Sabtu, 23 Juli 2016

68 Km Menuju Hulu Citarum (Part 1)



Entah ada angin apa tiba-tiba saja pada Kamis malam tanggal 21 Juli 2016, Zulfikar mengajak saya untuk berkelana ke situ cisanti. Awalnya saya biasa saja toh naik motor ini, tapi ketika paginya saya mengecek google maps, alamak ternyata jauhnya itu 68 KM dari Bandung, jalannya bercabang-cabang pula. Sontak saya mencoba meyakinkan teman saya yang mungkin anget-angetan itu, apa benar ia mau pergi ke suatu tempat yang bahkan dilihat dari peta pun lebih banyak gambar urat sungainya ketimbang jalan untuk kendaraannya sendiri. Ternyata teman saya ini beneran mau ke sana, ya sudah saya turuti saja seraya berusaha mengabaikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi seperti motor mogok, ban pecah, dan sebagainya yang pernah saya alami bersama teman-teman SMA saya sewaktu pergi ke Pangandaran.

Kemudian diputuskanlah kalo kami akan melewati jalur Ciparay-Pacet, pada saat itu kami belum tahu kalo Situ Cisanti pun bisa ditempuh via Pangalengan. Bensin diisi sampai mentok, mengantisipasi SPBU di kabupaten yang jumlahnya tentu tak sebanyak di kota.

Dengan bermodalkan nekad dan google map (untunglah saya sudah mengisi sampai penuh batere smartphone saya dan kuota internet masih banyak), kami memulai perjalanan yang sarat coba-coba ini. Awal perjalanan tak terlalu mulus, untuk menemukan daerah Buah Batu saja kami harus melalui rute yang tidak biasa dan kami sama sama baru tahu,jalan Dago - jalan Aceh – ngikut angkot Dago-Kelapa yang tahu-tahu menggiring kami ke jalan Riau (itu artinya balik arah) – jalan Gudang Selatan – Jalan Ahmad Yani (agak macet)  – Simpang 5 – Gatot Subroto – Burangrang  dan akhirnya kami pun sampai di Buah Batu.

Kami mengikuti jalan Buah Batu sampai terusan Buah batu, kemudian Siliwangi dan akhirnya Laswi. Di sepanjang jalan Siliwangi –Laswi yang datar, panjang, dan lurus kami disuguhkan pemandangan sawah datar dan juga alam pegunungannya, lumayan menarik.

Tak lama teman saya yang mengemudi mulai mengeluh karena daerah terminal Ciparay belum sampai-sampai juga, barangkali dia akan lebih shock ketika melihat google map yang tengah saya pegang karena icon panah biru dan petanya sudah saya perkecil skalanya dan itu pun masih terlihat jauh dari daerah yang bernama Ciparay.  Saya juga mulai menyesali dan mempertanyakan jangan-jalan jalur yang kami pilih tidak efektif karena harus berjalan horizontal dulu kea rah timur lalu kemudian berbelok ke selatan di daerah Ciparay, entahlah. Saya hanya bisa berdoa dan harap-harap cemas teman saya ini tidak lelah dan mengantuk.

Akhirnya kami sampai di daerah terminal Ciparay. Deretan angkot Tegallega – Ciparay terlihat meramaikan terminal bayangan tersebut, kami langsung belok kanan dan kemudian masuk ke jalan Ciparay lembur awi, yang kalo dilihat di peta pun tak kalah panjang dan lurusnya dengan jalan raya Siliwangi-Laswi-Ciparay, ada dilema yang terlintas karena jalan Ciparay lembur awi ini akan bercabang di daerah Pacet, lantas jalur mana yang harus dipilih? Berhubung jarak Pacet yang menjadi daerah Check point kedua masih sangatlah jauh, saya memutuskan akan memikirkannya nanti setiba di daerah Pacet untuk makan dan shalat Jumat.

Jalan raya Ciparay Lembur Awi yang juga lurus dan panjang tak pelak membuat teman saya dan saya jenuh. Untunglah akhirnya kami bisa sampai juga di jalan Cagak, salah satu bagian dari jalan Ciparay Lembur Awi yang sudah dekat dengan daerah Pacet. Motor kemudian berhenti di sebuah makan padang agar temen saya yang belum sarapan karena telat bangun bisa makan.
Saya juga memutuskan makan karena hari sudah menunjukkan pukul 9. Di sana saya kembali membuka Line. Dalam sebuah grup chat, Fadil, teman Persma sekaligus FTI saya, memberi komentar bahwa perjalanan akan menjadi sangat lama apabila menggunakan kendaraan umum karena harus melalui Pangalengan, untungnya saya dan Zulfikar naik motor dan baru menyadari bahwa kami telah memilih rute tercepat menuju Situ Cisanti, via Ciparay-Pacet, karena ternyata rute via Pangalengan yang disebut Fadil agak jauh memutar.

Kami makan dengan lahap dua tangkup nasi padang beserta lauk masing-masing. Ketika membayar kami sadar bahwa harga yang dipasang cukup murah, hanya 10.000 untuk telor balado, dan 12.000 untuk ayam goreng, dan sajiannya pun juga cukup bersih dan enak, beserta segelas teh hangat yang nikmat, yah mungkin karena ini adalah kabupaten.

Selama makan kami berdiskusi mengenai jalur terbaik yang bisa kami lewati untuk mencapai Situ Cisanti, Zulfikar hanya tertawa ketika saya memperlihatkan rute perjalanan selanjutnya yang ternyata akan sangat berkelok dan juga bercabang, dan juga seakan jauh dari peradaban, akankah kami bisa sampai di Situ Cisanti? Hendak sholat jum'at di manakah kami?

Bersambung....

Kamis, 14 Juli 2016

Semester 3 di ITB: Awal Penentuan Karir

Disadur dari wordpress ini

Semester 3 di ITB merupakan sebuah periode yang dapat  menjadi mula malapetaka atau awal dari kegemilangan karir kemahasiswaan seseorang. Layaknya efek domino, langkah pertama yang diambil haruslah tepat karena akan memengaruhi keberlanjutan langkah-langkah selanjutnya, entah itu terhadap hubungan pertemanan, akademik, organisasi, dan juga prestasi.
Ada beberapa wejangan yang mungkin berguna ketika seorang mahasiswa memasuki fase ini.

Yang pertama, Turutilah segala aturan osjur dan ikuti semua prosesnya dengan benar sampai akhir pelantikan.

Kau bilang kau muak dengan segala aturannya yang kau pikir merupakan pembodohan dan membatasi kreativitas. Sedari awal kau menangis lelah dengan segala teriakan beringas yang mengusik fokusmu terhadap kegiatan belajarmu. “Idealismeku menolak keras terhadap segala jenis perploncoan, tak bisakah teman-teman angkatanku untuk menggertak dan menghentikan kegiatan ini?”

Sebelum menolak dan mengukung diri dalam keegosentrisanmu, pikirkanlah sejenak? Apa kau memiliki pilihan lain? Kau bilang “Ya, mungkin nonhim adalah pilihan terbaik.”

Kalau begitu pikirkanlah ini. Seberapa besar perbedaan fasilitas yang didapatkan nonhim dengan mereka yang bergabung dengan himpunan? Tak terlalu besar katamu, hanya soal embargo dari sekre himpunan, dan juga perintilan-perintilan kegiatannya yang menurutmu tak terlalu penting.

Tak terlalu besar? Lantas bagaimana dengan kesempatan dan momen beserta alasan untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman jurusan di angkatanmu? Bagaimana dengan kakak tingkat? Dan juga adik tingkat yang sebentar lagi datang? Hey, jika dirimu selama TPB bukanlah orang yang cukup supel bergaul dengan orang tak dikenal tanpa sebuah alasan terlebih dahulu maka berpikirlah lagi. Barangkali momen ketika osjur dan aktivitas himpunan akan memudahkanmu memiliki alasan bergaul dengan orang-orang itu. Mereka, ya hanya mereka, orang-orang di jurusan,  yang bisa kau tanyakan seputar bagaimana cara menggunakan tabel properti termodinamika, hanya kepada kakak tingkat jurusanlah kamu bisa meminta bocoran kondisi soal-soal ujian tahun lalu, dan kepada adik tingkat jurusanlah kamu bisa bertanya tugas PR yang kau lewatkan ketika bolos mata kuliah yang mengulang.

Lalu kenapa hal ini begitu penting untuk diberi concern lebih di semester 3 ini? Karena penentuannya ada pada semester ini, kau akan bergabung dengan himpunan atau tidak sama sekali. Dan lagi, semester  ini adalah masa-masa krusial untuk memulai dan membina hubungan pertemanan dengan teman-teman di jurusan. Apabila dari awal dirimu dengan mereka sudah tidak akrab, maka sulitlah kalian untuk mengakrabkan diri di semester-semester selanjutnya ketika kubu-kubu sudah terbentuk kaku, mengerak, ibarat lempeng epifise yang sudah menutup dan tidak memungkinkan tulang untuk bertumbuh lagi, seperti itulah kira-kira proses pertemanan di jurusan. Sekali kau melewatkan momen inisiasi pertemanan itu, tahu-tahu kau sudah berada di tengah kumpulan lingkaran pertemanan yang terjalin erat dan sama sekali sulit ditembus oleh mereka-mereka yang dari awal tidak melakukan ‘pendekatan’.

Kau bilang kau tak butuh teman-teman yang begitu akrab di jurusan. Maka pikirkanlah siapa yang akan mengingatkan kekhilafan akan akademikmu di saat semua orang sedang sibuk-sibuknya khawatir dengan diri mereka masing-masing? Kawan-kawanmu  tentunya. Kau bilang sebagaimana di masa sekolah kau akan melewati masa sulit di kuliah dengan gemilang, sendirian, hal itu tak berlaku lagi kawan. Materi kuliah itu sangat banyak dan kompleks. Lima soal yang keluar di ujian hanya bisa kau jawab setelah menamatkan berlembar-lembar banyaknya halaman di buku text yang sangat tebal itu. Tambah lagi setiap tahun soal ujian akan selalu dirombak. Jika sudah begitu, siapa yang tahu informasi  lebih banyak dan lebih tepercaya, dia akan selamat menempuh segala ujian. Karena itulah dibutuhkan banyak informasi sebagai perbandingan. Dan informasi yang akurat tak hanya cukup didapat dari buku dan penjelasan dosen, tetapi juga dari perbincangan dengan teman-teman akrabmu. Kita tak bisa menyerap dan mengingat banyak informasi sekaligus, kita butuh orang lain untuk saling melengkapi dan mengingatkan.

Kalau kau sedari awal enggan mengikuti permainan dan politik pertemanan yang medianya, langsung atau tidak langsung, adalah osjur dan kegiatan himpunan yang menurutmu tak sesuai dengan idealismemu kawan, maka kelak kau akan menemui saat-saat di mana kau merasa sangat sendirian. Mau bertanya tetapi malu karena tak memiliki teman yang cukup dekat. Mau mulai membangun hubungan dengan banyak orang namun semuanya sudah sangat terlambat, di saat kau baru menyadari bahwa kau tidak bisa berjuang sendirian.

Yang kedua, Jagalah indeks akhir akademikmu,  jangan sampai ada yang nilainya BC, C, atau bahkan mengulang.

Selain menutup kesempatanmu meraih gelar cumlaude, indeks yang buruk juga dapat membuat IP mu berada di bawah tiga koma. Lantas di mana letak kegawatannya?

Kerugian atas IP mu yang di bawah tiga koma itu baru akan terlihat ketika kau memiliki beberapa persoalan berikut. Dari aspek biaya, jika kau adalah anggota bidik misi, maka IP mu yang di bawah tiga itu akan menjadi alasan para pemberi dana untuk menghentikan aliran uang untukmu. Karena biasanya syarat untuk mendapatkan dana bidikmisi adalah memiliki prestasi akademik yang bagus.

Lalu, apabila kau bukan bidikmisi dan mungkin biaya UKT mu memiliki nominal yang cukup besar, ada gejolak batin untuk membantu meringankan beban orang tua dan berpikir untuk meng-apply beasiswa. Namun, semua itu cuma jadi keinginan belaka ketika kau tak bisa memenuhi salah satu syaratnya : IPK minimal 3.

Tak hanya soal beasiswa, beberapa kegiatan mahasiswa yang bisa menjadi nilai tambah pada curriculum vitae  terkadang menggunakan syarat IP, contohnya Ganesha Forum Leadership dan juga Program Pertukaran Pelajar ke Jepang.

Selasa, 12 Juli 2016

Hello Guys, I'll Get Married Soon...

Hi everyone... I'm getting married on 17th of June 2016. I know it's sudden, just a small simple event in Bandung. So please don't take it personally if you aren't aware of it. Seeing that it's too all of a sudden and is just few weeks from now, I'm not planning a big wedding but yes it will be a memorable time of my life. I would love it, if you take out time to be a part of it. I will be inviting some family and my closest friends , as the customs say. I'll be mailing out invites soon so I would really appreciate your presence on this day. Please don't worry about bringing any gifts since its on such short notice. Just bring me someone I can get married to, and it's all good to go. Let's see who reads this entire status. I find this hilarious. So before you do anything stupid just shut up and copy paste this to your wall and see how many will fall for it.
Suatu ketika kawan gue yang merupakan sesama badan pengurus suatu unit di ITB, ngeshare tulisan seperti di atas  di linimasa linenya, tepatnya tanggal 7 Juni 2016 pukul 08.06. Dan tebak apa reaksi gue? Betul, gue ga percaya. Menurut gue dia belum cukup mateng untuk memulai biduk rumah tangga di umur segitu karena beberapa alasan: masih ada tanda-tanda kalo dia belum bisa lepas dari orang tuanya, dia masih ngeluh ini itu tentang masalah akademik maupun non-akademiknya. Dan lagi gue udah pernah liat prank-prank senada itu  di line, nampak serius padahal 100% hoax. Akhirnya gue jadi rada-rada apatis plus skeptis sama kabar-kabar serupa seperti,
Aku lelah kuliah, pingin nikah aja.
Ah ya, palingan itu manifestasi keluhan sesaat doang. Gue kemudian menyimpulkan mahasiswa-mahasiswi yang masih kuliah ga bakalan bisa seberani itu buat nikah sebelum kelulusan S1 nya. Bahkan sampai temen gue yang seunit KPA ITB dengan gue ngejokes,
Ada kemungkinan mereka yang memutuskan menikah dini, berarti sudah di....
Bukan apa-apa, itu nunjukkin betapa  beratnya memulai suatu pernikahan,  di saat dia masih punya selaksa kesempatan untuk berbuat banyak hal, masih punya banyak alternatif pilihan dalam hidup, dan masih bisa mengembangkan kualitas diri di masa-masa emasnya.

Tapi keraguan gue terhadap generasi gue ini berubah ketika lagi-lagi salah seorang teman di angkatan SMA, sekonyong-konyong mengirimkan sebuah pesan chat di grup line gue, tepatnya 11 Juli pukul 08.03

Mengenai Saya

Foto saya
Pengejar mimpi, pahala, dan kesempatan. Seorang mahasiswa Teknik Fisika ITB 2013 yang menyukai sastra indonesia, psikologi, dan biologi. Pemikir muda yang mudah bosan dengan hal stagnan, serta mengekang kreativitas.