Postingan

Fisika dan Sosial

Gambar
Sampai sekarang masih ga paham, kenapa seseorang dengan interest yang  sosial banget bisa nyasar di jurusan yang IPA banget seperti ini. Seorang yang lebih suka Bahasa Indonesia nyangsang di jurusan Teknik Fisika yang sudah terkenal ganasnya dalam kurun waktu 60 tahun, yak hampir setengah abad!! Yah mungkin everything happens with a great reason. Daripada terus bertanya dan bertanya layaknya Ariel pada lagunya yang berjudul Kisah Cintaku,"Mengapa terjadi kepada diriku (mu) aku tak percaya~~~ uo uoo," marilah kita lihat saja potensi besar apa yang bisa digali dengan saya berada di jurusan ini.

Yang baru kepikiran sih adalah menjadi ahli sosial yang memecahkan masalah sosial dengan teorema fisika selama kuliah. Mungkin nama pekerjaannya adalah Ahli Fisika Sosial, err punya saran nama yang lebih baik? Misalnya saja cara-cara mencapai kestabilan sistem pada mata kuliah Kontrol Otomatik bisa saya terapkan untuk meng-improve sistem sosial masyarakat ke arah yang lebih baik. Pengar…

“Kak, Cara Biar Bisa Begini Begini Gimana?”

Pertanyaan di atas sering muncul dari seorang newbie yang baru masuk dalam suatu sistem kerja (gada hubungannya sama hukum I Termodinamika).Yang jadi persoalan, bukan apakah cara itu gimana, tetapi apakah cara-cara itu masih layak untuk dilakukan dalam kondisi-kondisi tertentu. Kapan sih kita musti fokus ke output dan kapan musti fokus ke tata cara yang ideal? Mulai satu-satu dulu mungkin ya. Fokus ke tata cara yang ideal biasanya dilakukan karena mengacu sebuah kutipan bijak, temen jurusan saya, Uun, juga pernah menyebut kutipan semangat ini ketika saya udah hopeless banget bakal ngulang suatu mata kuliah yang entah apa namanya.
“Yang penting usaha.” Ya, dengan belajar step by step setidaknya kita meyakinkan diri kita bahwa kerjaan kita ini serius loh, perencanaannya matang, eksekusinya tertib dan rapi, ga sembarangan lah pokoknya. Prinsip ini memang baik untuk kondisi-kondisi yang tidak mepet deadline dan tidak mendesak. Manfaatnya, klien atau siapapun itu yang melihat proses kerja k…

Dua Catatan dari Khutbah Jum'at di Salman

Gambar
Jum’atan di Masjid Salman selalu menawarkan substansi da’wah yang menarik untuk diikuti. Sudah dua kali saya mencoba mencatat isi khutbah dari masing-masing khatib karena dirasa gaya penjelasannya yang begitu bernuansa akademis dan juga banyak menggunakan penjabaran terminologis.

Pada hari Jum’at, 27 Oktober 2017, kutbah diisi oleh Bapak Dr. KH. Agus Syihabuddin, MA, dosen agama ITB. Adapun konten ceramah beliau adalah sebagai berikut.
Dalam surat An-Nahl : 120 terdapat empat penggambaran eksplisit mengenai sifat Nabi Ibrahim as, yang dijuluki sebagai Bapaknya Para Nabi.
Yang pertama, Nabi Ibrahim as bersifat ummat. Ummat secara lughowi merujuk pada masyarakat. Menurut Al- Imam Ibnu Mansyur, ahli leksikal, secara makna, kata ummat menuju pada makna pemimpin yang dijadikan sebagai tumpuan, tujuan, maupun teladan. Begitu pula kedekatannya pada kata ummi yang berarti ibu, yang dijadikan sebagai tumpuan dan teladan bagi anak-anaknya. Kita sebagai umat Islam harus menerapkan sifat ummat

Cerita 2 November 2017

Gambar

Bergerak di Arus Gelombang

Jika dunia adalah perihal keniscayaan, bahwa yang dikejar dengan usaha keras pasti akan diraih, maka semua orang pasti tidak akan pernah berhenti bergerak, karena setiap usaha yang mereka lakukan walau hanya bergeser 5 cm, akan langsung terlihat dampaknya.

Realitanya dunia ini adalah tempat para manusia diuji. Semisal walau dijanjikan setiap manusia memiliki pasangannya, harus tetap gigih mencari jodoh yang dijanjikan itu. Kadang seseorang tak sampai pada umurnya, ada pula yang baru menikah pada usia senjanya, ada juga yang berjodoh namun tak memiliki keturunan. Adalah misteri, yang menjadi tanda tanya besar setiap insan, bagaimana usaha yang memberi hasil itu? Karena kita tahu tak semua orang bisa mencapai mimpinya.
Tapi, di mana letak iman dan ikhlas? Kalau percaya pada kuasa-Nya sudah tak mampu. Bukan, bukan tidak percaya perihal kuasa-Nya, tetapi diri inilah yang terlanjur malu untuk berharap, tak yakin bahwa doa dari seorang yang tersesat akan diijabah.
Keadaan memang tak selalu…

Melapang: Tak Semudah dan Seindah Membaca dalam Cerita

Gambar
Alasan ingin ikut Eka melapang
Hari Sabtu, tanggal 20 Mei 2017, seharusnya saya mengikuti ujian FE, yang mirip-mirip dengan tes kompre sebagai salah satu syarat untuk sidang. Berhubung saya tak bisa mengambil TA 2 di semester pendek dan juga kesiapan yang dirasa masih kurang,agenda itu pun urung saya lakukan. Weekend yang kosong, sepertinya merupakan kesia-siaan jika tidak melakukan suatu hal. Sekitaran jam 8, saya membuka chat di salah satu grup line. Teman saya, Eka, seorang mahasiswa geologi mengajak saya untuk ikut melapang di Lembang, katanya sih cimpi-cimpi di sekitaran daerah The Lodg* Maribaya. Wah, kesempatan yang baik untuk mengetahui dan mendapatkan pembelajaran seperti apa medan yang dilalui seorang anak gea untuk mengambil data sebagai bahan TA-nya, meski tak ada kaitannya sama sekali dengan jurusan saya.
Hambatan perjalanan pulang pergi Kami berpergian ke daerah sekitaran Maribaya-Cibodas, yang katanya terdapat singkapan-singkapan bagus untuk bahan mapping geologinya Eka.…

Melihat Sisi Lain Jatiluhur Dari Bukit Lembu

Gambar
Bukit Lembu merupakan objek wisata alam di daerah Purwakarta, tepatnya di Desa Panyidangan. Agak sedikit menggunakan usaha untuk menuju ke sana karena jarang ada angkutan umum yang melaluinya. Jika tidak punya mobil pribadi atau sewaan, alternatif kendaraan yang bisa digunakan adalah jasa pick up di sekitaran Pasar Anyar Sukatani.

Sebelum sampai di literally kawasan wisata Bukit Lembu, kami sudah harus melalui lika-liku jalan desa yang berkelak-kelok dan sempat cemas berkali-kali mungkin saja ada mobil yang muncul secara mendadak dari berbagai tikungan yang kami lewati. Apalagi saat melalui jalur short cut di Sukatani, mobil kami sempat harus masuk ke halaman rumah warga karena jalannya yang cuma bisa dilalui satu mobil.


Kendaraan yang kami naiki hanya akan dapat mengantarkan sampai tempat pendaftaran pendakian Gunung Lembu, yang ditandai dengan sekawanan lembu atau kerbau di area parkir. Selebihnya harus ditempuh dengan berjalan kaki selama dua jam mendaki, menuruni, dan mendaki b…