar nyata. Jika saatnya reoni nanti hendak bercerita apa saya nanti? Hendak ke mana saya akan melabuhkan diri untuk kembali karena tak ada hal yang mereka ingat dari saya, rekan-rekan yang pernah terlibat dalam sistem kerja yang sama.

Mungkin selama ini saya terlalu terobsesi untuk menguasai multiskill tanpa memikirkan relevansi dan eksekusinya secara nyata. Kurang mengasah skill-skill itu dengan lebih mendetil. Saya memang tidak fokus, tidak menekuni dan mengembangkan bidang yang sama secara berulang-ulang. Padahal aktualisasi kemampuan diri terbesar diperoleh dari latihan berulang-ulang dengan perbaikan dan terus mencoba segala metode tanpa kenal rasa bosan. Tak lupa meminta saran dan tanggapan dari orang lain, walau konsekuensinya ditolak, dikritik dengan pedas, di-judge dan sebagainya, tetapi itu memang sebuah risiko yang harus diterima apabila diri ingin berkembang. Selalu ada jalan sukar mendaki yang harus ditempuh dengan kesabaran demi perkembangan diri dan selalu ada hal-hal yang harus dikorbankan untuk mencapai tingkat aktualisasi diri tertinggi, entah itu menyangkut perihal waktu, harta, tenaga, pikiran, dan juga harga diri.

Dan mungkin tulisan teman saya yang satu ini ada benarnya Ngga Fokus Euy

Sabtu, 12 November 2016

[Short Post ] Reminder : Ada Mereka -Mereka yang Terhalang...

  Jika  di dunia ini kita merasa begitu inferior, maka berpikirlah. Barangkali saja kita salah mengambil perspektif. Mungkin kita justru adalah orang-orang terpilih yang memiliki 'kekurangan', dan 'kekurangan' itu yang menghalangi kita dari hal yang sia-sia atau tidak bermanfaat.
   Jadi, apa yang menganggumu kawan?
Tak berwajah seganteng paras Maher Zein? Itu tak mengapa. Boleh jadi kalau kita memiliki rupa yang kelewat ganteng, kemungkinan kita mengalami pergaulan yang tidak pantas akan lebih tinggi. Mungkin, kita akan lebih sering pacaran, bergonta-ganti pasangan, atau melakukan yang lebih ekstrem dari itu. Maka syukurilah!
Sulit menjadi orang yang bisa menjadi pusat perhatian? Atau seminimalnya chatnya diwaro dan mendapat like yang cukup banyak ketika mengunggah sesuatu? Yah tidak mengapa juga, barang kali apabila kita menjadi pusat perhatian maka kita akan kehilangan kontrol terhadap diri sendiri. Kita akhirnya cenderung menjadi apa yang orang lain inginkan, terkebiri oleh kehidupan bak kerbau dicocok hidung. Dan lihatlah si penyendiri, yang pendapatnya jarang dilihat orang lain. Ia menemukan dunianya! Ia menyadari betul apa yang ia inginkan dalam hidup. Berkata sesuai naluri yang benar-benar keluar dari hatinya, bukan atas pretensi orang lain, walau dia juga mampu.

Ada banyak alasan yang berupa ketiadaan alasan, untuk kita melakukan sesuatu. Maka buat apa lagi memaksa? Jalanmu dipermudah karena makhluk jahat tak kasat mata sulit memberikanmu alasan untuk bermaksiat. Kau tak punya alasan untuk clubbing, karena ya orang ga peduli juga mau kamu mereguk temaram lampu sepuluh bar untuk terlihat keren atau atas nama solidaritas, kalau mereka bukan teman nongkrongmu. Dan kau pun tak perlu repot-repot mengalami dilema dalam mempertimbangkan hendak menerima atau menolak apabila ada tawaran cinta yang terlalu awal datang kepadamu, karena sampai saat ini ya memang tidak ada yang menawarkannya. Hihi.



Sabtu, 23 Juli 2016

68 Km Menuju Hulu Citarum (Part 1)



Entah ada angin apa tiba-tiba saja pada Kamis malam tanggal 21 Juli 2016, Zulfikar mengajak saya untuk berkelana ke situ cisanti. Awalnya saya biasa saja toh naik motor ini, tapi ketika paginya saya mengecek google maps, alamak ternyata jauhnya itu 68 KM dari Bandung, jalannya bercabang-cabang pula. Sontak saya mencoba meyakinkan teman saya yang mungkin anget-angetan itu, apa benar ia mau pergi ke suatu tempat yang bahkan dilihat dari peta pun lebih banyak gambar urat sungainya ketimbang jalan untuk kendaraannya sendiri. Ternyata teman saya ini beneran mau ke sana, ya sudah saya turuti saja seraya berusaha mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi seperti motor mogok, ban pecah, dan sebagainya yang pernah saya alami bersama teman-teman SMA saya sewaktu pergi ke Pangandaran.

Kemudian diputuskanlah kalo kami akan melewati jalur Ciparay-Pacet, pada saat itu kami belum tahu kalo Situ Cisanti pun bisa ditempuh via Pangalengan. Bensin diisi sampai mentok, mengantisipasi SPBU di kabupaten yang jumlahnya tentu tak sebanyak di kota.

Dengan bermodalkan nekad dan google map (untunglah saya sudah mengisi sampai penuh batere smartphone saya dan kuota internet masih banyak), kami memulai perjalanan yang sarat coba-coba ini. Awal perjalanan tak terlalu mulus, untuk menemukan daerah Buah Batu saja kami harus melalui rute yang tidak biasa dan kami sama sama baru tahu,jalan Dago - jalan Aceh – ngikut angkot Dago-Kelapa yang tahu-tahu menggiring kami ke jalan Riau (itu artinya balik arah) – jalan Gudang Selatan – Jalan Ahmad Yani (agak macet)  – Simpang 5 – Gatot Subroto – Burangrang  dan akhirnya kami pun sampai di Buah Batu.

Kami mengikuti jalan Buah Batu sampai terusan Buah batu, kemudian Siliwangi dan akhirnya Laswi. Di sepanjang jalan Siliwangi –Laswi yang datar, panjang, dan lurus kami disuguhkan pemandangan sawah datar dan juga alam pegunungannya, lumayan menarik.

Tak lama teman saya yang mengemudi mulai mengeluh karena daerah terminal Ciparay belum sampai-sampai juga, barangkali dia akan lebih shock ketika melihat google map yang tengah saya pegang karena icon panah biru dan petanya sudah saya perkecil skalanya dan itu pun masih terlihat jauh dari daerah yang bernama Ciparay.  Saya juga mulai menyesali dan mempertanyakan jangan-jalan jalur yang kami pilih tidak efektif karena harus berjalan horizontal dulu kea rah timur lalu kemudian berbelok ke selatan di daerah Ciparay, entahlah. Saya hanya bisa berdoa dan harap-harap cemas teman saya ini tidak lelah dan mengantuk.

Akhirnya kami sampai di daerah terminal Ciparay. Deretan angkot Tegallega – Ciparay terlihat meramaikan terminal bayangan tersebut, kami langsung belok kanan dan kemudian masuk ke jalan Ciparay lembur awi, yang kalo dilihat di peta pun tak kalah panjang dan lurusnya dengan jalan raya Siliwangi-Laswi-Ciparay, ada dilema yang terlintas karena jalan Ciparay lembur awi ini akan bercabang di daerah Pacet, lantas jalur mana yang harus dipilih? Berhubung jarak Pacet yang menjadi daerah Check point kedua masih sangatlah jauh, saya memutuskan akan memikirkannya nanti setiba di daerah Pacet untuk makan dan shalat Jumat.

Jalan raya Ciparay Lembur Awi yang juga lurus dan panjang tak pelak membuat teman saya dan saya jenuh. Untunglah akhirnya kami bisa sampai juga di jalan Cagak, salah satu bagian dari jalan Ciparay Lembur Awi yang sudah dekat dengan daerah Pacet. Motor kemudian berhenti di sebuah makan padang agar temen saya yang belum sarapan karena telat bangun bisa makan.
Saya juga memutuskan makan karena hari sudah menunjukkan pukul 9. Di sana saya kembali membuka Line. Dalam sebuah grup chat, Fadil, teman Persma sekaligus FTI saya, memberi komentar bahwa perjalanan akan menjadi sangat lama apabila menggunakan kendaraan umum karena harus melalui Pangalengan, untungnya saya dan Zulfikar naik motor dan baru menyadari bahwa kami telah memilih rute tercepat menuju Situ Cisanti, via Ciparay-Pacet, karena ternyata rute via Pangalengan yang disebut Fadil agak jauh memutar.

Kami makan dengan lahap dua tangkup nasi padang beserta lauk masing-masing. Ketika membayar kami sadar bahwa harga yang dipasang cukup murah, hanya 10.000 untuk telor balado, dan 12.000 untuk ayam goreng, dan sajiannya pun juga cukup bersih dan enak, beserta segelas teh hangat yang nikmat, yah mungkin karena ini adalah kabupaten.

Selama makan kami berdiskusi mengenai jalur terbaik yang bisa kami lewati untuk mencapai Situ Cisanti, Zulfikar hanya tertawa ketika saya memperlihatkan rute perjalanan selanjutnya yang ternyata akan sangat berkelok dan juga bercabang, dan juga seakan jauh dari peradaban, akankah kami bisa sampai di Situ Cisanti? Hendak sholat jum'at di manakah kami?

Bersambung....

Mengenai Saya

Foto saya
Pengejar mimpi, pahala, dan kesempatan. Seorang mahasiswa Teknik Fisika ITB 2013 yang menyukai sastra indonesia, psikologi, dan biologi. Pemikir muda yang mudah bosan dengan hal stagnan, serta mengekang kreativitas.