Kamis, 05 Januari 2017

Berkaca Diri



Saya sedang mencoba mengenali diri sendiri, sudah umur 21 tahun seharusnya saya sudah tau saya orang yang seperti apa, dan cocok mengisi relung di bagian mana.
Beginilah saya, Mahendra yang kata orang saya seringnya memiliki dunianya sendiri yang kerap kurang dipahami oleh mayoritas orang.
Saya memiliki ketertarikan pada banyak hal. Saya suka mencoba sesuatu yang baru. Ditandai dengan mudah bosannya saya berkutat lama-lama pada sesuatu yang sama. Semasa SMP pun saya menggeluti banyak hal dari LCT Agama, Lomba Biologi, dan juga Lomba Membuat Puisi dalam sekali jadi. Saya sadari ini membuat saya kurang bisa total dalam mempelajari sesuatu  terutama untuk meraih juara satu. Saya menjadi kurang mahir pada suatu hal karena mudah beralih dari hal yang satu ke hal lainnya. Kadang ini juga yang membuat saya kurang bisa berkomitmen pada segelintir hal yang bersifat kontrak jangka panjang.
Saya menyukai menulis, dibuktikan dengan blog estafet kehidupan yang sering saya update. Hal yang menurut saya perlu dipoles dan diasah lebih jauh lagi adalah kemampuan nalar dan logika saya dalam menceritakan sesuatu, dan juga wawasan saya yang seharusnya membuat tulisan itu menjadi kaya dan juga netral.
Saya menyukai jalan-jalan, dalam kota maupun luar kota, terutama ke tempat-tempat baru. Hal ini dibuktikan dengan antusiasme saya apabila ada orang yang mengajak  jalan-jalan, saya pasti akan langsung mengiyakan. Akan tetapi, saya juga memiliki kelemahan, mudah capek,mudah berkeringat, dan kurang bisa menggunakan WC umum sehingga saya cenderung lebih menyukai jalan-jalan ala traveler, bukan backpacker.
Saya  cenderung apresiatif terhadap karya orang lain, utamanya seni dan sastra. Dibuktikan dengan saya yang mudah berlama-lama memerhatikan suatu karya yang dipajang. Sebagai mahakarya dari seorang koki, penampilan penyajian makanan pun kerap saya abadikan dalam foto karena saya pikir saya membeli tidak hanya gizi dan rasa dari makanan itu, tetapi juga penampilan penyajiannya.
Saya pelupa dan kurang bisa spontan apabila ada perubahan mendadak. Hal ini menjadikan saya sebagai orang yang bisa siap kalau segalanya sudah direncanakan. Sifat pelupa saya juga mendorong saya untuk membuat check-list dan mengorganisasi segala sesuatunya dalam klasifikasi-klasifikasi tertentu. Akan tetapi, rasa malas kadang menjadi penghambat saya untuk menjadi orang sistematis dan terorganisasi. Mudah melupakan long term memory juga mendorong saya untuk membuat tulisan yang bersifat “Apa yang Saya Dapatkan Hari Ini?” setiap harinya. Akan tetapi, lagi-lagi rasa malas dan kurang bisa memanajemen waktu dan semangat menyebabkan motivasi itu menjadi kendur.
Kira-kira dengan pribadi saya yang seperti di atas, pekerjaan apa yang cocok dan menjadi passion hakiki untuk saya geluti? Saya masih merenungkan jawabannya.


Senin, 02 Januari 2017

Kenapa Harus Sedih Liburan Berakhir Kalau...

1. Di tempat kerjamu ada segudang karya fantastis yang menunggu untuk ditelurkan
Programming ibarat kode misteri yang harus dipecahkan dalam sebuah cerita petualangan. Grafik atau infografis adalah bentuk sederhana dari cara kita menginterpretasikan kompleksitas hidup, ruang bosmu adalah wahana untuk mengolah rasa dan olah suara dengan mengekspresikan kemampuan beraktingmu sebagai manusia ideal. Laporan adalah caramu menghargai dan mengeksplorasi kekayaan pembendaharaan bahasa Indonesia dan juga  meningkatkan skillmu menggunakan word dan excel secara maksimal. Apabila rutinitas kerja telah dijadikan sebagai ritual untuk menghayati dan mengapresiasi hidup maka bukan tidak mungkin tempat kerjamu akan menjadi wahana bermain yang mengasyikan.

2. Obrolanmu tiap hari dengan rekan kerjamu adalah suatu hal filosofis dan inspiratif untuk dicatat.
Manusia adalah makhluk yang kompleks dengan tingkat inteligensi tertinggi dalam taraf kehidupan organisme. Setiap hari orang memiliki berbagai pemikiran baru, istilah baru, cerita baru, dan juga informasi baru. Jika kau konsisten menulis ulang kembali apa yang kau dengar, perbincangkan, atau diskusikan dengan rekan-rekan kantor bukan tak mungkin kau mendapatkan segudang mentahan informasi-informasi berharga yang bisa kau ekstrak menjadi buku nonfiksi bermanfaat.

3. Ada sejuta objek artistik di sekitar tempat kerja yang bisa  menjadi spot ala-ala foto instagrammu yang tak akan bisa tereksplor walau dengan alokasi waktu 6 bulan
Bahagia itu sederhana, tak harus selalu mengeluarkan uang untuk mendapatkan kebahagiaan, tak selalu harus membayar tiket masuk untuk menikmati wahana atau spot yang menyenangkan. Bukalah mata lebih lebar, perhatikan  sekitar, ada selaksa objek di sekitarmu yang bisa jadi latar yang ciamik untuk di-upload ke instagrammu. Dari mulai gaya minimalis, doortrait, tembok hits, sampai abstraksi, kau bisa memanfaatkan potensi artistik objek-objek di sekitar tempatmu bekerja. Cukup dengan berinvestasi untuk membeli kamera manual DSLR yang bagus, maka kau akan merasa seluruh objek di sekitar tempat kerjamu akan menjadi mengasyikan untuk ditelusuri, ada human interest object yang harus dikejar momennya, ada jatuhnya dedaunan yang menarik untuk dijadikan background presentasi pagi ini.

4. Pekerjaanmu adalah hobi yang dibayar
Kenali passionmu, sadari pada kegiatan apa kau merasa tak seorangpun dapat mengganggumu, tak sederajatpun naiknya suhu lingkungan mengusik animomu bergerak dan berkarya atas sesuatu yang kau senangi. Kita bisa melihat bagaimana Ridwan Kamil memaksimalkan pekerjaannya sebagai sarana untuk mengembangkan diri dan terus berkarya. Beliau senang menggambar, mendesain, dan merancang. Imajinasinya membuahkan hasil berupa kemudahan dan kegembiraan bagi masyarakat kota. Sosial media yang biasanya hanya menghabiskan waktu oleh tangan dinginnya mendadak menjadi begitu bermanfaat dan tak henti-hentinya menularkan inspirasi dari sebuah foto sederhana, atapun tweet-tweet pendek yang terkandung misi besar di dalamnya.

5. Kau bisa  membuat satu buah novel chick-lit setiap bulan atau cerita pendek setiap minggu yang bahan-bahannya bisa diambil dari percakapan di kantor maupun berita di televisi pagi hari, ataupun randomitas yang kau lihat sepanjang perjalanan menuju kantor.
Benang kusut derak roda kehidupan sulit untuk diurai karena percabangannya begitu banyak dan posisi titik bifurkasinya begitu random. Kepingan formasi informasi yang menginspirasi yang kau peroleh hari ini akan bersifat unik dan tidak akan pernah kau dapatkan esok hari. Sekelumit kalimat yang kau dengar hari ini tentu akan berbeda sedikit atau banyak terhadap kalimat-kalimat di hari selanjutnya. Urutan kejadian yang terlihat sepanjang perjalanan pasti akan berubah pola keesokan harinya dan hari-hari kemudian, dan belum tentu pula kejadian-kejadian dan objek-objek bergerak hari ini yang kau lihat, dapat kau jumpai lagi keesokan harinya. Bahan cerita untuk novel atau cerpenmu tidak akan pernah habis. Hidup selalu menyuguhkan bahan cerita yang menarik dan inspiratif setiap harinya untuk kita olah menjadi sebuah roman yang sarat nilai kehidupan. Kejadian secara acak dan obrolan singkat yang terjadi setiap saat akan menelurkan rupa cerita yang memiliki kedekatan terhadap orang yang membaca ceritamu. Ceritamu akan lebih terasa hidup karena detil-detil yang kau jabarkan begitu kuat, kental, dan mendalam karena memang yang menjadi inspirasi latar dan penyuasanaan ceritamu adalah objek-objek yang  kau lihat dengan mata kepalamu sendiri.

6. One day two ayat Al-Qur'an
Tua di jalan, lumutan di ruang tunggu, hanyalah keluhan yang dilontarkan bagi mereka yang kurang bisa melihat sisi baik dari waktu kosong yang datang tidak pada tempatnya. Menjadi pengguna angkutan umum merupakan keuntungan tersendiri karena kita tak perlu fokus menyetir dan akhirnya bisa membuka mushaf untuk membaca satu sampai dua ayat dan menghayati maknanya. Menunggu bosmu di ruang tunggu bisa diisi dengan mengingat kembali apakah nilai-nilai kehidupan dari ayat yang kau baca pagi ini sudah kau terapkan di keseharian, jika tidak evaluasi bagaimana agar bisa menjalankannya. Kegabutan menunggu putaran magnetic stirer untuk menyempurnakan larutan bisa kau selingi dengan mengulangi dua ayat yang telah kau baca pagi ini dan merasakan keindahan sastranya.
Jadi, untuk apalagi merasa suram untuk pergi ke kantor esok hari?

[Hari Pertama 2017]

Tidak ada yang terlalu spesial selain menemukan fakta kalau mie kocok depan Mawar Bogor sudah habis menjelang pukul 21.00 WIB dan juga kalau mau transfer dari BRI ke bank lain tidak bisa lebih dari 5.000.000,00 rupiah.

Minggu, 01 Januari 2017

Bermalam Ala Gelandangan di Ibukota

Diambil dari sini



Atas dasar empat alasan, saya dan teman saya sebut saja namanya Gunawan memutuskan untuk tidak ke Bogor dan menginap di rumah saya. Jumat, 30 Desember 2016, sehabis berjalan-jalan ria di ibukota, kami berkelana di kota tua sampai Magrib. Teman kami, sebut saja Budi, sudah kembali ke Bekasi selepas isya. Tinggal kami berdua di stasiun kota dan berencana untuk menikmati hiburan ditemani temaram lampu kota dan menjajal kuliner sepanjang jalan kota tua.

Menjelang malam tahun baru, keadaan di kota tua kian malam kian ramai. Banyak pedagang makanan dan minuman menggelar ponco ataupun tikar di pedestrian untuk menjajakan dagangannya. Sempat terbesit di pikiran Gunawan kalo mereka hanya ingin bisa menginap di ibukota dengan kedok berjualan di ibukota. Hmm, entahlah.  

Sampai jam 8 malam keadaan masih adem ayem saja,kami terpesona dengan hiruk pikuk malam yang disemarakan oleh lampu-lampu kendaraan yang berseliweran, dan juga cahaya kelap-kelip yang berasal dari mainan anak yang diperjualbelikan. Akan tetapi, semakin larut barulah kami sadar ada sesuatu yang penting yang harus segera ditentukan dan didefinisikan. Dan sejurus kemudian kami tersadarkan bahwa menginap di masjid ternyata bukanlah rencana yang bisa diterapkan di semua daerah.

Masjid
Kalau di samping ITB ada Salman, maka di Jakarta nyatanya hidup tak seindah kisah romansa anak kampus di ibukota. Gerbang masjid dekat stasiun sudah dikunci entah sejak kapan, dan di istiqlal ternyata hanya diperbolehkan berdiam diri sampai jam tertentu saja  atau menginap dengan alasan khusus atau momen tertentu untuk menghindari gelandangan yang numpang bermalam.

Menyadari masjid dekat stasiun tak bisa diharapkan dan sudah digembok, kami kemudian berjalan tanpa kepastian, mengikuti pedagang antah berantah yang berjalan mendorong gerobaknya. Ketidakjelasan membawa kami pada pertigaan suatu jalan. Kemudian lagi-lagi kami terpikirkan suatu tempat aman untuk bernaung dari buasnya malam.

Kantor Polisi

“Pak, bolehkah kami menumpang menginap di penjara?”

Terlalu fantastis dan bad ass untuk didengar. Kenyataannya memang kami  tak sepatah katapun mengutarakan keinginan untuk menginap di sana kepada petugas polisi dan tak seujung kukupun kami mendatangi kantor yang terkenal sebagai tempat yang dihindari dan didatangi oleh orang-orang bermasalah itu.  Itu hanya pikiran pasrah dua anak muda yang kalap karena tak menemukan tempat gratis untuk menginap.

Hotel Jalan Kopi

“Kalo mau menginap bisa ke jalan kopi, tapi setau saya tidak ada yang murah kalo di kota tua. Kalau yang murah lebih baik ke daerah Gunung Sahari.”
-Kasir sebuah toko kelontong modern

Yang murah pun palingan juga masih di atas 100 ribu. Kami merasa rugi menginap di hotel hanya semalam saja, kalau malam ini harus menginap di sana seharusnya kami sudah take in dari pagi dan menggunakan segala fasilitas hotel tersebut untuk menepiskan rasa bersalah merogoh kocek agak dalam.

Kos-kosan

Mencari kosan untuk berlibur selama sebulan rasanya normal-normal saja, tapi hanya untuk semalam? oh tidak bahkan, hanya untuk 8 jam? Rasanya sulit dan juga kami malas mengetok-ngetok pintu ibu atau bapak kos yang belum tentu mau mengambil tawaran 20 ribu permalam untuk 1 kamar dari kami.

Pos Ronda

Opsi yang ini sepertinya cukup feasible, dan  sepertinya cukup mengcover salah satu kebutuhan menginap yang paling kami harapkan : aspek keamanan. Setidaknya selama 8 jam kami bisa ronda keliling kampung. Tapi akhirnya ide itu terlalu gokil dan menguras harga diri untuk direalisasikan.

Rumah Salah Satu Penduduk

Entah dikira perampok lungsuran dari PuloMas atau renternir berkedok wajah anak muda kami tak bisa membayangkannya jika kami jadi mengetuk pintu ribuan rumah di daerah ini. Lagi pula siapa orang random di sana yang bisa kami percaya untuk mengantar kami ke rumah yang memang bisa disebut rumah, jangan-jangan kami diajak masuk ke sebuah gang sempit kemudian belok ke tempat gelap, dan akhirnya muncul keluar di surat kabar harian esok pagi.

Hostel

75 ribu permalam di kota Glodok, rasanya wajar. Tapi tunggu, rasanya ini sudah malam dan untuk menginap selama 6 jam dengan biaya 75 ribu? Lagi-lagi kepelitan kami membiaskan semua kekhawatiran menghadapi malam yang kian larut.


Emperan Stasiun

Gratis dan meyakinkan. Setelah pencarian dan pemikiran panjang tak berujung akhirnya kami melabuhkan diri di tempat yang kami rasa cukup aman untuk disinggahi: stasiun kota. Di luar sana mendekati tengah malam keramaian masih tampak di kejauhan, tapi kami tak mau tertipu. Daripada mengambil risiko berjalan-jalan tanpa juntrungan di tengah malam dalam gemerlap kota tua tempat berbagai macam rupa kepentingan saling bermobilisasi, yang bisa jadi banyak serigala malam seperti begal dan preman yang berpura-pura, akan lebih baik berlagak seperti turis yang menunggu dijemput. Caranya ya dengan berdiam diri di stasiun kota.

Kami begitu yakin emperan stasiun bagian dalam akan menjadi tempat yang nyaman untuk bermalam. Berbekal izin untuk menunggu kereta jawa yang datang pukul 4.45 kami berjudi dengan kemungkinan yang akan terjadi. Tepat pukul 10.30 malam, Gunawan dan saya mengambil posisi tidur dengan bersandarkan dinding stasiun ditemani nyamuk-nyamuk yang berkeliaran. Food court-food court sudah pada tutup kecuali salah satu toko kelontong. Perjudian kami  akan ditentukan pada pukul 11.45 malam, ketika kereta terakhir berangkat dari stasiun kota, kalau lewat tengah malam kami tidak diusir berarti menginap di sana memang diperbolehkan.Dan kami akan mendapatkan tempat menginap gratis yang cukup nyaman.

Namun, ibukota memang lebih kejam daripada ibu tiri. Angan-angan untuk mendapatkan tempat bernaung yang aman dan nyaman kandas saat petugas stasiun mulai mensterilkan stasiun dan mendesak kami ke pintu keluar stasiun. Alasan menunggu kereta jawa jam 5 pun urung kami sebutkan.  Lewat tengah malam, akhirnya nasib mengantarkan kami untuk tidur di emperan luar stasiun bersama beberapa rombongan yang sama-sama sial.

Beginilah kami, dengan beralaskan tangga kami mengabaikan papan larangan duduk di tangga stasiun. Terali besi pintu stasiun kota menjadi bantal yang harus disugestikan empuk. Dengan harap-harap cemas saya berharap turis-turis di sekitar kami juga akan menetap di sini bersama kami sampai shubuh karena kalau mereka pergi, kondisi saya dan Gunawan yang hanya berdua saja tentu akan menjadi mangsa empuk bagi orang-orang jahat yang ingin mencari kesempatan .

Malam semakin larut, orang-orang yang terlantar bersama kami di emperan stasiun mulai pergi satu per satu. Dimulai dari rombongan bapak-bapak dan keluarganya yang naik ke mobil yang datang menghampiri mereka, entah memang salah seorang sanak saudara atau layanan kendaraan online saya tak ambil peduli.

Rombongan pendaki yang duduk dekat kami juga akhirnya pergi menembus sisa-sisa keramaian malam, sempat menguping sepertinya mereka telah menemukan tempat menginap dadakan dan berencana memesan uber.

Jam menunjukkan pukul 00.30, menunggu 3 setengah jam di tempat yang mungkin kurang berperikemanusiaan dan sesekali bau pesing ini sepertinya merupakan hal wajar, itu tadinya yang saya pikir. Gunawan sudah terlelap dalam tidur dalam posisi tekuk menekuk yang anggun bersandarkan terali besi, sesekali terbangun untuk mengecek apakah saya mengambil foto gaya  tidurnya yang malang atau tidak dan kemudian tidur lagi.

Kondisi HP saya saat itu tinggal 30%. “Bagaimana ini?” batin saya memikirkan rencana untuk memesan kendaraan online yang dapat mengantarkan kami ke istiqlal shubuh nanti. Jika hape saya mati maka saya dan Gunawan akan lebih lama mendekam di tempat durjana ini. Walhasil hape langsung saya matikan karena di sana juga tidak ada colokan (lagian siapa juga yang berbaik hati memasang colokan di tembok luar stasiun)

HP yang mati dan ketidaktahuan terhadap waktu membuat saya bosan setengah mati. Saya hanya bisa menatap nanar pada temaram lampu kota yang ternyata cukup memusingkan kepala. Abu rokok beterbangan dari segala penjuru, sepertinya memang  tidak akan ada orang baik-baik yang bisa berpikir segila kami untuk bermalam di emperan luar stasiun kota. Mereka tentunya lebih memilih merelakan mengeluarkan uang untuk penginapan terdekat ketimbang menantang kehidupan malam di ibukota demi sekadar menginap gratis.

Perlahan tapi pasti, kami berdua sama-sama mulai mengerti bagaimana rasanya menjadi gelandangan ibukota yang tak memiliki tempat untuk pulang. Saya bersyukur memiliki tempat kembali di Bogor, dan Gunawan mensyukuri ia memiliki tempat berpulang di Bengkulu. Walau semalam saja, pengalaman ini akan terus diingat seumur hidup dan tak ada satupun dari kami yang berniat mengalami untuk kedua kalinya.

Jakarta telah menunjukkan sisi kelamnya yang membentuk karakter keras penduduknya. Sekitar pukul 02.30 dini hari rombongan anak-anak ABG yang semuanya laki-laki sekonyong-konyong mendatangi tangga tempat kami bersandar dan duduk-duduk di sebelah kami. Saya sontak merasa terganggu dan bergeser ke anak tangga sedikit naik ke atas. Keadaan masih normal walau agak mengganggu karena jumlah mereka cukup banyak. Tiba-tiba saja dari kejauhan datang pria berkupluk yang turun dari sebuah bemo biru. Ia mendatangi anak-anak itu dan berbicara tentang sesuatu yang tidak jelas.


“Eh, Ayo sini, ikut.”

Kurang lebih itulah sepatah kata yang saya dengar. Saya tidak mau terlalu memerhatikan dan pura-pura serius menatap lampu kota (yah itu saja yang bisa saya lihat soalnya, apalagi). Di luar sini dan sedini ini tidak aman bertindak sok pahlawan. Lebih baik acuh tak acuh daripada menjadi pahlawan kesiangan di kegelapan malam.

Mendadak saja, salah satu anak di sebelah saya bergeser  tempat dan mendekati saya seraya berseru dengan muka memelas,
“A, tolongin saya A, saya ditodong A”

“Apa sih.” Saya terkesiap dan langsung memasang muka garang. Adrenalin saya memuncak, saya memperbaiki posisi tas dan juga bergeser mendekati Gunawan yang lagi-lagi masih tidur dengan lelapnya bersandarkan terali besi.

Anak itu ikutan bergeser, saya semakin waswas jangan-jangan ini modus pencopetan berkedok korban penodongan, entahlah apa seharusnya. Cuma keamanan saya dan Gunawan yang saya pikirkan. Jangan sampai berbuat bodoh.

Pria berkupluk tak menghiraukan keengganan anak-anak itu. Ia terus saja merayu dan mengajak dengan nada memaksa agar anak-anak itu ikut dengannya. Saya dilema tapi saya tak mau kelihatan terlibat.

“A, nitip tas A.” Anak yang lainnya mejatuhkan tasnya di sisi saya, mungkin karena tak mau tasnya diambil.

“Ngga! Apaan.”  Cetus saya sedikit berteriak. Lagi-lagi saya terpaksa harus berlagak acuh tak acuh dengan nada kesal dan memperketat pegangan tas saya. Gunawan terbangun, hanya untuk memasang tampang heran dan bodo amat, kemudian tidur lagi, bisa-bisanya sleeping beauty tetep tidur di medan perang emang -_-“

Akhirnya setelah beberapa saat pria berkupluk pergi dengan membawa sebagian anak, sementara sebagian yang lainnya mendekati orang-orang lain yang duduk di dekat tiang. Sepertinya mereka memang sedang berada dalam kesulitan. Saya tak terlalu merasa bersalah karena kondisinya saat itu saya memang hanya berdua dengan Gunawan, daripada kami yang kena semprul, ya sudahlah.

Setelah peristiwa aneh dan agak-agak menegangkan itu, saya mulai lebih memerhatikan sekitar. Pria botak berkacamata yang sedang menonton bokep. Sepasang, hmm sepertinya pasutri, dengan tujuan kereta ke Banten, tidur bergantian dan saling pangku memangku begitu so sweet untuk dlihat. Dua orang anak laki-laki yang tidur di blok tanaman dan sedang merokok. Tiga orang yang sepertinya kakak beradik dengan muka yang sama kucelnya dengan anak-anak yang mengaku ditodong tadi. Beberapa bapak-bapak bercelana pendek. Hanya perlu tambahan banci taman lawang untuk memperburuk keadaan. Seketika saya merasa kasihan terhadap teman saya dari Bengkulu ini yang sekalinya ke Jakarta langsung melihat versi undercovernya.

Setelah melalui berbagai pemandangan lalu lalang kendaraan aneh yang menjengahkan mata mulai dari pengendara-pengendara tanpa helm yang saling berpegangan tangan padahal beda motor, koloni motor vespa yang berfoto dan yang memfotonya berdiri di tengah jalan seolah menunjukkan siapa penguasa jalan sesungguhnya dan  mengganggu pengemudi lainnya, sampai aksi ‘mengagumkan’ pengendara berjaket biru yang mengendarai motor hanya dengan satu roda karena roda depannya terangkat, saya yakin Jakarta lewat tengah malam memang gudangnya inspirasi bagi para penulis novel genre hitam. Rasanya seperti melihat realita sesungguhnya dari sinetron anak jalanan dan film The Purge, hanya saja tampang aktornya lebih realistis.

Tak mampu tidur sama sekali, kemudian saya melihat sudah pukul 03.33. Saya memutuskan untuk memesan Go-C*r dan harap-harap cemas agar tidak mendapat pengemudi yang urakan dan membawa pistol seperti yang diberitakan Line Today.  Sempat terpikir siapa pula orang baik-baik yang berkendara jam segini. Tidak adanya pilihan lain membuat saya menekan tombol order dengan tujuan masjid Istiqlal.

Alhamdulillah, dapat satu pengemudi yang akan datang 3 menit lagi. Saya membangunkan Gunawan dari tidurnya yang entah sudah ronde keberapa kali. Ketika mobil pun tiba, saya dan Gunawan kemudian masuk dan diantar seraya melihat wajah jalanan ibu kota yang ternyata masih menyisakan manusia di pinggir jalan. Sekilas saya melihat wanita dengan postur SPG terlihat di kiri jalan, mematung, seperti menunggu sesuatu, terlihat aneh karena posisinya tidak seperti orang yang menanti jemputan dan di sebelahnya ada motor.

Selang beberapa waktu kemudian kami tiba di masjid istiqlal melalui gerbang seberang katedral. Rasanya nikmat bukan main menemukan banyak orang-orang berkopiah dan berkerudung. Sangat jauh berbeda dibanding emperan durjanan tempat kami bernaung dan curiga pada setiap orang yang bermalam di sana.

Setelah itu Gunawan mandi menjelang shubuh, saya tidak mandi karena  ternyata banyak pula orang yang ingin memakai kamar mandi. Usai shalat Shubuh kami tidur dengan lega beralaskan permadani masjid yang empuk, bukan lagi terali besi ataupun emperan tangga stasiun yang kotor. Sekian.



Kilas Balik 2016

-Momen paling berkesan
 Momen tahun ini cukup banyak dan semuanya meninggalkan kesan yang wow. Dari mulai ikut KP, jalan-jalan ke berbagai kabupaten di Bandung demi bisa meng-upload satu foto ala-ala naturegram, maraton game of thrones season 1-5, mengurusi jadwal UTS yang saling tabrakan sampai harus meng-email dosen MRI berkali-kali. Buat saya menjalani semester 6 dan semester 7 di Teknik Fisika juga merupakan momen yang paling berkesan. Sepak terjang akademik begitu kental terasa, yang kadang bikin saya sulit menghelakan nafas. Saya harus berlagak mengerti kontrol otomatik agar mendapat nilai bagus pada mata kuliah proyek rekayasa interdisiplin antara Teknik Fisika, Teknik Kimia, dan Teknik Industri.

Sistem Kontrol pada Ball Mill Krim Chocolatos
[Laporan Mata Kuliah PRID]
Dan lucunya ketidakpahaman saya terhadap sistem kontrol terlihat pada presentasi mata kuliah Instrumentasi dan Kontrol Industri, di saat mata kuliah PRID saya mendapat nilai yang lumayan. Terpaksa menanggalkan ketidaknyamanan saya berinteraksi dengan orang lain pun yang menurut sebagian orang itu biasa adalah suatu momen yang sangat berkesan. Ketika demi selembar nilai di ol.akademik dan juga seberkas kepercayaan, saya harus memosisikan diri sebagai orang yang profesional dan tahu segala yang tidak punya catatan buruk di dunia akademik Teknik Fisika.  Kadang dalam hidup kita harus sepencitraan dan seoptimis itu, karena dengan apalagi kita bisa memberi kebermanfaatan, walau kita tahu belang diri sebenarnya seperti apa, biarlah semesta membantu berkonspirasi dan menutupi kapabilitas kita yang sebenarnya.

-Orang paling berkesan
 Terlalu banyak orang yang melintas di 2016 ini, dari yang menyebalkan, mengharukan, menghibur dan lain sebagainya baik dari teman yang sudah lama kenal ataupun yang baru terjalin hubungan. Akan tetapi, kalau disuruh menentukan maka orang itu adalah Xxx. Dia adalah kombinasi karakter orang-orang berkesan yang mengisi hati saya. Dia wanita atau juga pria. Dia mau menerima kekurangan saya, dan mau mendengarkan segala hal yang keluar dari mulut saya walaupun tidak jelas dan seringkali terkesan tidak penting. Dia mau menghabiskan waktunya bersama saya walaupun saya yakin bersama saya dia tidak terlalu mendapat faedah melainkan sedikit. Dia sering makan bersama saya hanya untuk mengobrolkan soal kehidupan. Orang itu tidak cuma satu, dua, bahkan lebih. Yang jelas akhir tahun ini saya merasa mereka memang orang-orang berharga yang harus saya jaga dan pertahankan. Ketika keadaan sudah begitu gelap dan buntu, mereka mau menuruti atau mengurusi keinginan saya yang tidak penting. Ya, sekali lagi orang yang paling berkesan itu tidak hanya satu, tetapi terdiri atas karakter-karakter yang kebetulan memang kelihatan sisi emasnya di hadapan saya.


-Film paling berkesan
  The Conjuring 2 menurut saya adalah film hantu terkece yang pernah saya tonton. Dari mulai twistnya, jumlah hantunya (ga tanggung-tanggung, ada 4 jenis hantu yang terlibat mulai dari amytiville, hantu suster, hantu pria bengkok, dan hantu pria tua), sampai keromantisan Ed terhadap Lorraine, scene ketika Ed menyanyikan Elvis Presley - Can't Help Falling In Love  dengan gitar coklatnya cukup melekat di ingatan. Menurut saya film ini tak cuma mengagetkan dengan kemunculan hantu-hantunya dan efek musiknya, tetapi juga menyelipkan nilai-nilai kehidupan seperti perjuangan seorang ibu single fighter yang menghidupi tiga orang anaknya, kasih sayang antara dua kekasih yang rela saling berkorban dengan apa saja, dan juga pentingnya kepercayaan untuk menyadari keberadaan sesuatu yang tidak selalu bisa terlihat oleh mata.

Diambil dari sini


-Tempat paling berkesan
Dua bulan kurang menjalani kerja praktik di Batan Bandung merupakan pengalaman yang tidak biasa. Rasanya nano-nano. Senang karena KPnya tidak di tempat terpencil sehingga sehabis kerja saya bisa langsung keluyuran main menikmati fasilitas kota Bandung. Bosan karena setiap jam 7.30 pagi harus datang ke lab yang mirip Laboratorium Kidas di ITB, kemudian termangu ria  menunggu larutan Fe2Cl3 dan ZnCl diaduk oleh magnetic stirer, batere hape mati habislah sudah. Buat saya KP di Batan merupakan perihal ujian kesabaran dan juga soal tanggung jawab. Di sini saya menyadari bahwa untuk bekerja tidak hanya perlu wawasan, tetapi juga keterampilan pada hal-hal teknis. Itupun tidak hanya bisa, tetapi juga harus cepat dan tepat. Bersama Nurul dan Della, dua orang teman saya berasal dari Tanah Minang, kami melaksanakan sebuah project X, bernama "Pembuatan Thin Film menggunakan metode Chemical Bath Deposition".
Jika kalian mengenal saya dari dulu, kalian tentu tahu saya sebenarnya orang yang cenderung pesimis dan juga hanya ingin mencari kesenangan, untuk melakukan project X itu dalam waktu dua bulan tentu merupakan hal yang terdengar sulit bagi saya, belum lagi memikirkan perihal kegagalan yang akan menunggu di akhir waktu, dan tetek bengek pemikiran buruk lainnya yang kerap terbesit. Tapi kemudian voila! Berkat dua orang teman saya dengan semangat optimisme mereka yang saya kagumi, kami bertiga berhasil melaluinya dan menghasilkan bentuk sewujud laporan KP di Batan. Alhamdulillah.


2016 merupakan tahun yang penuh dengan turning point ketika saya harus banting setir melupakan kepribadian saya yang kurang menguntungkan dan fokus melakukan hal terbaik yang saya bisa khususnya di bidang akademik, 2016 adalah saat-saat ketika saya harus mematikan rasa malu, takut, gengsi, dan juga ketidakenakan terhadap sosialitas untuk tetap menghasilkan performa yang baik dan menjaga kepercayaan. 2016 memang tahun yang menantang dan merupakan sebuah estafet kehidupan saya di kampus institut teknologi bandung. Semoga 2017 keadaan akan lebih tenang, karena saya telah lebih siap untuk memprediksi segala kemungkinan, baik dari perubahan jadwal, tuntutan yang mendadak, maupun sesederhana menyelesaikan tugas secara sempurna jauh sebelum badai deadline menghadang. Selamat datang 2017, I beg you!